Pemain Norwegia seperti Erling Haaland dan Martin Odegaard, melakukan Viking row di hadapan fans setelah menang atas Senegal, Senin (22/6/2026). Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Oslo, Norwegia
Suasana di Oslo lebih menyerupai pesta kemenangan daripada malam kekalahan. Lagu-lagu kebangsaan bergema di sepanjang jalan utama ibu kota Norwegia itu.
Perjalanan Norwegia di Piala Dunia 2026 memang berakhir di babak perempat final, tetapi kekalahan tidak menghapus kebanggaan para suporternya.
Ribuan penggemar tetap memadati jalanan Kota Oslo Minggu (12/7/2026) dini hari waktu setempat untuk merayakan pencapaian bersejarah tim nasional mereka, meski baru saja kalah dramatis 1-2 dari Inggris setelah perpanjangan waktu di Miami.
Pertandingan yang berakhir sekitar pukul 02.00 dini hari waktu Oslo itu tidak membuat semangat para suporter surut. Mengenakan atribut berwarna merah, putih, dan biru, mereka berbondong-bondong berjalan menuju Royal Palace dari berbagai penjuru ibu kota Norwegia sambil melakukan "Viking row", selebrasi khas yang sepanjang turnamen menjadi salah satu atraksi paling ikonik di Piala Dunia 2026.
Tradisi "Viking row" yang dilakukan dengan duduk atau berjongkok sambil mengayunkan tubuh secara serempak itu berhasil menarik perhatian dunia dan menjadi simbol semangat luar biasa pendukung Norwegia selama turnamen berlangsung.
Suasana di Oslo lebih menyerupai pesta kemenangan daripada malam setelah kekalahan. Lagu-lagu kebangsaan bergema di sepanjang jalan utama Karl Johan, suar (flare) dinyalakan, kembang api menghiasi langit malam, sementara puluhan ribu orang memenuhi kawasan pusat kota untuk memberikan penghormatan kepada tim nasional mereka.
Seorang suporter yang diwawancarai stasiun televisi NRK mengaku tetap bangga terhadap perjuangan para pemain. "Kami bangga kepada mereka. Terima kasih atas semua kenangan indah yang telah diberikan," ujarnya.
Pencapaian Norwegia di Piala Dunia 2026 memang layak dikenang. Sebelum edisi kali ini, Norwegia belum pernah sekalipun memenangkan pertandingan fase gugur Piala Dunia. Karena itu, keberhasilan melangkah hingga babak delapan besar menjadi sejarah baru bagi sepak bola negara Skandinavia tersebut.
Empat tahun lalu, pencapaian seperti ini bahkan dianggap nyaris mustahil oleh banyak pihak. Namun, generasi emas Norwegia mampu mengubah keraguan menjadi kenyataan dengan menampilkan permainan kompetitif sepanjang turnamen hingga akhirnya hanya dihentikan oleh Inggris di perempat final.
Optimisme juga tetap terasa di tengah kerumunan suporter. Mereka menyanyikan yel-yel berbunyi, "Kita akan menjuarai Piala Eropa dalam dua tahun lagi," dengan irama lagu legendaris Twisted Sister, We're Not Gonna Take It. Di sela-sela perayaan, para penggemar juga membagikan brunost atau keju cokelat khas Norwegia sebagai bagian dari pesta rakyat yang berlangsung hingga dini hari.
Seorang suporter lain di kawasan Royal Palace mengatakan bahwa hasil pertandingan bukanlah hal yang paling penting pada malam itu. "Ini adalah kebanggaan nasional. Kami sedang merayakan sesuatu yang berhasil kami capai bersama," katanya.
Sementara itu, pendukung lainnya menilai perjalanan Norwegia di Piala Dunia 2026 telah melampaui semua harapan.
"Ini benar-benar perjalanan yang luar biasa. Viking row kami telah dikenal di seluruh dunia dan kami sudah melakukan segalanya, bahkan lebih dari yang pernah kami impikan," ucapnya.
Penantian 28 Tahun
Hasil yang diraih Norwegia di Piala Dunia 2026 memang pantas dirayakan para pendukungnya. Sebelum menorehkan sejarah tersebut, pencapaian terbaik Norwegia di ajang ini adalah mencapai babak 16 besar pada edisi 1998 di Prancis. Saat itu mereka lolos dari fase grup sebelum dihentikan Italia dengan skor 0-1.
Setelah menunggu 28 tahun untuk kembali tampil di putaran final, Norwegia akhirnya melampaui capaian tersebut. Erling Haaland dan kawan-kawan mencatat kemenangan pertama mereka di fase gugur Piala Dunia dengan mengalahkan Pantai Gading 2-1 di babak 32 besar.
Setelah itu mereka menyingkirkan Brasil 2-1 pada babak 16 besar untuk memastikan tiket perempat final. Langkah bersejarah tersebut baru terhenti setelah Norwegia kalah 1-2 dari Inggris melalui perpanjangan waktu.