TVRINews - New York, Amerika Serikat

Gelandang Prancis, Adrien Rabiot, menilai karakter permukaan lapangan New York Stadium berbeda dengan rumput alami yang biasa digunakan dalam kompetisi elite Eropa.

Gelandang Prancis, Adrien Rabiot, sepakat dengan bintang Brasil, Vinicius Junior, dalam mengkritik kualitas lapangan di New York/New Jersey Stadium setelah pertandingan fase grup Piala Dunia 2026. Keluhan tersebut kembali memunculkan sorotan terhadap kondisi permukaan lapangan yang akan menjadi lokasi final turnamen pada Juli mendatang.

Prancis memulai kiprahnya di Grup I dengan kemenangan 3-1 atas Senegal pada Selasa (16/6/2026) atau Rabu (17/6/2026) pagi WIB. Meski meraih tiga poin penting, perhatian Rabiot justru tertuju pada kondisi lapangan yang menurutnya jauh dari ideal untuk pertandingan level tertinggi.

“Lapangan itu... Saya bahkan tidak tahu apakah bisa disebut lapangan. Rasanya lebih seperti permukaan buatan. Cukup keras dan sangat kaku,” kata Rabiot kepada wartawan seusai pertandingan, dikutip dari Reuters, Rabu (17/6/2026).

Pemain yang menyumbang satu asis dalam kemenangan Les Bleus tersebut menilai karakter permukaan lapangan berbeda dengan rumput alami yang biasa digunakan dalam kompetisi elite Eropa. Menurutnya, kondisi itu memengaruhi kualitas permainan dan kenyamanan para pemain di lapangan.

Pelatih Prancis, Didier Deschamps, juga mengungkapkan pandangan serupa. Ia menyebut lapangan di stadion tersebut memiliki karakteristik yang unik dan tidak biasa.

“Saya pikir mungkin ada beton di bawahnya, dengan serat rumput yang sangat pendek,” ujar Deschamps dalam konferensi pers.

Deschamps menambahkan bahwa kondisi lapangan saat ini terasa berbeda dibandingkan dengan stadion yang sama saat digunakan untuk ajang Piala Dunia Antarklub FIFA tahun lalu.

“Pantulan bolanya sedikit berbeda,” kata Deschamps. “Namun kami sedang berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.”

Kritik dari kubu Prancis tersebut memperkuat keluhan yang sebelumnya sudah dilontarkan penyerang Brasil, Vinicius Junior, setelah Brasil bermain imbang 1-1 melawan Maroko dalam laga pembuka Grup C di stadion yang sama.

Pemain sayap Real Madrid itu mengaku kesulitan mengembangkan permainan karena kondisi rumput yang cepat mengering, terutama ketika pertandingan berlangsung dalam cuaca panas.

“Pada babak kedua, dengan suhu yang tinggi, lapangan mengering sangat cepat. Permainan menjadi lambat dan kami tidak bisa menemukan ritme kami,” ujar Vinicius.

Peraih penghargaan pemain terbaik pertandingan (Man of the Match) tersebut menambahkan, bahwa kondisi lapangan membuat Brasil kesulitan memainkan sepak bola cepat yang menjadi ciri khas mereka.

“Rumput cepat sekali mengering dan permainan menjadi macet. Kami tidak bisa menjaga tempo. Itu menyulitkan karena kami ingin memainkan bola dari satu sisi ke sisi lain. Kondisi itu mengganggu permainan kami, tetapi kami harus beradaptasi,” kata Vinicius.

Menurut pemain berusia 25 tahun itu, seluruh peserta turnamen menghadapi situasi yang sama sehingga Brasil tidak bisa menjadikannya sebagai alasan.

“Kami harus beradaptasi karena saya yakin seluruh kompetisi ini akan dimainkan di lapangan yang sama untuk semua tim. Kami akan berkembang dan meraih kemenangan-kemenangan besar,” lanjutnya.

Stadion New York/New Jersey sendiri selama musim NFL biasanya menggunakan permukaan rumput sintetis. Untuk memenuhi regulasi FIFA, penyelenggara memasang lapangan sementara berbahan rumput Bermuda khusus untuk Piala Dunia 2026. 

Namun, sejumlah pemain tampaknya masih merasa bahwa kualitas permukaan tersebut belum memberikan pengalaman bermain yang optimal.

Sorotan terhadap lapangan kemungkinan akan terus berlanjut mengingat stadion ini dijadwalkan menjadi tuan rumah sejumlah pertandingan penting, termasuk final Piala Dunia 2026. 

Sementara itu, Senegal akan kembali bermain di venue tersebut saat menghadapi Norwegia pada 22 Juni (23 Juni WIB) mendatang, dan kondisi lapangan akan kembali menjadi perhatian para peserta turnamen.