TVRINews - Vancouver, Kanada

Ketika tidak ada turnamen sepak bola besar, tingkat ketidakhadiran kerja jangka pendek di Swedia berada di angka 19 persen. Selama Piala Dunia 2026, angkanya melonjak jadi 27 persen.

Demam Piala Dunia 2026 tidak hanya terasa di stadion-stadion Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, atau layar televisi. Di Swedia, euforia turnamen sepak bola terbesar di dunia itu juga berdampak pada dunia kerja. 

Banyak perusahaan bersiap menghadapi meningkatnya jumlah karyawan yang mengambil cuti singkat atau tidak masuk kerja selama kompetisi berlangsung.

Fenomena tersebut didukung oleh analisis yang dirilis Statistics Sweden, badan statistik resmi pemerintah Swedia. 

Berdasarkan kajian terhadap data selama periode 2005 hingga 2025, angka ketidakhadiran kerja jangka pendek meningkat secara signifikan setiap kali berlangsung turnamen sepak bola internasional seperti Piala Dunia atau Piala Eropa.

Swedia memang dikenal sebagai negara dengan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work-life balance) yang baik. Pada musim panas, banyak pekerja sudah memiliki tradisi mengambil libur panjang. 

Tahun ini, dengan Piala Dunia berlangsung pada Juni dan Juli serta banyak pertandingan digelar pada malam hingga dini hari waktu Eropa karena berlangsung di Amerika Utara, sebagian warga diperkirakan memajukan jadwal liburan musim panas mereka atau mengambil cuti tambahan agar bisa mengikuti pertandingan.

Situasi tersebut diperkirakan semakin terasa setelah Timnas Swedia mengawali kiprahnya di Piala Dunia dengan kemenangan telak 5-1 atas Tunisia. 

Hasil itu membuat Swedia sempat memimpin klasemen sementara Grup F sebelum menghadapi Belanda pada laga kedua di Houston, Sabtu (20/6/2026) waktu setempat.

Statistik yang dihimpun Statistics Sweden menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok. Pada pekan-pekan di bulan Juni dan Juli ketika tidak ada turnamen sepak bola besar, tingkat ketidakhadiran kerja jangka pendek berada di angka 19 persen.

Namun ketika berlangsung Piala Dunia atau Piala Eropa, angkanya melonjak menjadi 27 persen.

"Ketidakhadiran kerja jangka pendek mencapai 19 persen pada pekan-pekan di bulan Juni dan Juli ketika tidak ada kejuaraan. Namun angkanya naik menjadi 27 persen pada pekan-pekan saat berlangsung kejuaraan sepak bola," kata ahli statistik Statistics Sweden, Lena Johansson, dalam pernyataan resminya.

Analisis tersebut juga menemukan bahwa peluang seseorang tidak masuk kerja dalam jangka pendek meningkat hingga 57 persen selama pekan berlangsungnya turnamen sepak bola internasional dibandingkan pekan biasa pada Juni dan Juli.

Meski demikian, Johansson menegaskan bahwa tidak seluruh peningkatan ketidakhadiran dapat dikaitkan langsung dengan sepak bola.

"Ketidakhadiran dari pekerjaan selama Piala Eropa atau Piala Dunia tidak bisa sepenuhnya dihubungkan dengan turnamen itu sendiri. Namun, data statistik menunjukkan bahwa peluang seseorang tidak masuk kerja memang meningkat seiring berlangsungnya Piala Eropa maupun Piala Dunia," ujarnya.

Reaksi dari Winger Swedia, Anthony Elanga

Euforia yang melanda masyarakat juga dirasakan langsung oleh para pemain Timnas Swedia. Winger Anthony Elanga, yang tampil sebagai pemain pengganti pada laga melawan Tunisia, mengatakan atmosfer dukungan dari masyarakat begitu luar biasa.

"Benar-benar luar biasa melihat apa yang bisa dilakukan sebuah turnamen untuk Swedia, untuk seluruh rakyat Swedia," ujar Elanga.

"Rasanya sangat menyenangkan melihat semua orang bersatu. Saya juga melihat betapa penting dan besarnya arti sepak bola bagi masyarakat. Semoga kami bisa terus memberikan kebahagiaan kepada negara ini dengan meraih lebih banyak kemenangan," pemain berusia 24 tahun tersebut menambahkan.