Prancis menghadapi Kroasia pada final Piala Dunia 2018 yang digelar di Stadion Luzhniki, Moskow, 15 Juli 2018. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Moskow, Rusia
Final Piala Dunia 2018 mencatatkan sejarah sebagai salah satu partai puncak paling produktif dengan enam gol.
Stadion Luzhniki di Moskow menjadi saksi bisu ketika langit Rusia tumpah membasahi bumi pada 15 Juli 2018, menandai akhir dari sebuah perjalanan panjang turnamen sepak bola paling bergengsi sejagat raya. Dua kutub sepak bola yang berbeda dipertemukan dalam sebuah partai puncak Piala Dunia 2018 antara Prancis lawan Kroasia.
Prancis datang dengan ambisi mengulang kejayaan dua dekade silam. Sementara Kroasia membawa mimpi seluruh rakyatnya yang baru pertama kali merasakan atmosfer final.
Pertandingan dimulai dengan intensitas tinggi, Kroasia, yang dipimpin oleh sang dirigen Luka Modric, langsung mengambil inisiatif serangan dengan penguasaan bola yang dominan. Mereka menekan pertahanan Prancis sejak menit awal, memaksa barisan belakang Les Bleus yang dikomandoi Raphael Varane untuk bekerja ekstra keras menghalau setiap tusukan dari sisi sayap.
Drama pembuka terjadi pada menit ke-18 ketika Antoine Griezmann melepaskan tendangan bebas melengkung yang sangat tajam ke jantung pertahanan Kroasia. Mario Mandzukic, yang berniat menghalau bola, justru melakukan sundulan yang mengarahkan si kulit bundar masuk ke gawangnya sendiri tanpa mampu dijangkau Danijel Subasic.
Gol bunuh diri pertama dalam sejarah final Piala Dunia ini sempat membungkam pendukung Kroasia. Namun, mentalitas baja tim asuhan Zlatko Dalic segera terlihat saat mereka bangkit mencari celah.
Sepuluh menit berselang, Stadion Luzhniki bergemuruh saat Ivan Perisic melepaskan tembakan roket kaki kiri dari dalam kotak penalti setelah menerima umpan sundulan Domagoj Vida. Bola meluncur deras tanpa bisa dihalau oleh Hugo Lloris, mengubah papan skor menjadi imbang dan menghidupkan kembali asa Vatreni untuk menciptakan sejarah baru.
Kegembiraan Kroasia tidak bertahan lama karena sebuah insiden di kotak terlarang kembali mengubah arah angin pertandingan menuju kubu lawan melalui keputusan yang dramatis. Wasit Nestor Pitana meninjau layar VAR setelah adanya dugaan pelanggaran handball yang dilakukan oleh Ivan Perisic di area sensitif tersebut saat mengantisipasi tendangan sudut.
Setelah pengamatan yang cukup lama, titik putih akhirnya ditunjuk, memberikan kesempatan emas bagi Prancis untuk kembali memimpin jalannya laga yang kian memanas. Antoine Griezmann maju sebagai algojo dan dengan ketenangan luar biasa dengan mengecoh Subasic untuk membawa Prancis unggul tipis sebelum wasit meniup peluit tanda berakhirnya babak pertama.
Memasuki babak kedua, Kroasia mencoba mengulang pola serangan mereka dengan menekan garis pertahanan Prancis, namun energi mereka mulai terlihat terkuras setelah melalui tiga laga sebelumnya dengan babak perpanjangan waktu. Prancis yang bermain lebih pragmatis justru mampu mengeksploitasi celah di lini tengah Kroasia melalui transisi serangan balik yang sangat cepat dan mematikan.
Pada menit ke-59, sebuah skema serangan balik yang rapi berakhir di kaki Paul Pogba yang berdiri bebas di depan kotak penalti lawan. Tembakan pertamanya sempat membentur pemain bertahan, namun bola liar kembali ke kakinya dan ia segera melepaskan sepakan melengkung yang bersarang tepat di sudut gawang.
Gol ini seolah meruntuhkan kepercayaan diri para pemain Kroasia yang mulai kesulitan mengimbangi kecepatan lari para pemain muda Prancis di sisa waktu pertandingan yang ada. Belum sempat Kroasia menata kembali koordinasi pertahanan mereka, bocah ajaib Kylian Mbappe menunjukkan kelasnya sebagai salah satu talenta terbaik dunia saat ini.
