Timnas Belanda. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - London, Inggris
Joachim Klement ramal Belanda jadi juara Piala Dunia 2026, mungkin berharap lagi prediksinya meleset.
Paul Si Gurita sudah mangkat. Penerusnya buat urusan ramal-meramal pemenang Piala Dunia lebih moncer lagi.
Ketika Paul memprediksi semua hasil Jerman secara tepat di Piala Dunia 2010, sang gurita mendapatkan puja-puji dari seluruh dunia sebagai peramal nomor wahid. Namun, seorang ekonom Jerman, Joachim Klement, telah mengungguli Paul. Dengan model prediksi yang rumit, Klement telah mempertahankan rekor 100 persen dalam memprediksi pemenang Piala Dunia sejak 2014.
Untuk edisi Piala Dunia 2026, ramalan Klement terdengar menarik. Pakar pasar modal itu memunculkan Belanda sebagai kampiun Piala Dunia 2026. Jika sungguh mengangkat trofi pada 19 Juli, De Oranje akan menjadi tim keempat dari empat tim yang diprediksi akan memenuhi ramalan statistik Klement.
Tebakan Klement bukan cuma untuk tim juara. Selain para pemenang, model yang ia kembangkan juga memetakan cakupan turnamen yang diikuti 48 tim tersebut. Muncullah perkiraan kemenangan mengejutkan Jepang atas Brasil di ronde kedua hingga Skotlandia tersingkir oleh Korea Selatan di fase yang sama.
Klement, mengaku telah tinggal di Inggris selama 10 tahun, memprediksi Tim Tiga Singa akan mencapai semifinal. Namun, Inggris tidak sampai partai puncak. Portugal menyingkirkan mereka seperti pada dua dekade sebelumnya, 2006. Meski begitu, model Klement tersebut tidak sampai memperkirakan akan ada adu penalti lagi di semifinal tersebut.
Klement mengaku pula bahwa dirinya seorang "pesimis". Baginya, penelitiannya bukanlah soal melindungi siapa pun dari patah hati, atau memenangi taruhan besar. Sebaliknya, ia berharap bisa mengungkap absurditas dari upaya memprediksi hasil.
"Ini dimulai sebagai latihan untuk menunjukkan kepada dunia kesombongan para ekonom yang berpikir mereka dapat meramalkan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka ketahui," ungkap Klement dikutip dari BBC. "Sekarang, ini telah menjadi latihan tentang bagaimana, jika Anda cukup beruntung, orang akan menganggap Anda sebagai seorang ahli," lanjutnya.
Prediksi pertama Klement menjadi kenyataan ketika negara asalnya, Jerman, memenangi Piala Dunia 2014. Saat itu, Klement membayangkan tindakannya mengolah angka-angka lagi pada 2018 akan mengungkap dirinya sebagai kebetulan. Akan tetapi, Joachim Klement berhasil menebak secara tepat lagi untuk Prancis pada 2018, dan lagi untuk Argentina pada 2022.
"Karena saya benar tiga kali berturut-turut, orang-orang sekarang berpikir bahwa model ini tak terkalahkan, dan bahwa saya jelas harus benar juga di lain waktu," katanya.
Kesuksesan Piala Dunia diperaya sebagian ditentukan oleh faktor-faktor sistemik yang diketahui, seperti populasi nasional, kekayaan, iklim, dan peringkat dunia FIFA. Namun, Klement meminta para penyantap ramalan empat tahunannya, yang terus bertambah setiap kali ramalannya tepat, agar tidak begitu saja menerima isi prediksinya karena faktor-faktor tersebut hanya menceritakan sebagian dari cerita. "Setengahnya adalah keberuntungan," tukas Klement.
"Setiap pertandingan, terutama ketika tim-tim berkualitas tinggi yang saling berhadapan dan memiliki keterampilan serta kualitas yang sangat mirip, itu benar-benar bergantung pada performa hari itu, keputusan wasit, sedikit keberuntungan dalam artian bola membentur tiang gawang atau masuk ke gawang. Hal-hal seperti itu sama sekali tidak dapat diprediksi," Klement melanjutkan.
Biar Senang
Setiap kali turnamen mendekat, model Joachim Klement menawarkan pengalihan yang menyenangkan dari pekerjaan sehari-harinya. Bagi Klement, kesenangan itu lebih terasa tahun ini.
"Ketika ada begitu banyak krisis, perang, dan hal-hal lain yang terjadi, ini adalah sesuatu yang membuat saya merasa senang dan mudah-mudahan para pembaca juga merasa senang dan memberi mereka sedikit pengalihan dari semua hal buruk yang terjadi di dunia," Klement menambahkan.
Namun, dengan setiap prediksi yang akurat, beban ekspektasi semakin meningkat pada diri Klement, yang bekerja sebagai ahli strategi di bank investasi Panmure Liberum. Di kantor, misalnya, Klement menghadapi pertanyaan dari sesama ekonom tentang bagaimana cedera ACL gelandang Tottenham asal Belanda, Xavi Simons, akan memengaruhi model tersebut.
Jadi terlepas dari banyak keraguan mengenai akurasi prediksinya itu, Klement bersiap untuk start turnamen bulan depan. Sang ekonom bersiap pula pada kemungkinan ramalannya meleset.
"Beberapa kolega saya bertaruh uang pada Belanda sebagai respons atas publikasi catatan saya. Dan jika Belanda tersingkir dari Piala Dunia, saya rasa keesokan harinya saya harus bekerja dari rumah," tutupnya. Mungkin Klement sudah sangat siap dengan kemungkinan terburuk itu.