Kapten Timnas Spanyol, Rodri, merayakan gelar Piala Dunia 2026 dengan rekan setimnya. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews – New Jersey, Amerika Serikat
Perencanaan jangka panjang, identitas permainan, dan penguatan kolektivitas menjadi pilar kampanye Spanyol menuju Piala Dunia 2026.
Kemenangan Spanyol atas Argentina (1-0) pada laga final Piala Dunia 2026 di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat (AS), Minggu (19/7/2026) petang waktu setempat lalu, bukan sekadar pencapaian gelar juara dunia kedua bagi tim Eropa tersebut.
Keberhasilan merebut kembali gelar juara ini setelah 2010 merupakan puncak dari sebuah proyek yang dikembangkan selama lebih dari satu dekade, yang berlandaskan pada kesinambungan, pengembangan pemain, serta identitas permainan yang matang.
Perjalanan Spanyol tersebut memberikan sejumlah pelajaran yang membantu menjelaskan mengapa tim ini berhasil mencapai puncak dunia sepak bola.
Identitas yang Dibangun dari Dasar
Spanyol telah mempertahankan gaya permainan yang jelas selama bertahun-tahun, mulai dari kategori usia muda hingga tim nasional senior. Penguasaan dan sirkulasi bola yang cepat, serta pemanfaatan ruang, tetap menjadi ciri khas La Roja, terlepas dari generasinya yang terus berganti.
Pada Piala Dunia 2026, model permainan ini diperkuat oleh pemain-pemain seperti Lamine Yamal, Nico Williams, dan Pedri, yang tumbuh dan berkembang dalam filosofi tersebut.
Di sisi lain, banyak tim yang tiba di Piala Dunia dalam kondisi masih beradaptasi dengan pola kerja pelatih. Carlo Ancelotti di Brasil misalnya, yang kerap berganti formasi dan belum memiliki gaya permainan yang mapan.
Lini Tengah sebagai Pemeran Utama
Sebagian besar keberhasilan Spanyol diraih berkat kualitas lini tengah mereka. Rodri, yang terpilih sebagai Pemain Terbaik Piala Dunia 2026, memegang peran kunci dalam mengatur tempo pertandingan, bahu-membahu bersama Pedri, Dani Olmo, dan Fabian Ruiz.
Sejumlah tim di Piala Dunia lalu sebenarnya juga memiliki barisan lini tengah hebat, Portugal dan Prancis misalnya. Portugal memiliki Bruno Fernandes, Bernardo Silva, Vitinha, Joao Neves, dan Ruben Neves, sedangkan Prancis mempunyai Michael Olise, Adrien Rabiot, hingga Aurelien Tchouameni.
Namun, para gelandang Prancis maupun Portugal terlihat tidak bekerja dalam satu unit yang kompak dan efisien. Selain itu, tidak ada yang memiliki kepemimpinan seperti Rodri, yang mampu mengatur ritme kapan tim harus menyerang dan bertahan.
Bertahan Tetap Harus Menguasai Bola
Spanyol mengakhiri Piala Dunia dengan pertahanan terbaik dalam turnamen tersebut, namun mekanisme pertahanan utama mereka adalah penguasaan bola. Dengan mengendalikan permainan di sebagian besar durasi pertandingan, mereka membatasi peluang lawan dan terhindar dari tekanan.
Tim seperti Brasil memiliki bek-bek berpengalaman seperti Marquinhos dan Gabriel Magalhaes. Namun sistem pertahanan mereka terbukti rentan pada momen-momen krusial. Kiprah Spanyol ini menegaskan bahwa kekokohan kolektif bermula jauh sebelum mencapai lini pertahanan terakhir.
Keberlanjutan dalam Kepemimpinan Teknis
Luis de la Fuente dipercaya melatih tim nasional senior setelah lebih dari 10 tahun berkecimpung di tim-tim kelompok usia muda Spanyol. Ia mengenal banyak pemain sejak masa mereka di tim muda dan terlibat langsung dalam pengembangan generasi yang sukses menjuarai turnamen tersebut.
Argentina memiliki Lionel Scaloni, yang juga membangun tim dengan mengenal karakter pemain. Namun, apa yang dilakukan Scaloni tidak sedalam De la Fuente. Pada akhirnya ia lebih percaya pada sederet pemain senior, yang ia kenal ketika sudah “jadi”.
Lain lagi di Brasil. Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) memilih Ancelotti, pelatih dengan rekam jejak luas di sepak bola Eropa, namun tanpa riwayat keterlibatan dalam struktur tim nasional Brasil. Setelah tersingkir dari Piala Dunia, CBF memutuskan untuk mempertahankan pelatih asal Italia itu di posisinya hingga tahun 2030.
Permainan Kolektif Mengangkat Kualitas Talenta
Meskipun Spanyol memiliki salah satu pemain paling berbakat dari generasi baru, Lamine Yamal, mereka tidak hanya mengandalkan kemampuan individu. Performa kolektif menjadi ciri khas utama tim sepanjang turnamen.
Secara fundamental gaya bermain, tim seperti Norwegia juga bermain sangat kolektif di Piala Dunia 2026. Tetapi tidak ada yang memungkiri jika The Vikings masih sangat tergantung pada sosok striker Erling Haaland, dalam mencetak gol.