Hajime Moriyasu, menilai Jepang layak mencapai perempat final Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Tokyo, Jepang
Moriyasu sangat diuntungkan karena separuh pemainnya merupakan alumni Piala Dunia 2022 yang pernah menumbangkan Jerman dan Spanyol.
Pelatih tim nasional Jepang, Hajime Moriyasu, menatap penuh percaya diri Piala Dunia 2026. Ia yakin anak asuhnya bisa berbicara banyak meski tanpa kehadiran Kaoru Mitoma yang mengalami cedera parah.
Mitoma dipastikan harus mengubur impian besarnya tampil di panggung tertinggi sepak bola akibat menderita cedera otot paha belakang. Ironisnya, musibah tersebut menimpanya kurang dari sepekan sebelum Moriyasu merilis daftar resmi 26 nama pemain yang diboyongnya untuk Piala Dunia 2026.
Sepanjang sejarah keikutsertaan dalam turnamen sepak bola paling bergengsi tersebut, langkah terjauh Jepang hanya sampai pada babak 16 besar. Namun, status mereka sebagai tim pertama yang lolos dari fase kualifikasi serta rentetan hasil positif baru-baru ini membuat rasa percaya diri tim melambung sangat tinggi menghadapi persaingan di Piala Dunia 2026
Jepang menempati Grup F bersama Belanda, Swedia, dan Tunisia. Langkah awal mereka untuk membuktikan kualitas di turnamen akbar ini akan dimulai dengan menghadapi Belanda di Dallas pada 14 Juni mendatang.
Meskipun absennya Mitoma yang merupakan salah satu senjata paling mematikan di lini serang Jepang, Moriyasu tidak perlu terlalu berkecil hati. Ia masih memiliki kedalaman skuad yang sangat mewah dan sarat akan pengalaman berkompetisi di liga-liga top Eropa.
"Tahun lalu kami menghadapi Brasil dalam sebuah laga uji coba dan berhasil mengalahkan mereka untuk pertama kalinya, padahal saat itu Mitoma juga tidak bisa bermain. Hal tersebut mencerminkan konsep tim kami, yakni siapa pun yang masuk ke dalam line-up utama, performa tim akan tetap terjaga di level tertinggi," kata Moriyasu dikutip dari Japan Today.
Dalam laga emosional di Tokyo pada Oktober lalu, Jepang secara luar biasa bangkit dari tertinggal dua gol di babak pertama untuk membungkam Brasil dengan skor 3-2. Hasil dramatis tersebut menjadi kemenangan perdana dalam sejarah sepak bola Jepang atas sang pemilik lima gelar juara dunia itu.
Kejutan luar biasa dari Jepang tidak berhenti sampai di situ saja karena mereka kembali mengukir sejarah pada Maret 2026. Jepang sukses menjadi tim Asia pertama yang menaklukkan Inggris di Stadion Wembley berkat kemenangan tipis 1-0.
Dalam dua laga tersebut, Moriyasu menurunkan 11 pemain pertama yang seluruhnya merumput di klub-klub Eropa. Dominasi pemain rantau ini sangat terlihat karena hanya ada tiga nama dari kompetisi domestik J-League yang masuk ke dalam skuad Piala Dunia kali ini.
Moriyasu sangat percaya kedalaman materi pemain yang dimiliki saat ini merupakan yang terbaik sepanjang sejarah sepak bola Jepang. Fleksibilitas serta pemahaman taktik yang matang diyakini mampu membuat anak asuhnya beradaptasi dengan cepat melawan gaya bermain tim mana pun.
"Tentu saja para pemain sangat gembira ketika kami berhasil mengalahkan Brasil dan Inggris, dua tim raksasa yang belum pernah kami kalahkan sebelumnya. Namun, saya merasakan atmosfer di mana para pemain bisa dengan cepat mengalihkan fokus mereka demi mengejar target yang jauh lebih besar di depan," ucapnya.
Cederanya Mitoma tetap menjadi pukulan telak mengingat pemain berusia 28 tahun itu sedang berada di puncak performa sebelum petaka itu datang. Kehilangan ini sangat disayangkan karena kontribusi magisnya sangat dinantikan publik setelah tampil sebagai pahlawan kemenangan atas Inggris.
