TVRINews - Toronto, Kanada

Jerman memperlihatkan sepak bola selalu mampu menyatukan perbedaan dan memberikan kegembiraan.

Jerman vs Pantai Gading akan terjadi dalam laga kedua fase Grup E Piala Dunia 2026. Pertandingan ini akan bergulir Sabtu malam waktu setempat atau Minggu dini hari WIB. Jerman memulai Piala Dunia 2026 ini dengan hasil mengagumkan. Tim asuhan Julian Nagelsmann menang 7-1 atas Curacao pada 14 Juni lalu. Die Mannschaft pesta gol lawan tim debutan di Piala Dunia itu.

Felix Nmecha, Nico Schlotterbeck, Kai Havertz, Jamal Musiala, Nathaniel Brown, dan Deniz Undav, deretan pemain yang mencetak gol menghadapi tim asal Amerika Utara ini (CONCACAF). Meski demikian, itu bukanlah tantangan sebenarnya bagi Jerman.

Kekuatan Jerman akan benar-benar diuji pada laga kedua nanti lawan Pantai Gading, tim asal Afrika. Seperti halnya Jerman, The Elephants asuhan Emerse Fae juga mengawali Piala Dunia dengan hasil positif. Kemenangan 1-0 atas Ekuador lewat gol yang diciptakan Amad Diallo, memperlihatkan pertarungan Pantai Gading dalam menaklukkan tim asal Amerika Selatan tersebut.

Kini, Pantai Gading akan mengadang Jerman. Keduanya memiliki poin yang sama, tiga poin jelang pertandingan ini. Tim pemenang di laga ini akan melangkah ke fase knockout. Namun demikian, Afrika bukanlah kekuatan yang tentu harus ditakuti karena Jerman saat ini beraroma tim dari Benua Hitam tersebut.

Dari 26 pemain Jerman di Piala Dunia 2026 ini, ada delapan pemain yang memiliki darah Afrika. Mereka adalah Jonathan Tah (Pantai Gading), Antonio Rudiger (Sierra Leone), Leroy Sane (Senegal), Felix Nmecha dan Jamal Musiala (Nigeria), Assan Ouedraogo (Burkina Faso), Malick Thiaw (Senegal), dan Jamie Leweling (Gana).

Bahkan, jika sedikit mundur ke belakang sebelum penetapan skuad, ada 17 pemain dengan akar Afrika. Saat ini, seperti sejumlah negara Eropa lainnya, kaitan pemain sepak bola Jerman dengan negara-negara Afrika tak terhindarkan. Bahkan, dari nama-nama tersebut, mereka justru memiliki posisi dan peran yang sangat penting di Piala Dunia 2026.

Kenyataan ini pun memberikan asa dari aspek lainnya, sisi yang selama ini seringkali muncul dalam sepak bola yaitu rasisme. Dengan barisan pemain Jerman yang memiliki darah Afrika, negara ini telah memperlihatkan pesan sebagai negara yang ikut memerangi rasisme.

Annalena Baerbock yang mewakili Jerman di Majelis Umum PBB, menyambut antusias terkait banyaknya pemain Timnas Jerman yang mimiliki darah Afrika. "Saat ini kami memiliki keragaman yang luar biasa dalam tim, yang melambangkan generasi baru pemain Jerman," kata Annalena Baerbock. "Dulu tidak selalu demikian. Itu menunjukkan betapa pentingnya kampanye antirasisme. Sebuah tim juga selalu merupakan cerminan masyarakat."

Dengan demikian, timnas Jerman yang memiliki darah Afrika, memperlihatkan bahwa masyarakat Jerman sangat terbuka dengan perbedaan. Seorang penulis berkebangsaan Uganda dan Inggris, Musa Okwonga, sudah lama menetap di Berlin (Jerman) selama lebih dari satu dekade.

Menurutnya, munculnya keragaman tim ini sangat penting. "Ketika imigran yang tiba di Jerman berpikir untuk pergi lagi, Timnas Jerman menunjukkan bahwa ada orang-orang yang berkembang di negara ini, yang bukan kulit putih, yang memiliki warisan dari tempat lain, tumbuh di sini, dan menjadikan Jerman sebagai rumah mereka," kata Musa Okwonga.

Terkait hal ini, Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) tidak secara khusus menyoroti keberagaman tim ini. Namun demikian, lembaga ini mengakui pentingnya memiliki pemain berdarah Afrika. "Pada akhirnya, semua orang bersatu untuk membuat keputusan berdasarkan keyakinan dan bukan karena memilih tempat di mana kesuksesan olahraga lebih mungkin terjadi," kata Direktur DFB, Andreas Rettig.

"Kami senang melihat komitmen awal terhadap tim Jerman dan itu meninggalkan kesan pada kami," Andreas Rettig menambahkan. Dia lalu mengingat tentang bintang Jerman saat ini, Jonathan Tah.

Pada awal 2025, Jonathan Tah mengunjungi Pantai Gading untuk pertama kalinya sejak ia berusia 14 tahun, menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan media Jerman, DW bahwa perjalanan itu membawanya kembali mengingat asal usulnya. Hal yang sama juga dilakukan Antonio Rudiger yang mendirikan sebuah yayasan sosial di Sierra Leone.

Jerman yang memiliki pemain berdarah Afrika memang tidak terlepas dari sejarah masa lalu. Jerman memiliki akar sejarah kolonial di Namibia, Tanzania, Kamerun, atau Togo. Meski barisan pemain Jerman tersebut punya darah leluhur, Musa Okwonga juga yakin mereka juga memiliki kebanggaan yang sama besar sebagai warga negara Jerman.

Isu tentang "hitam dan putih" memang sempat muncul ke permukaan pada Piala Eropa 2024 lalu. Saat itu, sebuah survei yang dilakukan sebuah radio menyatakan bahwa 21 persen hasil dari survei tersebut menyatakan mereka menginginkan lebih banyak orang kulit putih di Timnas Jerman.

Pelatih Jerman, Julian Nagelsmann kemudian mengkritik keras tentang survei tersebut. "Sebuah tim sepak bola dapat menjadi contoh bagaimana menyatukan berbagai budaya, latar belakang agama, dan warna kulit. Keadaannya sekarang sudah bagus. Kami bermain di Euro untuk semua orang di negara ini dan siapa pun yang bermain sepak bola di level atas, dapat menjadi anggota tim nasional," kata Julian Nagelsmann.

Kini, di Piala Dunia 2026, Jerman memang bukan satu-satunya tim favorit juara. Namun demikian, kemenangan atas Curacao telah memberikan kegembiraan bagi publik sepak bola negeri ini. Jika mereka berhasil meraih gelar Piala Dunia tahun ini, pencapaian tersebut tentu karena peran para pemain yang memiliki latar belakang Afrika. Meski ini pernah diraih Prancis pada 1998 silam, tapi Jerman berakar Afrika tetap akan istimewa.