TVRINews - Jakarta

Sebastian Beccacece berhasil membuat Ekuador sebagai tim yang sulit ditembus oleh lawan.

Sebastian Beccacece datang ke Tim Nasional Ekuador dengan beban besar. Ditunjuk menggantikan Felix Sanchez yang dipecat usai Copa America 2024, pelatih asal Argentina itu dituntut membawa La Tri lolos ke Piala Dunia 2026.

Pelatih asal Argentina itu langsung dihadapkan pada 12 pertandingan sisa kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Conmebol. Laga perdana di markas Brasil berakhir dengan kekalahan 0-1. Kekalahan tersebut membuat mereka turun ke peringkat keenam klasemen.

Ekuador asuhan Beccacece bukannya tak memberi perlawanan kepada Brasil. Usai gawang mereka dibobol Rodrygo pada menit ke-30, upaya mengejar ketertinggalan terus dilakukan. Beberapa kali peluang tercipta, namun belum mampu dikonversi menjadi gol.

Berselang tiga hari kemudian, Ekuador menjamu Peru. Moises Caicedo dan kawan-kawan mendominasi jalannya pertandingan dan berhasil menang dengan skor tipis 1-0. Tiga angka membawa mereka kembali ke empat besar klasemen.

Beccacece, yang pernah menjadi asisten Jorge Sampaoli di Tim Nasional Cili dan Argentina, dikenal sebagai pelatih yang mengutamakan permainan berintensitas tinggi. Ia mengombinasikan pertahanan disiplin dengan transisi menyerang yang cepat.

Strategi tersebut terbukti efektif di Ekuador. Dengan finis di peringkat kedua klasemen kualifikasi zona Conmebol, Beccacece membawa timnya meraih lima kemenangan, enam hasil imbang, dan hanya satu kekalahan.

Dari seluruh pertandingan itu, Ekuador mencatatkan 10 clean sheet dan hanya kebobolan dua gol. Solidnya lini pertahanan, menurut pelatih berusia 45 tahun tersebut, tidak lepas dari kualitas pemain yang dimiliki timnya.

"Itu bukan sesuatu yang terjadi dalam semalam. Butuh kerja keras, tetapi tidak dapat disangkal bahwa kami memiliki pemain bertahan kelas atas dan berpengalaman," kata Beccacece dalam wawancara dengan FIFA.

"Kami diberkahi dengan Piero Hincapie, Willian Pacho, Joel Ordonez, Felix Torres, dan seorang penjaga gawang hebat seperti Hernan Galindez yang telah menyelamatkan kami dalam banyak kesempatan, seperti saat melawan Kolombia dan Uruguai," ia menambahkan.

Setia kepada Sampaoli

Seperti layaknya anak muda Argentina, Sebastian Beccacece memiliki impian untuk menjadi pesepak bola profesional. Ia memulai perjalanan untuk menggapai mimpi tersebut melalui klub amatir Lavalle dan Juan XXIII.

Setelah enam tahun bermain sepak bola, akhirnya ia memutuskan untuk memupus mimpi karena tak melihat jalan menuju profesional. Karier yang ia ingin jalani berikutnya adalah menjadi pelatih.

Akademi Newell's Old Boys menjadi tempat pertamanya mengasah kemampuan menjadi pelatih. Ia diberi kepercayaan untuk menangani tim usia empat hingga 12 tahun.

Pertemuan dengan Jorge Sampaoli di kota kelahirannya, Rosario, Santa Fe, membuka jalan yang lebih besar. Ia diajak menjadi asisten di klub Peru, Sport Boys pada 2003.

Setelah itu, ke mana pun Sampaoli hijrah, ia selalu ikut di sampingnya. Kesetiannya kepada sang mentor tak perlu diragukan lagi. Ketika datang tawaran untuk mendampingi Marcelo Bielsa di Argentina pada Piala Dunia 2010, ia menolaknya.

"Saya setia kepadanya karena ia yang memberi saya kesempatan untuk memulai proyek ini (sebagai asisten) di usia yang sangat muda. Ia mempercayai saya ketika saya baru berusia 22 tahun," tutur Beccacece saat diwawancara Azul y Plomo.

