Skuad Timnas Republik Demokratik Kongo berlaga kembali di Piala Dunia setelah menanti 52 tahun. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Kinshasa, Republik Demokratik Kongo
Federasi Sepak Bola RD Kongo meminta FIFA untuk mengembalikan uang pembelian tiket para suporternya yang tidak bisa pergi ke AS karena wabah ebola.
Republik Demokratik Kongo meminta FIFA untuk mengembalikan biaya tiket Piala Dunia 2026 yang dibeli oleh para penggemar. Para pendukung Rep. Dem. Kongo kini tidak dapat memasuki Amerika Serikat karena pembatasan perjalanan terkait wabah ebola di Afrika.
RD Kongo kembali ke panggung sepak bola terbesar untuk pertama kalinya sejak 1974. Para suporter memiliki alasan untuk pergi ke Amerika Utara untuk mendukung tim kesayangan mereka secara langsung.
Akan tetapi, keadaan darurat kesehatan masyarakat yang diumumkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 16 Mei menghentikan hasrat para pendukung untuk bepergian ke AS.
Pihak berwenang mengatakan bahwa ada lebih dari 900 kasus dugaan ebola di Afrika Tengah dan Timur. Sejak pengumuman wabah tersebut, disebutkan ada 223 kematian yang diduga akibat virus tersebut.
Malang buat Republik Demokratik Kongo. Sebagian besar kasus dan kematian tersebut terjadi di RD Kongo. Kedutaan Besar AS di ibu kota RD Kongo, Kinshasa, telah menangguhkan layanan visa.
WHO sebenarnya belum mengeluarkan imbauan untuk memberlakukan pembatasan perjalanan. Namun, AS telah melarang masuknya warga non-Amerika yang telah berada di Republik Demokratik Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan dalam 21 hari sebelumnya.
Para suporter Timnas RD Kongo yang hendak memberikan dukungan langsung tentu terkena imbas langsung pula dari pelarangan tersebut. Yang mungkin lebih merasa sesak adalah mereka yang sudah membeli tiket pertandingan tim berjulukan The Leopards atau Si Macan Tutul di Piala Dunia 2026.
Karena harga tiket pertandingan Piala Dunia 2026 yang tidak murah, Federasi Sepak Bola RD Kongo, Fecofa, memohon kepada penggelar gawean Piala Dunia 2026, FIFA, untuk mengembalikan uang tiket yang dibeli para suporter RD Kongo.
"Kami telah meminta FIFA untuk mempertimbangkan hal ini, karena harga tiketnya agak mahal," kata Veron Mosengo-Omba, Presiden Fecofa, kepada BBC Sport Africa.
"Mereka sudah seperti dihukum karena tidak bisa masuk (ke AS) untuk menonton Piala Dunia dan mendukung tim mereka. Kami tidak ingin pendukung kami, yang mencintai sepak bola, yang mencintai Piala Dunia, kehilangan segalanya," Mosengo-Omba melanjutkan.
Menanggapi permintaan Fecofa, FIFA mengatakan kepada BBC bahwa mereka "akan menindaklanjuti pada saatnya".
Tim Tak Terpengaruh
AS menjadi tuan rumah Piala Dunia bersama Kanada dan Meksiko. Harga tiket perhelatan kali ini sampai tujuh kali lebih mahal daripada turnamen 2022 di Qatar. Lonjakan ini disebut karena model penetapan harga dinamis yang diterapkan FIFA.
RD Kongo akan menghadapi Portugal dalam pertandingan pembuka Grup K pada 17 Juni. Penggemar Leopards yang bepergian dari negerinya untuk menonton pertandingan di Houston harus meninggalkan negara itu pada Selasa (26/5/2026) untuk memenuhi pembatasan masuk AS.
Kebijakan standar FIFA menetapkan bahwa tiket dijual kembali atau dialihkan ke individu lain daripada dikembalikan. Opsi pengembalian dana hanya untuk keadaan luar biasa seperti pembatalan pertandingan.
Pertandingan grup kedua Si Macan Tutul melawan Kolombia akan berlangsung di Guadalajara. Sebagian besar penggemar RD Kongo sekarang diharapkan untuk mengalihkan rencana perjalanan mereka ke Meksiko.
Seiring pertandingan terakhir mereka melawan Uzbekistan kembali di AS, tepatnya di Atlanta, para pendukung berharap Leopards dapat finis di posisi kedua grup untuk mengamankan tempat di babak 32 besar di Toronto, Kanada.
Meskipun penggemar dilarang hadir, tim RD Kongo tidak terpengaruh oleh pembatasan masuk AS. Semua 26 pemain dalam skuad Sebastien Desabr, dan sebagian besar staf teknis berbasis di luar negeri. Para ofisial tim yang berasal dari RD Kongo telah meninggalkan negaranya untuk memenuhi persyaratan karantina 21 hari.
RD Kongo harus membatalkan kamp pelatihan praturnamen di Kinshasa. Wakil Afrika berjulukan Leopards ini berkumpul di Belgia untuk pertandingan persahabatan sebelum menuju ke markas mereka di Texas.
FIFA mengatakan kepada BBC bahwa mereka sedang "berkomunikasi secara intensif" dengan Fecofa, pemerintah tiga negara tuan rumah Piala Dunia, dan badan kesehatan terkait untuk memastikan kepatuhan medis dan keamanan.