Pelatih Timnas Qatar, Julen Lopetegui Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Los Angeles, Amerika Serikat
Pelatih Timnas Qatar, Julen Lopetegui, melihat tugasnya sebagai pelatih The Maroon One sebagai tantangan yang sangat menarik.
Julen Lopetegui pernah membawa Sevilla juara Liga Europa 2019-2020. Sukses tersebut diraihnya setelah dua kenyatan pahit: dipecat sebagai pelatih Timnas Spanyol dan kemudian dipecat pula sebagai pelatih Real Madrid.
Perjalanan Julen Lopetegui memang diwarnai dengan sejumlah peristiwa yang cukup kontroversial. Pemecatannya saat sebagai pelatih Timnas Spanyol terjadi karena dia menandatangani kontrak dengan Real Madrid.
Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) saat itu, Luis Rubiales, mengambil keputusan memecatnya. Pemecatan tersebut terjadi justru ketika Spanyol jelang tampil di Piala Dunia 2018.
Kini, Julen Lopetegui merupakan pelatih Qatar yang membawa tim nasional negeri ini lolos ke Piala Dunia 2026. Sabtu (13/6/2026) atau Minggu dini hari WIB, Julen Lopetegui akan membawa The Maroon One tampil di laga pertama fase grup menghadapi Swis.
Apa yang membuat Julen Lopetegui memilih Qatar? Bagaimana pula dia melihat peluang Qatar di Piala Dunia 2026 ini? Berikut petikan wawancara dengan pelatih berusia 59 tahun ini seperti yang diberitakan pers Spanyol, As:
Julen Lopetegui, bagaimana perasaan Anda tentang Piala Dunia ini?
Kami sangat bersemangat bisa berada di Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah Qatar melalui jalur kualifikasi dan pada saat yang sama, sangat termotivasi dan kami ingin menjadi tim yang kompetitif di Piala Dunia ini.
Apakah Piala Dunia ini juga memberikan motivasi bagi Anda karena yang terjadi pada delapan silam? Apakah masih ada luka di dalam diri Anda?
Yeah, tidak ada penyesalan apapun bagi saya. Sesuatu yang buruk memang terjadi pada 2018, tapi semua ini bukanlah sebagai pembalasan. Untungnya, sepak bola telah memberi begitu banyak hal kepada saya dibandingkan mengambil sesuatu dari saya. Terkadang sesuatu terjadi, seperti hal-hal di masa lalu yang tidak menyenangkan itu misalnya.
Sepak bola selalu memberikan Anda kesempatan untuk melihat ke depan, dan bersama karier yang saya jalani, sebuah tantangan yang mungkin bagi sebagian orang awalnya tidak memahami. Namun, bagi saya, semua ini sudah cukup memberikan tantangan. Saya dapat mengatakan bahwa semua proses ini sangat menarik. Karena itulah kami di sini, dengan membawa antusiasme kami.
Sepak bola berubah hanya dalam delapan tahun ini. Anda saat itu ke Rusia (Piala Dunia 2018) sebagai pelatih dari tim favorit dan juga sebagai kandidat juara Piala Dunia. Kini, situasinya berbeda, bagaimana Anda melihat perbedaan ini?
Itu masa yang berbeda. Saya pikir kami ke Rusia saat itu dengan membawa hasil yang sangat bagus, persiapan yang baik, serta dengan sejumlah pemain dari generasi yang berbeda. Karena itulah, kini bersama Qatar saya kira kualifikasi yang kami lalu lebih sulit meski memang kualifikasi itu selalu menyulitkan. Lihat saja Italia.
Apakah Spanyol kandidat kuat juara Piala Dunia?
Saya kira akan lebih baik untuk tidak memberikan label terhadap tim. Sebutan atau apapun itu, tentu saja berasal dari luar, sebuah penilaian yang dialami dari sejarah serta rekor dalam kualifikasi. Lebih banyak penilaian dari luar.
Favoritnya adalah mereka yang kurang lebih ada dalam pikiran kita semua. Dan Spanyol tentu saja ada di antaranya. Setelah fase grup, akan ada putaran knockout yang merupakan pertandingan hidup mati. Pertandingan yang bukan hanya ditentukan dari aspek teknik dan kualitas melainkan juga dari aspek mentalitas. Itulah mengapa, hanya akan ada satu yang juara Piala Dunia.
Lalu, seberapa kompetitif Timnas Qatar menurut Anda?
Waktu yang akan menjawab. Kami menyadari siapa kami. Saya kira hal pertama yang harus disadari adalah siapa Anda dan siapa kita. Semua negara, saat Qatar menjadi lawan, mereka akan senang. Namun, penerimaan itu bukan tentang menundukkan kepala, melainkan sebaliknya. Kami ingin menjadi tim yang membuat kami yakin apa yang kami lakukan, sejauh yang dapat kami bisa. Itulah yang paling penting.
Bagaimana Anda bisa sampai melatih Qatar dan mengapa Anda memutuskan untuk melatih Qatar?
Kami
datang ke Qatar karena selalu termotivasi oleh tantangan yang sulit.
Selalu seperti itu. Tantangan sesungguhnya, saat pekerjaan ini
ditawarkan dan saya mempelajarinya, situasinya. Kami memiliki
pengetahuan yang sedikit tentang sepak bola Qatar tapi kami
mempelajarinya dengan cepat. Dan, beruntung, kami berhasil mengalahkan
Iran 1-0 dan kami kemudian lolos di play-off lawan Oman dan Uni Emirates Arab. Kami berhasil.
Apakah perang berdampak dalam persiapan Qatar untuk Piala Dunia?
Tentu.
Perang memberikan dampak kepada persiapan kami. Setidaknya ada tiga
pekan di mana ada libur. Pertama saat Ramadan. Setelah Ramadan berakhir,
ada tiga pekan di mana terjadi pengeboman dan peperangan, jadi mereka
tidak dapat berlatih. Karena situasi itu pula, dua laga uji coba
dibatalkan.
Swis, Kanada, dan Bosnia.... Apakah ini grup yang mudah?
Saya kira tidak. Swis adalah salah satu tim kuat di Eropa dalam delapan tahun terakhir ini. Kanada juga kemungkinan terbaik di Amerika Utara, mereka pernah mengalahkan Amerika Serikat dan Meksiko. Pasangan Bosnia, Anda tahu mereka menyingkirkan Wales dan Italia.