TVRINews - Los Angeles, Amerika Serikat

Ancaman pemogokan mengusik persiapan Piala Dunia 2026 di Los Angeles. ICE menjadi salah satu pokok tuntutan.

Gelaran Piala Dunia 2026 khususnya di Amerika Serikat mendapat ancaman lumayan serius dari dalam. Yang terbaru adalah ancaman pemogokan.

Suasana tegang membayangi turnamen akbar empat tahunan ini. Serikat pekerja yang mewakili sekitar dua ribu pekerja katering di Stadion SoFi atau Los Angeles Stadium di Amerika Serikat mengancam akan melakukan pemogokan. Jika sungguh terjadi, pemogokan ini menjadi gangguan cukup serius bagi persiapan turnamen pada musim panas mendatang di Los Angeles.

Pada Senin (6/4/2026), serikat pekerja yang menamakan diri "Unite Here Local 11" memberikan pernyataan yang mendesak FIFA untuk mengeluarkan Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) dari peran apa pun dalam penyelenggaraan pertandingan Piala Dunia di Los Angeles. Serikat tersebut memperingatkan bahwa pengabaian tuntutan ini dapat mendorong para pekerja untuk bereskalasi atau meningkatkan aksi mereka.

Serikat pekerja, yang mewakili para koki dan staf bar di stadion yang berada di Ingelwood tersebut, menjelaskan bahwa anggotanya masih bekerja tanpa kontrak formal. Padahal, turnamen akan dimulai dalam waktu sekitar dua bulan lagi. Menurut Sky News, kenyataan nirkontrak itu menimbulkan kekhawatiran para pekerja mengenai hak dan kondisi kerja mereka selama acara global tersebut.

Unite Here Local 11 mengajukan tiga tuntutan utama kepada FIFA dan pemilik stadion, Kronke Sports and Entertainment. Yang pertama, mereka mendesak adanya deklarasi resmi yang menjamin bahwa ICE atau Penjaga Perbatasan tidak akan terlibat dalam acara turnamen. 

Keresahan meningkat menyusul pernyataan dari pelaksana tugas Direktur ICE, Todd Lyons, yang mengonfirmasi bahwa lembaga tersebut akan memainkan "peran kunci" selama Piala Dunia. Serikat pekerja menganggap pernyataan tersebut sebagai ancaman langsung terhadap keselamatan pekerja dan penggemar di Los Angeles.

Tuntutan kedua dari serikat adalah perlindungan pekerjaan para pekerja di bawah naungan serikat dan perbaikan lingkungan kerja. Terkait perlindungan ini, serikat pekerja menyatakan bahwa mereka mencari jaminan bahwa teknologi kecerdasan buatan tidak akan diandalkan selama turnamen. Menurut mereka, kecerdasan buatan akan menyebabkan pengurangan peluang kerja atau penghapusan peran tertentu.

Desakan ketiga adalah dukungan program untuk menyediakan perumahan terjangkau bagi pekerja di sektor perhotelan. Hal ini seiring kenaikan biaya perumahan di wilayah Los Angeles, khususnya di Inglewood, lokasi stadion. Serikat menyerukan dukungan untuk dana perumahan pekerja, pembatasan penyewaan jangka pendek, serta penerapan kebijakan pajak untuk mendanai perumahan terjangkau dan melindungi keluarga migran.

FIFA belum mengeluarkan komentar resmi apa pun. Para pejabat di SoFi Stadium juga menolak untuk memberikan pernyataan apa pun mengenai krisis yang meningkat ini.

Serikat pekerja tersebut mengatakan bahwa mereka telah berulang kali mencoba mengadakan pertemuan dengan FIFA sejak Los Angeles dipilih sebagai salah satu kota tuan rumah. Akan tetapi, menurut mereka, semua upaya mereka disambut dengan ketidakpedulian otoritas sepak bola dunia tersebut.

"FIFA dan para sponsor akan meraup miliaran dolar dari penyelenggaraan ajang tersebut, sementara peran penting yang dimainkan oleh koki, pekerja, dan staf kios, yang merupakan tulang punggung keberhasilan turnamen, diabaikan," ucap Kurt Petersen, salah satu wakil presiden serikat pekerja, seperti dikutip pula dari Goal.

Los Angeles akan menjadi tuan rumah delapan pertandingan Piala Dunia di SoFi Stadium. Laga pertama di sana adalah antara Amerika Serikat dan Paraguai pada 12 Juni.