FIFA telah membatalkan ribuan reservasi hotelnya di Toronto, Kanada. Para ahli mengatakan pembatalan itu merupakan hal rutin karena mereka menyesuaikan dengan jumlah staf yang dibawa. (TVRI/Grafis/Yusuf) Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Toronto, Kanada
Menghadapi situasi ini, TUHU mengajukan tuntutan resmi berupa penyediaan ruang istirahat darurat 24 jam selama Piala Dunia 2026 berlangsung.
Di tengah kesibukan Kota Toronto bersolek menyambut gelaran Piala Dunia 2026, sekelompok tunawisma di sekitar Stasiun Union justru membawa kabar pilu. Mereka mengaku mulai diusir dari kawasan tersebut, bahkan beberapa di antaranya dengan cara kekerasan agar tidak terlihat oleh publik.
Stasiun Union sebagai pusat transit utama di Toronto akan dipadati oleh ribuan penggemar sepak bola dari berbagai belahan dunia bulan depan. Namun, kelompok Toronto Underhoused and Homeless Union (TUHU) menyayangkan persiapan kota yang justru mengorbankan masyarakat paling rentan dengan cara mendepak mereka.
Andrew, seorang warga yang kehilangan tempat tinggal sejak musim gugur lalu, mengaku sering menyaksikan tindakan kasar dari petugas keamanan swasta stasiun terhadap kaum tunawisma. Menurutnya, pembersihan paksa ini bukan solusi yang bijak karena masalah sosial tidak bisa diselesaikan dengan cara represif.
"Ini adalah masalah yang membutuhkan kesabaran. Ini bukan masalah yang bisa Anda selesaikan begitu saja dengan cara menggiring dan mengusir orang keluar dari gedung," kata Andrew dikutip dari Toronto City News.
"Sudah saatnya memberikan kartu merah kepada pemerintah kota karena membiarkan perilaku menjijikkan, diskriminatif, dan melanggar hak asasi manusia dasar ini," tegas Angie Hocking, seorang advokat dari TUHU.
Kelompok advokasi ini menggelar aksi berkumpul di Taman Berczy yang lokasinya hanya beberapa menit dari Stasiun Union pada Selasa (26/5/2026). Dalam enam minggu terakhir, TUHU mengklaim telah mewawancarai 45 tunawisma di sekitar stasiun untuk mendokumentasikan pelanggaran yang terjadi.
Sekitar 90 persen dari responden melaporkan bahwa mereka melihat atau bahkan mengalami sendiri kekerasan oleh petugas keamanan setempat. Salah satu kesaksian memilukan datang dari Christopher yang menceritakan pengalaman traumatisnya bertahan hidup di kawasan transportasi massal tersebut.
"Saya sebenarnya sempat mengalami overdosis di Stasiun Union baru-baru ini dan jika saya tidak berada di sana saat itu, saya pasti sudah mati sekarang. Saya mohon maaf, tetapi kami selalu mencoba untuk tahu diri, kami mencoba bersikap sopan, dan tidak ada dari kami yang akan menyakiti Anda, jadi saya tidak tahu mengapa mereka harus menyakiti kami," ujar Christopher.
Pihak TUHU menilai rangkaian kejadian kelam ini memperlihatkan adanya pola pengusiran dan intimidasi sistematis terhadap warga miskin demi menjaga citra kota. Pemerintah dituding sengaja melakukan pembersihan kilat demi terlihat rapi saat menyambut ajang sepak bola terakbar sejagat tersebut.
"Sayangnya, apa yang kita lihat sekarang adalah pekerjaan yang terburu-buru karena Kota Toronto akan menyelenggarakan Piala Dunia dalam waktu kurang dari sebulan. Mereka belum berbuat banyak untuk berinvestasi dalam benar-benar memperbaiki taraf hidup sebagian besar dari kita di kota ini," kritik David Roberts, seorang profesor studi perkotaan di Universitas Toronto saat berbicara dalam acara tersebut.
TUHU kini telah mengajukan sejumlah tuntutan resmi kepada pemerintah kota, termasuk penyediaan ruang istirahat darurat 24 jam penuh menjelang dan selama Piala Dunia 2026 berlangsung. Selain itu, mereka mendesak pembatalan kontrak dengan perusahaan keamanan swasta untuk digantikan oleh tim penjangkauan sosial dan pekerja pengurangan dampak buruk.
Ketika dikonfirmasi pihak Kepolisian Toronto enggan berkomentar banyak mengenai dugaan kekerasan tersebut. Mereka menyatakan bahwa seluruh operasional keamanan dan kebijakan di area Stasiun Union berada sepenuhnya di bawah kendali langsung pemerintah kota.
Pemerintah Kota Toronto berdalih telah meluncurkan program uji coba sejak April lalu bersama Metrolinx, TTC, dan kepolisian setempat. Program ini diklaim bertujuan untuk memperkuat koordinasi antara tim kesehatan, penyedia perumahan, dan tim respons krisis guna menangani masalah sosial.