TVRINews - London, Inggris

Fenomena bola turnamen yang kontroversial ini bukan hal baru, setelah sebelumnya terjadi pada Jabulani 2010 dan Al Rihla 2022.

Adidas Trionda yang menjadi bola resmi Piala Dunia 2026 mulai mendapat kritik tajam karena pergerakannya yang dinilai aneh di udara. Karakteristik laju si kulit bulat tersebut bahkan bisa berubah drastis, tergantung pada kondisi cuaca di dalam stadion tempat laga dimainkan.

Para pakar penjaga gawang menyebut bola ini terasa melesat lebih cepat daripada yang seharusnya. Dampaknya, fenomena ini memicu lonjakan gol jarak jauh atau membuat kiper gagal menangkap bola tendangan jauh dengan sempurna hingga berujung gol sontekan mudah.

Lionel Messi sukses mencetak masing-masing gol lewat skema tersebut saat mengemas hat-trick dalam laga pembuka Argentina kontra Aljazair. Namun, ia bukan satu-satunya pemain yang mencetak gol dari luar kotak penalti, karena Yasin Ayari dari Swedia juga melakukannya dua kali saat melawan Tunisia.

Selain mereka, ada Nathan Saliba dari Kanada yang mencetak gol via tendangan bebas ke gawang Qatar. Kylian Mbappe pun turut melepaskan tembakan keras untuk gol ketiga Prancis ke gawang Senegal, di antara beberapa pemain lainnya.

Pihak Adidas menjelaskan bola ini diproduksi menggunakan empat panel poliuretan yang disatukan melalui metode termal. Jumlah tersebut menjadi catatan panel paling sedikit sepanjang sejarah bola Piala Dunia, dengan permukaan bertekstur yang diklaim mampu meningkatkan stabilitas terbang, efek melengkung, serta daya cengkeram saat kondisi basah.

Meski demikian, inovasi tersebut tampaknya justru memberikan dampak yang sebaliknya di atas lapangan dalam beberapa momen. Tembakan tinggi dan bertenaga secara khusus menarik perhatian mantan penjaga gawang tim nasional Inggris, Joe Hart, seperti gol yang dilesakkan Martin Baturina ke gawang skuad Tiga Singa.

Cara terbang bola yang tidak biasa ini terbukti mengacaukan fokus para penjaga gawang. Mereka kerap salah mengambil keputusan serta kehilangan momentum yang tepat saat harus bereaksi menghalau bola.

"Saya menyadarinya pada bola-bola atas di pertandingan ini, saya sejujurnya merasa bola ini mengarah ke arah kiper jauh lebih cepat daripada perkiraan mereka saat bola baru meninggalkan kaki," ujar Hart saat bertugas sebagai pandit di BBC. 

"Sekarang apa yang Anda sadari dari momen ini adalah Jordan Pickford terbang menghalau bola. Anda akan bertanya mengapa dia menghalau dengan jempolnya dan bukan dengan telapak tangan? Itu karena dia merasa bola tiba-tiba sudah berada di dekatnya," Hart melanjutkan.

Hart juga menyoroti gol Mbappe ke gawang kiper Senegal, Edouard Mendy, pada awal Piala Dunia 2026. Menurutnya, Mendy terlambat bergerak karena kesulitan menentukan arah bola ke mana.

"Saat bola meninggalkan kakinya, itu adalah sebuah tembakan yang bagus, tentu saja, tetapi Edouard Mendy adalah seorang juara Liga Champions dan dia sama sekali tidak sempat mengangkat tangannya, dia kehilangan momentum," ucapnya.

"Saya semakin sering menyadarinya pada skema bola-bola atas. Padahal mereka ini adalah para penjaga gawang kelas dunia yang tampil di level Piala Dunia," ia menambahkan.

Kemudian Hart beralih membahas gol pertama Messi ke gawang Aljazair melalui tembakan luar kotak penalti yang melengkung tajam ke pojok atas. Lagi-lagi kiper Luca Zidane, putra dari legenda Prancis Zinedine Zidane, tampak bereaksi dalam gerakan lambat.

"Saat bola meninggalkan kakinya, itu bukanlah sebuah tembakan yang sangat luar biasa. Itu tembakan yang bagus, tetapi Luca Zidane sebenarnya sangat mampu untuk menyelamatkan bola tersebut," tuturnya. 

"Namun sekali lagi, dia tidak mendapatkan momentum waktu yang tepat. Bola seolah-olah sudah menyergapnya sebelum dia sempat mengangkat tangan ke posisi yang benar. Dia akhirnya hanya mendorong bola itu daripada menepisnya ke atas mistar gawang."

"Saya rasa seiring berjalannya turnamen dan para pemain mulai terbiasa dengan atmosfer serta kecepatan bola, khususnya bola-bola spesifik Piala Dunia ini, kita akan melihat tembakan-tembakan seperti itu bisa diselamatkan."

Kontroversi mengenai bola resmi yang digunakan dalam Piala Dunia sebenarnya bukanlah hal baru. Desain bola 2010, Adidas Jabulani, menjadi salah satu si kulit bulat yang paling diingat dalam sejarah.

Desain delapan panelnya kala itu dibuat dengan tujuan agar bola berbentuk bulat sempurna. Namun, hasilnya justru terlalu mulus dan membuat arah terbang bola berbelok secara tidak terduga di udara.

Sementara itu, bola Piala Dunia 2022 di Qatar, Adidas Al Rihla, dinilai terlalu ringan oleh para pemain. Karakter tersebut membuatnya rentan terbang lebih tinggi dan lebih jauh daripada perkiraan semula.

Waktu yang akan menjawab apakah para penjaga gawang bisa segera beradaptasi dengan karakter bola baru ini. Jika tidak, para penyerang dipastikan melihat hal ini sebagai peluang untuk melepaskan lebih banyak tembakan jarak jauh demi mengecoh mereka.