Timnas Cape Verde atau Tanjung Hijau siap berlaga di Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews – Miami, Amerika Serikat
Kiprah Tanjung Hijau di dua laga awal Piala Dunia 2026 menjadi salah satu kejutan terbesar yang dibuat sebuah tim underdog.
Bagi generasi yang lahir pada era tahun 1990-an, pasti mengenal penyanyi pop cantik Britney Spears, termasuk salah satu lagunya yang begitu terkenal yang dirilis pada tahun 2000, Oops!…I Did It Again.
Ya, judul lagu tersebut tampaknya sangat cocok disematkan pada salah satu tim debutan di Piala Dunia 2026, Tanjung Hijau (Cape Verde dalam bahasa Inggris). Sebuah negara kecil di Samudra Atlantik, lepas pantai barat Afrika itu tampil impresif di dua pertandingan awal Grup H dengan menahan dua negara raksasa sepak bola dunia.
Pada laga pertama, mereka secara mengejutkan menahan juara Piala Dunia 2010 dan salah satu favorit kampiun tahun ini, Spanyol, dengan skor 0-0. Kejutan Tanjung Hijau berlanjut dengan menahan jawara Piala Dunia 1930 dan 1950 Uruguai, 2-2, pada Senin (22/06/2026) pagi WIB.
“Oops!…Cape Verde Did It Again”. Mungkin kalimat itu yang ada di benak pencinta sepak bola begitu menyaksikan hasil laga Uruguai melawan Tanjung Hijau di Miami Stadium, Amerika Serikat (AS), tersebut.
Ketika mampu menahan Spanyol tanpa gol, banyak pencinta sepak bola menilai Tanjung Hijau lebih banyak beruntung. Penampilan defensif yang solid menjadi landasan poin yang layak mereka dapatkan, tetapi hasil imbang di laga kedua Grup H ini sangat berbeda.
Tim nasional dari negara dengan penduduk hanya sekitar di bawah 600 ribuan jiwa itu menghadapi Uruguai, salah satu negara dengan sejarah sepak bola nan panjang, dan hebatnya berhasil pulang tanpa terkalahkan.
Tanjung Hijau bermain berani melawan skuad asuhan Marcelo Bielsa. Ada beberapa momen pertahanan yang solid, tetapi ada lebih banyak hal yang bisa mereka tunjukkan selain itu.
Pertama, mental kuat luar biasa. Gelandang bertahan Kevin Pina menghentak lewat golnya untuk Tanjung Hijau memanfaatkan tendangan bebas. Butuh waktu 23 menit buat Uruguai membalas lewat Maximiliano Araujo.
Tanjung Hijau tertinggal di masa perpanjangan waktu babak pertama setelah gelandang Agustin Canobbio mencetak gol untuk Uruguai. Pantang menyerah, Blue Sharks berhasil menyamakan skor, 2-2, lewat gol winger Helio Varela pada menit ke-61 atau hanya tiga menit usai ia masuk menggantikan Garry Rodrigues.
Kedua, Tanjung Hijau berani menyerang. Uruguai memang mengerahkan seluruh kemampuan, terbukti dengan catatan 17 tembakan dengan nilai harapan gol (xG) 2,34, meskipun hanya dua yang tepat sasaran.
Tanjung Hijau berhasil mengarahkan empat dari 12 percobaan mereka tepat ke sasaran. Meskipun angka xG mereka hanya 0,86, tetapi Blue Sharks sama sekali tidak menunjukkan rasa takut melawan Uruguai yang di atas kertas unggul segalanya atas mereka.
Mengapa Penggemar Menyukai Tanjung Hijau
Ada sejumlah hal yang membuat penggemar Piala Dunia 2026 menyukai Tanjung Hijau. Keberhasilan meladeni tim sekelas favorit turnamen Spanyol serta Uruguai di dua laga awal tanpa kekalahan, menjadi salah satu kejutan terbesar yang dibuat sebuah tim underdog dalam sejarah Piala Dunia.
Aksi heroik kiper Vozinha juga menjadi salah satu penyebab Tanjung Hijau menjadi tim pemenang di hati para pencinta sepak bola.
Saat melawan Spanyol, Vozinha melakukan 7 penyelamatan dan mengamankan hasil imbang bersejarah 0-0. Statistik dari Opta menyoroti ia menghadapi 1,46 expected goals on target (xGOT) dan mencegah 1,45 gol.
Statistik tersebut menjadikan 7 penyelamatan Vozinha sebagai yang tertinggi kedua oleh seorang kiper berusia 40 tahun ke atas dalam pertandingan Piala Dunia sejak 1966 (hanya di belakang Pat Jennings pada tahun 1986).
Saat melawan Uruguai, Vozinha memang tidak melakukan penyelamatan. Namun, torehannya di laga pertama paling tidak membuat barisan pertahanan Tanjung Hijau lebih percaya diri saat meladeni Le Celeste.
Semangat raksasa juga menjadi salah satu faktor mengapa Tanjung Hijau bisa seperti itu di Piala Dunia pertamanya. Tanjung Hijau baru merdeka dari Portugal pada 1975.
Timnas Tanjung Hijau melakukan pertandingan internasional pertama dengan kalah 0-1 dari Guinea pada 29 Mei 1978. Sementara, Federasi Sepak Bola Tanjung Hijau (FCF) baru dibentuk pada tahun 1982 dan baru bergabung ke FIFA pada 1986.
Jadi, meskipun skuad Tanjung Hijau bisa dibilang “tim kemarin sore”, faktanya mereka telah mewujudkan mimpi Piala Dunia dengan sempurna dengan balutan semangat dan ketahanan diaspora globalnya.
Dan, Tanjung Hijau masih memiliki peluang bagus untuk mencapai babak 32 besar, karena mereka kini berada di posisi ketiga, sama-sama mengumpulkan dua poin dengan Uruguai di posisi kedua.
Tanjung Hijau akan menghadapi Arab Saudi di pertandingan grup terakhir mereka pada Sabtu (27/06/2026) pagi waktu Indonesia dan akan merasa yakin untuk membuat sejarah lebih lanjut.
Melihat calon lawan Tanjung Hijau berikutnya, rasanya lagu yang pas untuk Blue Sharks adalah Unstoppable, sebuah lagu lawas dari Sia.