Timnas Aljazair, kontestan Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews – Aljir, Aljazair
Tim Nasional Aljazair datang ke Piala Dunia 2026 dengan kemampuan untuk menyingkirkan skuad raksasa.
Memang tidak salah jika Tim Nasional Sepak Bola Aljazair yang dijuluki Les Fennecs (Fennec Foxes’ atau Rubah Fennec). Meskipun menjadi rubah paling kecil di dunia, binatang yang banyak ditemui di Gurun Sahara dan Afrika Utara itu dikenal sangat lincah, hidup berkelompok, memiliki insting pertahanan kuat, dan tangguh.
Seperti Rubah Fennec yang terkenal tidak takut kepada siapapun, Timnas Aljazair akan datang ke Piala Dunia 2026 dengan potensi pembunuh tim raksasa menyusul apa yang sudah mereka perlihatkan di turnamen-turnamen serupa, sebelumnya.
Turnamen di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko, yang akan dimulai 11 Juni mendatang itu akan menjadi Piala Dunia kelima bagi Fennec Foxes’ atau yang pertama sejak 2014, saat mereka menorehkan performa impresif.
Aljazair membuat debut Piala Dunia pada 1982 di Spanyol. Saat itu, Rubah Fennec dimotori oleh Mahieddine Khalef, Rachid Mekhloufi, dan penyerang muda Rabah Madjer.
Tergabung dalam Grup 2 bersama Jerman Barat, Austria, dan Cili, Aljazair nyaris lolos ke babak kedua. Sebagai salah satu kejutan terbesar di turnamen, Aljazair mencatatkan kemenangan 2-1 yang tak terlupakan atas juara bertahan Eropa, Jerman Barat, dan menghantam Cile 3-2 di pertandingan terakhir babak penyisihan grup.
Kekalahan 0-2 melawan Austria di pertandingan kedua sejatinya masih bisa membuat Aljazair lolos ke babak kedua jika pertandingan yang kemudian dikenal dengan “The Disgrace of Gijon” tidak terjadi.
Laga terakhir Grup 2 antara Jerman Barat melawan Austria di Estadio El Molinon, Gijon, digelar pada 25 Juni 1982 atau sehari setelah Aljazair meredam Cile.
Kedua tim tahu jika Jerman Barat menang dengan satu atau dua gol maka Die Mannschaft dan Austria akan sama-sama maju ke babak kedua karena memiliki selisih gol yang lebih baik daripada Aljazair (0).
Setelah Jerman Barat mencetak gol pada menit ke-10, pertandingan berjalan tidak serius. Baik Jerman Barat maupun Austria terlihat sama-sama tidak mau berusaha mencetak gol. Penonton kesal dan pers kemudian menamai laga itu “The Grace of Gijon”.
Jerman Barat akhirnya memenangi grup berkat unggul selisih gol (+3) atas Austria (+2). Aljazair kendati memiliki poin yang sama dengan kedua tim itu, 4, akhirnya hanya berada di peringkat ketiga dan tersingkir karena tidak memiliki selisih gol (0).
Setelah insiden itu, FIFA mengubah aturan di Piala Dunia berikutnya dengan pertandingan terakhir digelar di waktu yang sama untuk mengurangi upaya “main mata” atau pengaturan skor.
Pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, Aljazair tergabung bersama Brasil, Spanyol, dan Irlandia Utara di Grup D, dan mereka finis di urutan keempat tanpa meraih kemenangan di turnamen tersebut.
Setelah bermain imbang 1-1 dengan Irlandia Utara di pertandingan pertama, Aljazair kemudian mencatatkan kekalahan 0-1 dari Brasil sebelum menderita kekalahan telak 0-3 dari Spanyol di pertandingan ketiga.
Ketika Piala Dunia digelar di Afrika Selatan pada tahun 2010, Aljazair sekali lagi finis terakhir di Grup C, di bawah Amerika Serikat, Inggris, dan Slovenia. Sekali lagi, tanpa kemenangan, kekalahan dari Slovenia dan Amerika Serikat akhirnya menyebabkan Rubah Fennec tersingkir.
Sebelum 2026 ini, Aljazair terakhir kali tampil di Piala Dunia pada tahun 2014 di Brasil. Di sana mereka berhasil merebut hati banyak pendukung Afrika yang menyaksikan mereka menghadapi ujian berat melawan Belgia, Rusia, dan Korea Selatan di Grup H.
Menghadapi tim Belgia yang bertabur bintang di pertandingan pertama, Aljazair memulai kampanye mereka dengan kekalahan 1-2 karena gol dari Marouane Fellaini dan Dries Mertens.
Aljazair kemudian merespons pada pertandingan kedua dengan kemenangan impresif 4-2 atas Korea Selatan yang diperkuat Son Heung Min. Rubah Fennec bahkan mampu unggul 3-0 di babak pertama dengan gol-gol dari Islam Slimani, Rafik Halliche, dan Abdelmoumene Djabou.
Tiket ke fase gugur awal dipastikan Aljazair setelah bermain imbang 1-1 dengan Rusia di pertandingan terakhir Grup H, dan Jerman – yang kemudian menjadi juara – sudah menanti di babak 16 besar.
Jerman membutuhkan perpanjangan waktu untuk mengalahkan tim Afrika yang penuh semangat tersebut, sebelum Andre Schurrle dan Mesut Ozil mencetak gol masing-masing pada menit ke-92 dan ke-120 untuk mencatat kemenangan 2-1 di Estadio Beira-Rico.
Gol dari Abdelmoumene Djabou di waktu tambahan menjadi gol hiburan setelah salah satu pertandingan paling intens di turnamen tersebut.
Kini, Aljazair tengah memusatkan fokus perhatian mereka ke Grup J di Piala Dunia 2026. Di grup itu mereka akan bertemu dengan Yordania, Austria, dan juara bertahan Piala Dunia, Argentina.
Tim Rubah Fennec dijadwalkan menghadapi Austria dalam pertandingan pembuka mereka pada 28 Juni di Kansas City Stadium, AS, mulai pukul 09.00 WIB.