Mesin gol Timnas Inggris, Harry Kane. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Madrid, Spanyol
Performa pemain di Piala Dunia 2026 bukan satu-satunya faktor yang pertimbangan untuk mendapatkan Ballon d'Or.
Piala Dunia 2026 yang baru saja usai justru membuat persaingan menuju Ballon d'Or semakin sulit diprediksi. Jika pada edisi-edisi sebelumnya turnamen sepak bola terbesar di dunia itu sering menjadi penentu utama peraih penghargaan individu paling bergengsi tersebut, tahun ini situasinya berbeda.
Penampilan para kandidat utama selama Piala Dunia tidak sepenuhnya mengubah peta persaingan, bahkan justru menambah ketidakpastian mengenai siapa yang paling layak membawa pulang trofi Ballon d'Or.
Sebelum Piala Dunia dimulai, sejumlah pemain Paris Saint-Germain (PSG) berada di barisan terdepan. Salah satu nama yang paling difavoritkan adalah Vitinha. Gelandang Portugal itu menjalani musim klub yang luar biasa dan sempat dianggap sebagai calon kuat peraih Ballon d'Or.
Namun, peluangnya merosot setelah Portugal tersingkir di babak 16 besar oleh Spanyol. Tak hanya gagal melangkah jauh, performa Vitinha sepanjang turnamen juga dinilai belum memenuhi ekspektasi sebagai kandidat pemain terbaik dunia.
Sebaliknya, Piala Dunia justru menjadi panggung bagi beberapa pemain yang sebelumnya tidak terlalu diunggulkan.
Dari kubu Spanyol, nama Lamine Yamal dan Rodri mencuri perhatian berkat penampilan impresif yang membantu La Roja menjuarai Piala Dunia 2026. Kesuksesan tersebut membuat keduanya melonjak dalam berbagai prediksi peraih Ballon d'Or.
Meski demikian, performa di Piala Dunia bukan satu-satunya faktor yang dipertimbangkan. Berdasarkan proyeksi yang dirilis Betfair, Harry Kane kini justru berada di posisi teratas sebagai kandidat terkuat peraih Ballon d'Or 2026.
Penyerang Bayern Munchen itu unggul atas Lamine Yamal, sementara Lionel Messi dan Kylian Mbappe menempati posisi berikutnya dalam persaingan yang sangat ketat.
Kane dinilai memiliki musim yang paling lengkap. Selain membawa Bayern meraih gelar domestik, ia juga membantu Inggris finis di peringkat ketiga Piala Dunia. Yang paling mencolok adalah produktivitasnya di depan gawang dengan torehan 61 gol dari hanya 51 pertandingan sepanjang musim.
Sementara itu, Lamine Yamal memiliki koleksi trofi yang tidak kalah mengesankan. Bintang muda Spanyol tersebut berhasil menjuarai Liga Spanyol, Copa del Rey, Piala Super Spanyol, serta Piala Dunia 2026. Kombinasi prestasi individu dan kolektif itu membuatnya terus menempel Kane dalam berbagai prediksi.
Menurut Betfair, klasifikasi tersebut merupakan hasil analisis yang dilakukan secara berkelanjutan sepanjang musim.
"Klasifikasi ini merupakan hasil analisis berbobot dan berkelanjutan yang terus menilai peluang setiap pemain berdasarkan statistik serta pola historis perkembangan penghargaan Ballon d'Or."
"Penilaian mempertimbangkan keseluruhan musim, bukan hanya Piala Dunia, termasuk gelar yang diraih, rekor individu, pengaruh pemain terhadap perjalanan tim nasional maupun klub, serta faktor popularitas dan dampak media, yang selama ini menjadi elemen penting dalam penentuan pemenang Ballon d'Or, khususnya dalam beberapa tahun terakhir," demikian pernyataan Berfair dikutip dari media Spanyol, AS.
Berikut persentase peluang peraih Ballon d'Or 2026:
- Harry Kane 19,50%
- Lamine Yamal 15,78%
- Lionel Messi 13,68%
- Kylian Mbappe 11,40%
- Rodri 9,32%
- Ousmane Dembele 3,42%
- Jude Bellingham 3,42%
- Michael Olise 2,44%
- Erling Haaland 2,23%
- Khvicha Kvaratskhelia 1,77%
Situasi tahun ini kembali memunculkan perdebatan klasik mengenai kriteria penilaian Ballon d'Or. Banyak pihak menilai penghargaan tersebut seharusnya lebih menitikberatkan performa selama satu musim penuh dibandingkan hanya mengutamakan penampilan dalam turnamen berdurasi sekitar satu bulan seperti Piala Dunia.
Sejarah menunjukkan bahwa Piala Dunia memang tidak selalu menjadi penentu. Pada 2010 misalnya, Spanyol sukses menjuarai Piala Dunia untuk pertama kalinya sehingga banyak yang memperkirakan Andres Iniesta atau Xavi Hernandez akan memenangkan Ballon d'Or.
Namun, penghargaan tersebut justru jatuh ke tangan Lionel Messi. Delapan tahun kemudian, Luka Modric berhasil merebut Ballon d'Or setelah membawa Kroasia melaju hingga final Piala Dunia 2018.
Banyaknya faktor yang dipertimbangkan, mulai dari performa individu, prestasi bersama klub dan tim nasional, hingga pengaruh seorang pemain sepanjang musim, perebutan Ballon d'Or 2026 diperkirakan akan menjadi salah satu yang paling terbuka dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga saat ini belum ada kandidat yang benar-benar unggul jauh, sehingga hasil akhirnya masih sangat mungkin ditentukan oleh bagaimana para pemilih menilai keseimbangan antara performa semusim penuh dan pencapaian di Piala Dunia.