Menerima umpan dari Lucas Hernandez, Mbappe melepaskan tendangan mendatar dari luar kotak penalti yang menembus jaring gawang Subasic pada menit ke-65. Gol tersebut menjadikannya pemain muda pertama setelah Pele yang mampu mencatatkan namanya di papan skor partai final Piala Dunia, sebuah pencapaian yang sangat monumental bagi kariernya.
Skor 4-1 membuat Prancis berada di atas angin dan mulai menurunkan tempo permainan untuk menjaga keunggulan yang sudah cukup aman. Hanya saja, sebuah keteledoran dilakukan oleh kapten sekaligus penjaga gawang Hugo Lloris saat mencoba memainkan bola di area kecil gawangnya sendiri. Mario Mandzukic yang gigih melakukan tekanan berhasil merebut bola dari kaki Lloris dan menceploskannya ke gawang kosong, memperkecil ketertinggalan menjadi 4-2 pada menit ke-69 pertandingan.
Gol tersebut sempat memberikan secercah harapan bagi publik Kroasia yang berharap adanya keajaiban di menit-menit akhir seperti yang dilakukan di babak gugur sebelumnya. Mereka terus menggempur pertahanan Prancis melalui umpan-umpan silang dan penetrasi individu, namun koordinasi lini belakang Les Bleus kali ini sangat disiplin dan rapat. N'Golo Kante dan Blaise Matuidi bekerja tanpa lelah memotong setiap alur bola yang mencoba masuk ke zona berbahaya di depan gawang mereka.
Waktu terus bergulir dan hujan badai mulai mengguyur Moskow, menambah dramatis suasana di tengah lapangan hijau yang makin licin bagi kedua tim. Kroasia mulai kehabisan ide untuk menembus tembok kokoh yang dibangun Didier Deschamps, sementara Prancis tetap mengancam lewat serangan balik kilat Mbappe.
Ketika peluit panjang akhirnya berbunyi, seluruh pemain cadangan Prancis berlari ke tengah lapangan untuk merayakan keberhasilan mereka merengkuh trofi emas kedua. Kegembiraan meledak di seluruh penjuru Prancis, sementara para pemain Kroasia tertunduk lesu di atas rumput, meratapi kegagalan di langkah terakhir menuju singgasana juara. Meski kalah, Kroasia pulang dengan kepala tegak karena telah memberikan perlawanan paling berani yang pernah disaksikan dalam sebuah laga final Piala Dunia selama beberapa dekade.
Penyerahan trofi dilakukan di tengah hujan deras yang seolah menyatukan air mata kesedihan Kroasia dan air mata kebahagiaan para penggawa Prancis di podium juara. Luka Modric secara resmi dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen, sebuah gelar hiburan yang menunjukkan betapa besarnya pengaruh sang kapten bagi timnya meski gagal juara.
Didier Deschamps mencatatkan sejarah emas dengan menjadi orang ketiga yang mampu menjuarai Piala Dunia baik sebagai pemain maupun pelatih tim nasional. Keberhasilannya meramu bakat-bakat muda dengan pemain senior yang berpengalaman terbukti menjadi formula yang sangat ampuh dalam menaklukkan lawan-lawan berat.
Prancis menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya tentang keindahan bermain, melainkan tentang efektivitas dan mentalitas untuk memenangkan pertandingan di saat-saat yang paling krusial. Bagi Kroasia, pencapaian hingga ke babak final adalah sebuah prestasi luar biasa bagi negara kecil dengan populasi yang tidak lebih dari empat juta jiwa.
Luzhniki 2018 akan selalu diingat sebagai final yang produktif dengan terciptanya enam gol, jumlah yang jarang terjadi di partai puncak karena biasanya berlangsung sangat tertutup. Setiap gol yang tercipta memiliki ceritanya sendiri, mulai dari kesalahan fatal, tendangan roket, hingga aksi individu brilian dari para pemain bintang dunia. Penonton disuguhkan tontonan yang sangat menghibur sekaligus emosional, sebuah paket lengkap yang menjadikan sepak bola sebagai olahraga paling populer di muka bumi.
Prancis telah resmi menyematkan bintang kedua di atas logo ayam jantan mereka, menandai era baru dominasi Les Bleus di kancah internasional. Sementara itu, Kroasia telah menanamkan inspirasi bagi negara-negara non-unggulan lainnya mimpi besar untuk melangkah ke final Piala Dunia bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.