Kesetiannya kepada Sampaoli akhirnya membuahkan pengalaman luar biasa, yakni mendampingi Cili di Piala Dunia 2014. Itu menjadi turnamen paling bergengsi pertama dalam karier Beccacece.

Selepas dari sana, Beccacece mulai menjalani peran sebagai pelatih kepala. Ia menerima tawaran dari Universidad de Chile, tapi hanya bertahan selama delapan bulan. Perjalanan berikutnya di Defensa y Justicia juga berdurasi sama.

Saat Beccacece tidak memiliki klub, Sampaoli menghubunginya dengan maksud mengajak bergabung menjadi asisten di Argentina. Saat itu, tim berjuluk Albiceleste sedang berjuang menembus Piala Dunia 2018.

Perjalanan Argentina dalam turnamen yang digelar di Rusia itu terhenti di babak 16 besar usai dikalahkan Prancis. Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) mengajukan tawaran kepada Beccacece untuk melatih tim U-20 yang kemudian diterimanya.

Hanya setahun Beccacece bertahan, kemudian ia melanjutkan perjalanan melatih klub. Ia sempat kembali dalam dua periode berbeda ke Defensa y Justicia, lalu menangani klub top Argentina, Independiente dan Racing Club.

21 Maret 2023 menjadi kesempatan pertama Beccacece menjadi pelatih di Eropa. Ia datang ke klub La Liga, Elche yang sedang berjuang keluar dari zona degradasi.

Tak banyak yang bisa diperbuatnya. Lima pertandingan awal selalu berakhir dengan kekalahan. Meski setelah itu sempat mendapatkan tiga kemenangan dan tiga imbang, Elche tetap terdegradasi karena menjadi juru kunci klasemen.

Kontrak Beccacece masih dipertahankan meski Elche bermain di kompetisi kasta kedua Spanyol. Satu musim penuh ia memimpin tim, namun gagal membawa promosi. Keputusan mundur pun diambil karena merasa gagal memenuhi ekspektasi.

Tugas Berat Menanti

Dari lima kali partisipasi di Piala Dunia, Ekuador hanya sekali mampu lolos dari fase grup. Mencapai babak 16 besar Piala Dunia 2006 masih belum bisa disamai pada edisi-edisi berikutnya.

Suporter Ekuador menaruh harapan besar terhadap Sebastian Beccacece. Dengan skuad yang dimiliki saat ini dan rentetan hasil kualifikasi serta uji coba jelang Piala Dunia 2026, keyakinan semakin membesar.

Ekuador tergabung ke dalam Grup E Piala Dunia 2026 akan bersaing dengan Jerman, Curacao, dan Pantai Gading. Di atas kertas, mereka memiliki peluang lolos ke babak gugur.

Di sisa waktu yang ada, Beccacece akan coba mempersiapkan tim asuhannya sebaik mungkin. Ia hanya ingin fokus kepada hal-hal positif dan menjaga api semangat tim seperti ketika berjuang di kualifikasi.

"Masih banyak ruang bagi kami untuk berkembang. Saya selalu mengatakan bahwa penting untuk belajar dari apa yang terjadi selama pertandingan, menerima umpan balik, dan terus meningkatkan diri," ujar Beccacece.

Biodata Sebastian Beccacece

Nama: Sebastian Andres Beccacece

Kelahiran: Rosario, Santa Fe (Argentina), 17 Desember 1980

Karier Pelatih

Sport Boys - asisten (2003)

Coronel Bolognesi - asisten (2004-2006)

Sporting Cristal - asisten (2007)

O'Higgins - asisten (2008-2009)

Emelec - asisten (2010)

Universidad de Chile - asisten (2011-2012)

Cile - asisten (2012-2015)

Universidad de Chile (2016)

Defensa y Justicia (2016-2017)

Argentina - asisten (2017-2018)

Argentina U-20 (2017-2018)

Defensa y Justicia (2018-2019)

Independiente (2019)

Racing Club (2020-2021)

Defensa y Justicia (2021-2022)

Elche (2023-2024)

Ekuador (2004-sekarang)

Prestasi

Defensa y Justicia

Recopa Sudamericana 2021