TVRINews – London, Inggris

Pemerintah Inggris menjalankan kampanye agar suporter terhindar dari penipuan tiket Piala Dunia 2026.

Suporter sepak bola Inggris diminta mewaspadai penipuan tiket Piala Dunia 2026. Sekitar satu bulan lagi turnamen tersebut akan dimulai, banyak bermunculan penjual mencurigakan di media sosial.

Para pelaku kriminal berupaya memanfaatkan antusiasme publik. Mereka menawarkan tiket pertandingan Piala Dunia 2026 dengan harga di bawah pasaran saat ini dan berusaha meyakinkan calon pembeli untuk segera melakukan pembayaran.

Modus seperti itu sudah beberapa kali terjadi di Premier League musim ini. Analis Lloyds Bank menemukan lonjakan kasus sebesar 36 persen dari tahun sebelumnya, dengan rata-rata kerugian 215 poundsterling (Rp5 juta).

Suporter klub papan atas Inggris seperti Arsenal, Liverpool, Chelsea, dan Manchester United sering menjadi target utama para penipu. Mereka memanfaatkan tingginya permintaan untuk pertandingan Piala FA dan Liga Champions.

Para pelaku penipuan di media sosial biasanya menyodorkan daftar antrean pembelian, hingga mengirimkan kode QR palsu. Begitu proses pembelian dilakukan, para penjual akan menghilang tanpa jejak.

Direktur Pencegahan Penipuan Lloyds, Liz Ziegler, mengingatkan suporter agar tidak mudah tergiur penawaran tiket murah dan promosi yang terlihat meyakinkan di media sosial. Menurutnya, para pelaku sengaja memanfaatkan rasa panik dan ketakutan calon pembeli kehabisan tiket.

“Penipu memanfaatkan urgensi dan antusiasme penggemar untuk mendapatkan tiket pertandingan besar. Karena itu masyarakat harus tetap waspada dan hanya membeli tiket melalui jalur resmi,” ujar Ziegler, dikutip dari Independent, Senin (11/5/2026).

Guna menyelamatkan suporter dari penipuan, Pemerintah Inggris dan Lloyds menjalankan kampanye "Stop! Think Fraud". Mereka berupaya meningkatkan kesadaran publik terhadap ancaman penipuan digital menjelang Piala Dunia 2026.

Masyarakat diimbau untuk selalu memeriksa keaslian penjual dan menghindari pembayaran melalui transfer langsung kepada pihak tidak dikenal. Pembelian tiket disarankan dilakukan hanya melalui laman resmi penyelenggara atau agen penjualan resmi yang telah terverifikasi.

Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini mampu membuat tampilan iklan dan dokumen palsu terlihat semakin profesional dan sulit dibedakan dari yang asli.

"Kehilangan kesempatan menonton pertandingan besar memang mengecewakan, tetapi menjadi korban penipuan akan terasa jauh lebih menyakitkan," ujar David Hanson, Menteri Negara di Kementerian Dalam Negeri Inggris yang menangani urusan penipuan.