TVRINews – Dallas, Amerika Serikat 

Pelatih Timnas Belanda Ronald Koeman mengaku melawan Jepang menjadi standar minimal mereka di Piala Dunia 2026 ini.

Setelah hasil mengecewakan melawan Jepang pada pertandingan pertama Grup F Piala Dunia 2026 di Dallas Stadium, Amerika Serikat, pada Minggu sore atau Senin (15/06/2026) dini hari WIB, pelatih Belanda Ronald Koeman menyebut laga itu sebagai “standar minimal” timnya jika ingin memenangi gelar. 

Virgil van Dijk membuat Belanda memimpin lewat golnya pada menit ke-51 sebelum Keito Nakamura menyamakannya enam menit kemudian. 

Di babak kedua, manuver brilian Crysencio Summerville pada menit ke-64 kembali membuat Belanda unggul sebelum sudulan Koki Ogawa dari sepak pojok pada menit ke-85 menyenggol sedikit kepala Daichi Kamada, membuat laga berakhir imbang 2-2.

Hasil itu membuat skuad Koeman untuk pertama kalinya gagal memenangi laga setelah dua kali memimpin, dalam sejarah keikutsertaan di Piala Dunia. 

Setelah pertandingan, Koeman menyebut hasil pertandingan melawan Jepang menjadi standar minimal dan timnya perlu berkembang terus sepanjang turnamen. 

Pertandingan Belanda berikutnya adalah melawan Swedia dan Koeman masih memiliki waktu enam hari lagi sebelum bertemu Blagult pada Minggu (21/06/2026) dini hari WIB nanti. 

Pertanyaannya, bagaimana Koeman mengubah penampilan dengan “standar minimal” saat melawan Jepang, untuk meladeni Swedia yang sudah membantai Tunisia dengan skor 5-1?

Mainkan Total Football tetapi Masih Terlalu Pragmatis

Di bawah Koeman – yang memulai periode keduanya menangani Tim Oranye pada 1 Januari 2023, setelah berada di posisi sama pada Februari 2018 sampai 2020 – Belanda masih mampu mempertahankan identitas permainan total football-nya, namun juga terlalu pragmatis.

Lima pergantian pemain yang dilakukan Koeman saat Belanda unggul 2-1 atas Jepang, termasuk tiga sekaligus saat jeda minum di babak kedua dengan menarik Summerville, Donyell Malen, dan Tijjani Reijnders untuk diganti Memphis Depay, Quinten Timber, dan Teun Koopmeiners, menjadi salah satu bukti Tim Oranye masih terlalu pragmatis. 

Atas pertimbangan teknis, mungkin Koeman ingin menghemat tenaga ketiga andalannya itu. Namun, dengan waktu yang masih tersisa 20 menit dan hanya unggul satu gol atas tim pantang menyerah sekelas Jepang, rasanya keputusan Koeman itu patut dipertanyakan. 

Setelah hasil imbang melawan Polandia di kualifikasi, Van Dijk angkat bicara dan mengatakan bahwa mereka seharusnya mencoba bermain lebih cepat. “Kami terlalu lambat dalam menguasai bola, Koeman ingin menyerang,” katanya, saat itu. 

Saat melawan Jepang, Belanda memang mampu menampilkan permainan menyerang namun masih kurang konsisten, utamanya setelah Koeman menarik Sommerville, Malen, dan Reijnders. 

Bagaimana Menghadapi Swedia  

Pendekatan taktis Belanda melawan Swedia diprediksi masih akan berpusat pada permainan penguasaan bola yang terkontrol dan pragmatis. 

Dengan menggunakan formasi yang fleksibel (biasanya 4-2-3-1 yang bertransisi menjadi 4-3-3), Belanda berupaya mendominasi tempo lini tengah sambil mengandalkan keunggulan fisik dan bek sayap untuk membongkar struktur pertahanan Swedia yang terorganisasi rapi.

Senjata serangan utama Belanda adalah pergerakan tumpang tindih antara bek sayap dan pemain sayap. Mereka sangat menargetkan sayap kanan untuk menciptakan ketidakseimbangan fisik, memaksa bek kiri Swedia untuk melakukan tekel atau mengandalkan penjagaan ganda.

Saat melawan Jepang, sisi kanan Belanda masing-masing ditempati Denzel Dumfries (bek sayap), Ryan Gravenberg (gelandang), dan Summerville (sayap). Komposisi itu cukup efektif dan mematikan kendati masih ada yang kurang. 

Di lini pertahanan, Belanda terpaksa mencoret Jurrien Timber yang mengalami cedera otot usai laga persahabatan melawan Uzbekistan, dan menggantinya dengan Lutsharel Geertruida (Sunderland).

Pemain Arsenal FC ini mampu beroperasi sama baiknya di posisi bek kanan dan tengah. Menjadi aset utama pertahanan Belanda, Timber dikenal sangat mahir dalam menghentikan lawan dalam situasi satu lawan satu.  

Di lini tengah, peran Frenkie de Jong dan Reijnders juga belum terlihat istimewa saat melawan Jepang. Sebagai holding midfielder sekaligus deep-lying playmaker, De Jong masih kesulitan mengatur tempo saat melawan Samurai Biru. 

Sementara, Reijnders yang seharusnya membantu serangan dengan menjadi penghubung sepertiga pertahanan dengan penyerang melalui umpan pendek dan umpan terobosan, terlihat masih belum maksimal yang berujung pada menurunnya peran Cody Gakpo di sayap kiri. 

Dalam situasi seperti ini barulah Belanda merasa sangat membutuhkan gelandang serang kreatif sekelas Xavi Simons. Gelandang Tottenham Hotspur itu absen di Piala Dunia setelah mengalami cedera sobek ligamen (ACL) saat membela klubnya. 

Jika melawan Swedia nanti Belanda masih terlalu mengandalkan serangan dari sisi kanan, jelas mudah ditebak oleh Victor Lindelof dan kawan-kawan.

Namun, Belanda tetaplah Belanda. Permainan mereka kerap sulit ditebak. Jadi, sangat menarik untuk dinanti apakah saat melawan Swedia nanti Koeman mampu mengubah “standar minimal” timnya di lapangan.