Sebelum cedera merenggut impiannya, Mitoma sukses mencetak gol penentu di Wembley setelah merebut bola dari Cole Palmer dan menginisiasi serangan balik cepat yang diselesaikan sendiri. Selain Mitoma, nasib sial juga menimpa Takumi Minamino yang sudah dipastikan absen sejak Desember akibat robek ligamen lutut.
Di tengah badai cedera tersebut, angin segar berembus setelah Wataru Endo dan Takehiro Tomiyasu dinyatakan pulih tepat waktu. Kehadiran dua pemain tersebut akan memperkokoh organisasi permainan lini tengah dan sektor pertahanan Jepang.
Urusan menggedor jala lawan, penyerang Feyenoord, Ayase Ueda, tetap menjadi tumpuan utama sebagai lumbung gol yang sangat bisa diandalkan. Ketajaman Ueda nantinya akan disokong oleh kreativitas Daichi Kamada dari Crystal Palace serta pergerakan bintang Real Sociedad, Takefusa Kubo.
Kekuatan mental Timnas Jepang diyakini jauh lebih stabil karena separuh dari anggota skuad saat ini merupakan alumni Piala Dunia 2022 Qatar. Pada edisi tersebut, Jepang tampil mengejutkan dengan menumbangkan dua raksasa Eropa, Jerman dan Spanyol, sebelum akhirnya disingkirkan Kroasia lewat babak adu penalti.
"Kami memiliki lebih banyak pemain dengan pengalaman berlaga di Piala Dunia, dan hal itu akan sangat membantu dalam menjaga ketenangan tim. Pengalaman ini akan membantu kami tampil efektif dalam menghadapi berbagai situasi sulit di atas lapangan," ujarnya.
Langkah Jepang menuju Piala Dunia 2026 terbilang sangat mulus setelah menyapu bersih tujuh kemenangan dari total 10 pertandingan di babak kualifikasi. Skuad Samurai Biru bahkan baru menelan kekalahan setelah tiket kelolosan ke putaran final sudah berhasil diamankan di tangan.
Piala Dunia 2026 sekaligus menandai kesuksesan Jepang menembus putaran final untuk kedelapan kalinya secara berturut-turut sejak debut pada 1998. Kendati rutin lolos, mereka selalu menemui tembok besar karena belum pernah sekalipun merasakan atmosfer babak perempat final.
Pada edisi kali ini, Moriyasu memasang target yang jauh lebih tinggi dan sangat berani bagi perkembangan sepak bola Asia. Ia sangat yakin komposisi skuadnya sekarang memiliki kualitas yang mumpuni untuk melangkah jauh hingga mengangkat trofi juara.
Kehilangan sosok penting seperti Mitoma di lini serang terbukti sama sekali tidak menyurutkan ambisi besar yang telah ditancapkan sejak awal. Moriyasu menegaskan visi tim tetap berada di jalur yang sama demi mengukir sejarah baru di dunia.
"Target kami tidak akan pernah berubah. Namun, ini bukan hanya sekadar tentang mencapai target tersebut, melainkan juga tentang bagaimana kami terus meningkatkan level kami, baik sebagai individu maupun sebagai sebuah tim," tuturnya.
Moriyasu saat ini memegang rekor sebagai pelatih yang paling lama membesut Jepang sejak mengambil alih tongkat estafet usai Piala Dunia 2018. Rekam jejaknya sangat mentereng dengan koleksi tiga gelar J.League bersama Sanfrecce Hiroshima serta pengalamannya yang sudah panjang.
"Ini bukan hanya tentang modal pengalaman pribadi saya saja. Para pelatih pendahulu saya, baik asing maupun lokal, serta jajaran staf saya saat ini juga memiliki pengalaman berharga di Piala Dunia. Saya ingin memanfaatkan seluruh pengalaman dan pengetahuan tersebut untuk meningkatkan peluang kami, sekecil apa pun itu," ungkapnya.