Pelatih Spanyol Luis de la Fuente (foto tengah) diyakini akan memanggil (kiri ke kanan) Pau Cubarsi, Mikel Oyarzabal, Rodri, dan Martin Zubimendi untuk Piala Dunia 2026. (TVRI/Grafis/Dede Mauladi) Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Madrid, Spanyol
Luis de la Fuente berhasil membawa Spanyol juara Piala Dunia 2026. Kontrak Luis de la Fuente sebagai pelatih La Roja hanya berlaku hingga Piala Eropa 2028 nanti.
Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) akan memperpanjang kontrak Luis de la Fuente sebagai pelatih Timnas Spanyol hingga 2030 atau sampai Piala Dunia 2030. Menurut sejumlah pers Spanyol, Presiden RFEF Rafael Louzan akan bertemu dengan Luis de la Fuente setelah musim panas ini berakhir yang kemungkinan besar akan terjadi sebelum kompetisi liga bergulir.
Saat ini, setelah berhasil membawa Timnas Spanyol juara Piala Dunia 2026, Luis de la Fuente kembali kepada keluarganya untuk beristirahat dan menikmati liburan setelah pertarungan panjang di Piala Dunia 2026 yang baru berakhir.
Spanyol juara Piala Dunia 2026 setelah menang 1-0 atas Argentina dalam laga final Piala Dunia 2026 pada Minggu (19/7/2026) lalu. Sukses Spanyol meraih gelar ditandai dengan sejumlah pencapaian seperti Lamine Yamal, Pau Cubarsi, dan Nico Williams, tiga pemain muda yang akan menjadi harapan Spanyol di masa depan, seperti di Piala Eropa 2028 dan Piala Dunia 2030 nanti.
Spanyol memang akan menghadapi sejumlah tantangan di depan. Selain Euro 2028, ajang Piala Dunia 2030 juga menjadi turnamen utama dalam agenda La Roja di masa depan. Apalagi, khusus Piala Dunia 2030, Spanyol akan menjadi salah satu tuan rumah turnamen ini bersama Portugal dan Maroko.
Karena itu, tidak ada pelatih yang lebih baik untuk mendampingi Spanyol kecuali Luis de la Fuente. Pelatih yang kini berusia 65 tahun tersebut satu dari empat pelatih yang telah membawa Spanyol mencatat sejarah dalam sepak bola dunia.
Pertama adalah Jose Villalonga yang membawa Spanyol juara Piala Eropa 1964, Luis Aragones, pelatih yang menginspirasi dengan gelar Piala Eropa (Euro 2008). Lalu Vicente del Bosque yang memberikan gelar pertama Piala Dunia pada 2010 yang kemudian dilanjutkan dengan trofi Piala Eropa 2012. Hingga kemudian Luis de la Fuente yang membawa Spanyol juara Piala Eropa 2024 dan kini Piala Dunia 2026.
Gelar Piala Dunia 2026 sekaligus mengakhiri penantian Spanyol yang sebelumnya tidak pernah juara selama 16 tahun sejak gelar Piala Dunia 2010 itu di Afrika Selatan. Karena itu, RFEF akan meyakinkan Luis de la Fuente untuk kembali menandatangani perpanjang kontrak yang akan membuatnya menangani Timnas Spanyol hingga 2030 nanti.
Saat ini, kontrak Luis de la Fuente dengan RFEF dalam menangani Timnas Spanyol hanya berlaku sampai berakhirnya Euro 2028. Namun, Rafael Louzan sudah memiliki gagasan untuk memperpanjang dan menyesuaikan kontrak yang ada. Kontrak baru ini penting karena mencerminkan prestasi seorang pelatih yang termasuk dalam jajaran elit dunia. Rafael Louzan menyatakan bahwa keinginannya adalah untuk segera duduk bersama pelatih tim nasional dan agennya, menegosiasikan perpanjangan kontrak.
“Kita dapat berasumsi bahwa Luis de la Fuente akan bersama kita untuk sementara waktu. Saya sudah menangani perpanjangan kontrak dia sebelumnya. Saya harus melaksanakan perpanjangan kontraknya yang penting, perlu, dan adil," kata Rafael Louzan.
"Sekarang mungkin terserah kita, sejauh yang kita bisa, untuk meningkatkan dan memperpanjang hubungan itu. Saya bangga dengan bagaimana dia membantu kami mencapai kesepakatan saat itu. Pada tahun 2030, kita memiliki janji dengan sejarah, dan kita ingin Luis de la Fuente menjadi bagian darinya," Rafael Louzan menambahkan.
Setelah musim panas, mereka akan duduk bersama, berbicara, dan melihat kapan momen yang tepat untuk menyelesaikan perpanjangan kontrak dan penyesuaian yang telah susah payah diraih. Tahun 2030 akan menjadi tahun bersejarah bagi olahraga Spanyol dan pelatih seperti Luis de la Fuente merupakan sosok yang sangat tepat.
