Pelatih Portugal, Jorge Jesus, dikontrak hingga Piala Dunia 2030. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews – Lisbon, Portugal
Pelatih baru Timnas Portugal Jorge Jesus berencana memanggil dua sampai tiga gelandang baru untuk skuad inti Selecao das Quinas.
Tersingkirnya Tim Nasional Portugal di babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 membuat pelatih Roberto Martinez (Spanyol) langsung mengundurkan diri.
Federasi Sepak Bola Portugal (FFF) langsung bergerak cepat dengan menunjuk Jorge Jesus (71 tahun) sebagai pelatih tim nasional, per 10 Juli lalu. Mantan pelatih klub Liga Pro Arab Saudi, Al Nassr, itu dikontrak untuk masa jabatan empat tahun atau sampai Piala Dunia 2030, saat Portugal menjadi tuan rumah bersama Spanyol dan Maroko.
Setelah tersingkir dari Piala Dunia 2026, laga terdekat Selecao das Quinas adalah UEFA Nations League A, menjalani laga-laga di Grup 4 antara akhir September hingga pertengahan November mendatang.
Jesus menegaskan tidak akan merombak total susunan skuad menjelang debutnya di UEFA Nations League. Ia menilai bahwa waktu persiapan yang terbatas menjadikan eksperimen besar-besaran sebagai langkah berisiko, menyusul tersingkirnya tim di babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Pendekatan pragmatis ini menjadi sinyal kuat bahwa Cristiano Ronaldo, yang kini berusia 41 tahun, tetap menjadi bagian dari rencana utama pelatih yang pernah menangani sejumlah klub elite seperti SL Benfica (2009-2015, 2020-2021), Sporting CP (2015-2018), CR Flamengo (2019-2020), dan Fenerbahce S.K (2022-2023) tersebut.
“Fakta kami tersingkir di babak 16 besar lalu datang pelatih baru mengubah susunan pemain ini. Tidak, hal itu tidak akan terjadi. Saya tidak bodoh,” ujar Jesus kepada Canal 11, saat ditanya apakah ia akan melakukan gebrakan dengan mengubah komposisi pemain Portugal.
“Lagipula, tidak banyak waktu untuk merombak pemain. Dan saat ini pun pilihan pemain yang tersedia tidak terlalu banyak. Dalam empat tahun ke depan, pemain-pemain baru pasti akan bermunculan, saya yakin itu.
“Namun untuk saat ini, dari satu bulan ke bulan berikutnya, susunan pemain tidak akan jauh berbeda dari mereka yang sebelumnya dipanggil. Mungkin ada dua atau tiga wajah baru, kira-kira begitu. Tapi selebihnya tidak akan banyak berubah.”
Pada September, Portugal akan menghadapi tamunya Wales (24/9) dan tandang ke Norwegia (27/9). Tandang ke Denmark (1/10) dan menjamu Norwegia (4/10) menjadi agenda Portugal di bulan Oktober. Sedangkan pada November, Portugal akan menjamu Denmark (14/11) dan tandang ke Wales (17/11).
“Norwegia pernah menyingkirkan Brasil di Piala Dunia, dan Denmark memiliki sejumlah pemain yang memperkuat tim-tim terbaik Eropa. Norwegia bahkan memiliki sosok yang mungkin merupakan penyerang terbaik dunia saat ini (Erling Haaland). Semua sudah tahu kualitas tim-tim ini,” ucap Jesus saat disinggung calon lawan-lawan awal Portugal di UEFA Nations League.
Saat ditanya apakah ajang UEFA Nations League bisa dimanfaatkan Portugal untuk membangun tim, Jesus menjelaskan bahwa jadwal kompetisi yang berbeda tahun ini, saat sebuah tim akan memainkan empat atau lima pertandingan secara berturut-turut, sangat membantunya.
“Sekarang, dengan rangkaian empat atau lima pertandingan, saya bisa berbagi (informasi) dengan mereka (pemain maupun staf),” kata Jesus.
“Mungkin ada yang bilang, pertandingannya digelar setiap tiga hari sekali. Oke, tapi kenyataannya ada pemain yang bermain dan ada yang tidak. Kami akan memiliki beberapa sesi latihan untuk bekerja dan berkembang demi masa depan.
“Bagi saya, format ini lebih baik. Saya akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama para pemain; ada tambahan waktu 15 hari untuk bekerja sama.
“Dulu, saat pemain kembali dari tim nasional, mereka membawa gagasan yang berbeda. Cara latihan yang berbeda, rencana permainan yang berbeda, gaya komunikasi yang berbeda.
“Sekarang situasinya justru sebaliknya. Saya berada di tim nasional. Saat mereka datang dari klub masing-masing, gagasannya memang sama, namun tidak ada pengulangan materi atau sesi latihan yang memadai—kondisinya berbeda.”
Fokus Utama Performa dan Piala Dunia 2030
Disinggung soal target utama yang dibebankan kepadanya, Jesus menyebut fokus utamanya adalah Piala Dunia 2030 di Portugal, yang juga menjadi prioritas dirinya.
“Saya sangat bangga bisa melatih tim nasional negara saya, namun ada juga kemungkinan Piala Dunia 2030 akan digelar di Portugal. Saya memimpikan kemungkinan itu dan Portugal memiliki segala syarat yang dibutuhkan,” ucapnya.
Meski tetap mempertahankan kerangka inti tim—termasuk megabintang Al-Nassr, Ronaldo—Jesus menuntut peningkatan signifikan dalam level performa agar tim tetap kompetitif di kancah Eropa.
Menyinggung soal standar Portugal, Jesus menambahkan: “Jika tim nasional tidak bermain lebih baik dibandingkan saat Piala Dunia, saya pun tidak akan bisa memberikan hasil yang lebih baik. Bersama staf pelatih, kami harus bermain lebih baik.
“Portugal memiliki pemain-pemain hebat namun jarang meraih gelar juara. Portugal memenangi Euro 10 tahun lalu dan menjuarai dua edisi Nations League—kompetisi yang mungkin bukan yang paling bergengsi, tetapi merupakan kompetisi tersulit karena Anda selalu berhadapan dengan tim-tim terbaik Eropa. Baru tahun lalu saja, Portugal, Prancis, Jerman, dan Spanyol berhasil mencapai babak final.”
Terkait soal aspek fisik, Jesus mengakui hal itu memang berpengaruh. Namun, baginya itu bukanlah faktor utama yang menentukan gaya permainan tim.
“Dalam sepak bola tentu saja kondisi fisik memiliki peran pada momen-momen tertentu dalam pertandingan. Namun kemampuan teknis dan pemahaman taktis sering kali bisa memberikan Anda keunggulan,” ucapnya.