TVRINews - Jakarta

Sistem yang memberi kesempatan kepada tim peringkat ketiga terbaik untuk lolos dari fase grup pertama kali digunakan pada Piala Dunia 1986 di Meksiko.

Piala Dunia 2026 menghadirkan format baru dengan 48 peserta, sehingga persaingan untuk lolos ke fase gugur menjadi lebih menarik. Tidak hanya dua tim teratas dari masing-masing 12 grup yang berhak melaju ke babak 32 besar, tetapi juga delapan tim peringkat ketiga terbaik.

Seiring mulai terbentuknya klasemen setelah dua laga pertama di sebagian besar grup, pertanyaan yang mulai muncul adalah: berapa jumlah poin minimum yang dibutuhkan agar sebuah tim bisa lolos ke babak gugur?

Pengalaman untuk menjawab pertanyaan itu memang masih terbatas. Piala Dunia U-17 2025 di Qatar menjadi satu-satunya turnamen FIFA sebelumnya yang menggunakan format 48 tim. 

Namun, sistem yang memberi kesempatan kepada tim peringkat ketiga terbaik sebenarnya sudah lama diterapkan di berbagai turnamen internasional. Format tersebut pertama kali digunakan di Piala Dunia 1986 di Meksiko. 

Saat itu, enam grup yang masing-masing berisi empat tim mengirimkan dua tim teratas serta empat peringkat ketiga terbaik ke babak gugur. Bedanya, kemenangan saat itu masih bernilai dua poin, bukan tiga poin seperti sekarang.

Survei terhadap 38 turnamen FIFA dan kejuaraan antarbenua dengan format 24 tim (yang juga memberikan tiket kepada empat peringkat ketiga terbaik) memberikan gambaran mengenai peluang lolos berdasarkan jumlah poin yang dikumpulkan. Berikut gambarannya, dikutip dari Reuters:

5 Poin: Dijamin Finis di Dua Besar

Sejauh ini belum pernah ada tim yang mengumpulkan lima poin dari tiga pertandingan fase grup tetapi gagal finis di posisi dua besar. Artinya, tim dengan lima poin selalu lolos tanpa harus bergantung pada peringkat ketiga terbaik.

4 Poin: Hampir Selalu Cukup

Empat poin juga merupakan modal yang sangat aman. Dalam catatan berbagai turnamen tersebut, hanya dua kali tim yang finis di posisi ketiga dengan empat poin gagal melaju ke babak gugur, dan keduanya terjadi di Piala Dunia U-20.

Meski demikian, ada beberapa anomali dalam sejarah. Norwegia justru menjadi juru kunci grup pada Piala Dunia 1994 meski mengoleksi empat poin. Hal serupa dialami Ukraina pada Piala Eropa 2024 di Jerman, ketika mereka juga finis terbawah meski memiliki empat angka.

3 Poin: Bergantung Selisih Gol

Peluang tim dengan tiga poin untuk lolos berada sedikit di bawah 50 persen. Namun, hampir semua tim yang berhasil melaju dengan tiga poin memiliki selisih gol positif.

Sebaliknya, tiga poin dengan selisih gol negatif membuat peluang lolos turun drastis, bahkan kurang dari sepertiga.

Salah satu kasus paling unik terjadi pada Piala Dunia U-20 2019. Norwegia gagal lolos meski memiliki selisih gol +8, berkat kemenangan telak 12-0 atas Honduras. Dalam laga itu, Erling Haaland mencetak sembilan gol, tetapi hasil tersebut tetap tidak cukup membawa Norwegia ke fase gugur.

Sementara itu, pada Piala Dunia U-17 2025 di Qatar yang menggunakan format 48 tim, empat dari enam tim peringkat ketiga yang mengumpulkan tiga poin berhasil melaju ke babak berikutnya.

2 Poin: Peluang Sangat Tipis

Mengoleksi dua poin hampir selalu berarti tersingkir. Dari seluruh turnamen yang disurvei dengan sistem tiga poin untuk kemenangan, hanya dua kali sebuah tim berhasil finis sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik dengan dua poin.

Kasus terbaru terjadi pada Piala Afrika 2025 di Maroko, ketika Tanzania berhasil melangkah ke fase gugur meski hanya mengumpulkan dua angka dari tiga pertandingan.

Melihat data historis tersebut, empat poin tampaknya akan menjadi target yang relatif aman bagi tim-tim yang ingin mengamankan tiket ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Sementara itu, tiga poin masih membuka peluang, tetapi nasib tim akan sangat ditentukan oleh selisih gol dan hasil pertandingan di grup-grup lain.