Sebelumnya disebutkan bahwa perpanjang kontrak terakhir dengan Luis de la Fuente tidak mudah. Namun demikian, kesepakatan itu akhirnya terjadi. Luis de la Fuente datang ke tim utama dari Tim Nasional U-21, yang menyebabkan spekulasi tentang gaji yang jauh di bawah apa yang pantas diterima pelatih.
Setelah resmi menjadi pelatih Timnas Spanyol senior pada Desember 2022, Luis de la Fuente langsung membawa Spanyol juara Liga Negara Eropa 2022-2023. Tidak sampai di situ, dia kemudian membawa Spanyol juara Piala Eropa 2024 dan kemudian kini Piala Dunia 2026.
Dengan gelar Piala Dunia 2026 ini, Luis de la Fuente dalam pembicaraan kontrak nanti dalam posisi yang lebih baik tentunya. Di sisi lain, situasi yang beredar terkait pelatih tim nasional seperti kehadiran Carlo Ancelotti di Brasil, kedatangan Jurgen Klopp di Jerman, Zinedine Zidane di Prancis, dan Italia yang tengah berjuang meyakinkan Pep Guardiola menempatkan posisi pelatih tim nasional di level yang lebih baik.
Tantangan Spanyol
Piala Dunia 2030 tidak hanya menjadi tantangan bagi Spanyol untuk mempertahankan gelar yang mereka raih. Turnamen ini juga memberikan peluang bagi La Roja mematahkan trend buruk di mana juara bertahan sangat sulit untuk mempertahankan gelar.
Argentina yang mereka kalahkan contoh terakhir dari trend buruk tersebut. Dengan mempertahankan Luis de la Fuente, Spanyol setidaknya sudah memiliki persiapan awal untuk menatap tantangan tersebut. Mempertahankan gelar Piala Dunia dan juara di rumah sendiri, adalah dua hal yang selalu sulit diraih dalam sejarah Piala Dunia.
Dalam hal ini, mempertahankan gelar Piala Dunia adalah prestasi yang hampir mustahil, dan mengangkat trofi di depan para penggemar sendiri juga menjadi situasi yang langka. Spanyol, memiliki potensi untuk mematahkan trend tersebut.
Hanya ada dua negara yang pernah melakukannya, meraih dua gelar Piala Dunia secara beruntun. Italia pada 1934 dan 1938 dan Brasil pada 1958 dan 1962. Sementara terkait tuan rumah yang berhasil menjadi juara, tim terakhir yang mampu melakukannya adalah Prancis pada 1998 silam.
Sejak itu, belum ada negara tuan rumah yang berhasil memenangkan turnamen di kandang sendiri. Boleh jadi karena tuan rumah Piala Dunia setelah Prancis merupakan negeri yang memang tidak memiliki sejarah yang kuat di turnamen ini atau dari kualitas pemain seperti Amerika Serikat di Piala Dunia 2026 ini. Namun, Brasil pernah menjadi tuan rumah di Piala Dunia 2014 dan Jerman sebelumnya pada 2006 tapi kedua negara itu gagal menjadi juara di rumah sendiri.
Fakta ini telah menimbulkan banyak diskusi menarik yang dinilai semacam "kutukan" yang tampaknya menghantui negara-negara tuan rumah di abad ke-21. Meski demikian, melihat jauh ke belakang, ada momen di mana tuan rumah mendapatkan keuntungan dari status mereka sebagai tuan rumah.
Uruguai pada tahun 1930, ketika Celeste meresmikan sejarah Piala Dunia dengan mengangkat trofi di Montevideo. Empat tahun kemudian, pada 1934, Italia mengulangi prestasi tersebut, meraih gelar Piala Dunia di Roma. Setelah itu, lebih dari tiga dekade berlalu tanpa negara tuan rumah memenangkan turnamen, hingga Inggris berjaya di London pada Piala Dunia 1966.
Kemudian, Jerman Barat, di Munchen pada Piala Dunia 1974, dan Argentina, di Buenos Aires pada tahun 1978, bergabung dengan kelompok elit ini. Akhirnya, Prancis. Pada tahun 1998 di Paris, tim yang dipimpin oleh Zinedine Zidane memenangkan Piala Dunia pertama mereka.
Tahun 2030, Spanyol berpeluang membuat sejarah keuntungan sebagai tuan rumah terulang. Di Piala Dunia berikutnya, dengan Spanyol sebagai salah satu tuan rumah, tim nasional akan berusaha untuk menulis babak baru lainnya dalam sejarah sepak bola dunia. Hanya tim-tim tertentu yang bisa mencatat pencapaian tersebut. Spanyol salah satu yang berpeluang melakukannya.