TVRINews – Luque, Paraguai

Usulan CONMEBOL agar FIFA menurunkan 64 tim pada Piala Dunia 2030 sebelumnya sudah ditentang tiga konfederasi lainnya: UEFA, Concacaf, dan AFC

Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) telah meningkatkan desakan kepada FIFA agar Piala Dunia 2030 digelar dengan melibatkan 64 tim. Jika disetujui, langkah ini akan memungkinkan Uruguai, Argentina, dan Paraguai menjadi tuan rumah bagi lebih banyak pertandingan dibandingkan rencana saat ini. 

Sehari setelah final Piala Dunia 2026 yang dimenangi oleh Spanyol, Presiden CONMEBOL Alejandro Dominguez, menganggap format itu hampir pasti terwujud melalui pesan di jejaring sosial X. 

“Pada tahun 2030, Piala Dunia akan hadir di Uruguai, Argentina, dan Paraguai,” tulisnya, sembari mengusulkan peringatan satu abad turnamen tersebut “dengan kompetisi yang melibatkan 64 tim”.

FIFA belum mengonfirmasi perluasan jumlah peserta tersebut. Presiden FIFA Gianni Infantino, menyatakan bahwa masalah ini akan dikaji dan dibahas dalam komite-komite terkait setelah turnamen 2026—yang merupakan edisi pertama dengan 48 tim, meningkat dari 32 tim pada edisi-edisi sebelumnya—berakhir pada Minggu (19/7/2026) lalu. 

Piala Dunia dengan 64 tim berarti akan ada 128 pertandingan, dua kali lipat dari format yang digunakan antara tahun 1998 dan 2022. Keputusan akhir berada di tangan Dewan FIFA, yang terdiri dari perwakilan enam konfederasi. 

Usulan tersebut—yang awalnya diajukan oleh Ignacio Alonso, Presiden Asosiasi Sepak Bola Uruguai (AUF), kepada Dewan FIFA pada Maret 2025 dan kemudian didukung oleh Dominguez—menghadapi penentangan keras. 

Presiden UEFA (Eropa) Aleksander Ceferin, Presiden Concacaf (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia) Victor Montagliani, dan Presiden AFC (Asia) Salman bin Ibrahim Al Khalifa menyatakan penolakan mereka. 

Ceferin menyebutnya sebagai “ide buruk”, sementara para kritikus memperingatkan bahwa turnamen berskala sebesar itu akan menurunkan kualitas permainan, mengurangi nilai babak kualifikasi, serta membebani jadwal pertandingan yang sudah padat. 

Piala Dunia 2030 sendiri sudah akan menjadi turnamen dengan cakupan wilayah terluas dalam sejarah, yang tersebar di enam negara di tiga benua.

Pertandingan pembuka akan dimainkan di Amerika Selatan—masing-masing pembukaan dan satu laga di Uruguai, serta masing-masing satu pertandingan di Argentina dan Paraguai—sebagai penanda peringatan satu abad turnamen yang pertama kali digelar di Montevideo pada tahun 1930. Sedangkan pertandingan lainnya akan berlangsung di Spanyol, Portugal, dan Maroko.

Bagi Amerika Selatan, perluasan ini membawa insentif olahraga yang kuat: hal itu akan menjamin kualifikasi langsung bagi kesepuluh negara anggota CONMEBOL, termasuk Venezuela—satu-satunya negara yang belum pernah tampil di Piala Dunia. 

Di Uruguai, aspek ekonomi menjadi faktor kunci. Menurut mingguan Busqueda, Presiden Yamandu Orsi telah menyampaikan kepada AUF bahwa kelayakan investasi publik dan kemungkinan akses pendanaan internasional bergantung pada dijadikannya Stadion Centenario sebagai tuan rumah untuk lebih dari satu pertandingan.

Dominguez kerap menyuarakan tuntutan ini dalam berbagai kesempatan di depan publik. Sebut saja saat Kongres CONMEBOL di Quito, Ekuador pada bulan April lalu. 

Saat itu, Dominguez memakaikan ban kapten kepada Infantino dan mengaitkan momen peringatan satu abad tersebut untuk mengusulkan format khusus yang melibatkan 64 tim. Aksi ini ia akhiri dengan pernyataan dukungan Amerika Selatan terhadap pencalonan kembali Infantino pada tahun 2027. 

Presiden FIFA, yang selama masa jabatannya kerap mendorong penyelenggaraan turnamen dengan jumlah peserta lebih banyak, awalnya mendukung gagasan tersebut namun kemudian memilih untuk tidak berkomentar.