Inilah perbedaan sistem offside otomatis antara CBF yang mulai menerapkan di Kejuaraan Sepak Bola Serie A Brasil (ilustrasi kiri) dan yang dipakai FIFA di Piala Dunia. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews – Rio de Janeiro, Brasil
Perangkat tersebut debut pada laga hari ke-20 Kejuaraan Brasil akhir pekan lalu, namun menimbulkan keraguan di kalangan penggemar.
Setelah sebelumnya hanya digunakan di Piala Dunia dan liga-liga besar di Eropa, sistem offside semiotomatis melakukan debutnya di kasta tertinggi Liga Sepak Bola Brasil, yakni Campeonato Brasileiro Serie A (Kejuaraan Brasil), akhir pekan lalu.
Hanya butuh satu putaran bagi teknologi baru ini untuk memicu kontroversi dan memaksa Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) melakukan penyesuaian. Secara total, terdapat lima pemeriksaan, dengan yang paling banyak dibicarakan terjadi dalam laga imbang 1-1 antara CR Flamengo melawan Sao Paulo FC.
Pada laga di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Minggu (26/7/2026) lalu itu, gol penyerang Flamengo Samuel Lino di menit-menit akhir dianulir setelah sistem mendeteksi bahwa rekan setimnya Wallace Yan berada dalam posisi offside pada awal permainan akibat ujung sepatunya (ilustrasi kiri pada foto utama).
Setelah para penggemar mengeluhkan bahwa momen pelepasan operan tidak ditampilkan dalam animasi, CBF memutuskan untuk menampilkannya juga dalam siaran pada putaran-putaran berikutnya guna menghindari ketidakpercayaan, menurut laporan Universo Online (UOL).
“CBF mengklarifikasi bahwa sistem yang digunakan di Brasil beroperasi dengan pengambilan gambar pada kecepatan 100 frame per detik (fps) dan secara otomatis mengidentifikasi momen tepat saat pemain melakukan kontak terakhir dengan bola, yang disebut sebagai titik kontak,” demikian penjelasan perusahaan konten, layanan digital, dan teknologi terbesar di Brasil itu.
Pertanyaan lain pun muncul: mengapa animasinya berbeda dengan yang terlihat di Piala Dunia? Apakah ada sensor di dalam bola yang digunakan dalam Kejuaraan Brasil? Jawabannya sederhana: meskipun memiliki nama dan tujuan yang sama, teknologi offside semiotomatis yang diadopsi oleh CBF tidak sepenuhnya sama dengan milik FIFA.
Perbedaan Teknologi antara CBF dan FIFA
Sistem yang diterapkan oleh CBF dikembangkan oleh Genius Sports dan mengotomatisasi sebagian besar proses yang sebelumnya dilakukan secara manual oleh operator Video Assistant Referee (VAR).
Sebanyak 28 hingga 32 kamera ponsel canggih ditempatkan di 20 stadion yang tercakup dalam program ini. Kamera-kamera tersebut menangkap gambar dengan kecepatan 100 bingkai per detik, sehingga teknologi ini dapat menganalisis pergerakan bola dan memetakan posisi pemain.
Melalui kecerdasan buatan, sistem ini mengidentifikasi garis offside. Tujuannya adalah untuk mengurangi waktu analisis dan menghilangkan intervensi manusia dalam penentuan garis tersebut.
Namun, pada ajang Piala Dunia, prosesnya lebih mendetail. Sistem yang digunakan oleh FIFA, yang dikembangkan oleh Hawk-Eye, menggabungkan pelacakan optik terhadap atlet dengan sensor yang dipasang di dalam bola, yang mampu mengirimkan data posisinya sebanyak 500 kali per detik.
Selain itu, 12 kamera khusus digunakan untuk memantau hingga 29 titik tubuh setiap pemain sebanyak lima puluh kali per detik. Sistem ini memungkinkan identifikasi otomatis tidak hanya terhadap posisi atlet, tetapi juga momen tepat saat bola disentuh oleh pemain terakhir.
Gambar yang Jelas di Layar Raksasa
Justru ketiadaan sensor pada bola itulah yang memicu keluhan di kalangan penggemar setelah pertandingan Flamengo. Selama Piala Dunia, animasi yang ditampilkan dalam siaran menyajikan rekonstruksi tiga dimensi yang mendetail mengenai jalannya permainan, lengkap dengan indikasi akurat mengenai momen operan dan posisi para pemain.
Dalam Kejuaraan Brasil, meskipun terdapat animasi grafis, momen terjadinya kontak tetap ditentukan oleh gambar yang ditangkap kamera, bukan oleh perangkat yang terpasang pada bola—menurut perusahaan yang bertanggung jawab, banyaknya materi visual yang ditangkap dapat mengimbangi hal tersebut.
Posisi para atlet dihitung secara otomatis, namun sistem ini bergantung pada pembacaan optik untuk menentukan bingkai (frame) yang tepat saat operan dilakukan. Gambar yang ditampilkan di layar raksasa pun tidak memperlihatkan momen persis saat operan terjadi, melainkan hanya menampilkan garis-garis yang telah digambar.
Momen Komunikasi VAR
Di Piala Dunia, berkat kecepatan teknologi, asisten wasit mendapatkan informasi secara real-time mengenai ada atau tidaknya posisi offside. Berdasarkan informasi tersebut, mereka akan memutuskan untuk mengangkat bendera atau tidak.
Dalam Kejuaraan Brasil, asisten wasit memiliki wewenang untuk mengambil keputusan di lapangan tanpa bantuan teknologi. Keputusan awal di lapangan tersebut nantinya akan divalidasi atau tidak setelah proses deteksi offside semiotomatis dilakukan.
Apa yang Berubah Dibanding Beberapa Laga-Laga Pekan Sebelumnya?
Bagaimanapun juga, Kejuaraan Brasil telah membuat kemajuan signifikan dibandingkan dengan prosedur VAR yang lama. Sebelumnya, operator harus memilih frame momen operan secara manual dan menempatkan garis pada posisi pemain.
Dengan aturan offside semiotomatis, langkah-langkah itu kini dilakukan secara otomatis, sehingga secara signifikan memangkas waktu peninjauan dan mengurangi risiko kesalahan manusia dalam penentuan garis. Menurut sistem CBF, aturan offside semiotomatis ini memiliki margin kesalahan yang sangat kecil dalam menentukan garis offside, yakni sekitar satu sentimeter.
Selain itu, diharapkan waktu pengambilan keputusan oleh wasit juga akan berkurang. Sistem yang digunakan oleh CBF ini sama dengan sistem yang diterapkan di liga Inggris, Meksiko, dan Belgia.
Di negara-negara tersebut, terdapat pengurangan waktu pengambilan keputusan rata-rata sebesar 33 persen dibandingkan dengan metode penarikan garis tradisional yang dilakukan oleh petugas VAR manusia.
Pihak penyelenggara melaporkan bahwa rata-rata waktu peninjauan untuk lima kejadian dalam laga pekan (matchday) ke-20 Kejuaraan Brasil hanya membutuhkan waktu 47 detik.
Ada yang Tidak Berubah
Terlepas dari adanya otomatisasi, keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Sistem hanya menyajikan data berupa garis offside secara otomatis dan menyajikan informasi tersebut kepada VAR.
Validasi tetap menjadi tanggung jawab VAR, yang kemudian mengomunikasikan keputusan tersebut kepada wasit di lapangan.