TVRINews - London, Inggris

Legenda Brasil saat juara Piala Dunia 2002, Gilberto Silva, mengaku tertarik melihat bagaimana negara-negara peserta akan memanfaatkan set-piece di Piala Dunia 2026. 

Tren gol dari situasi bola mati memang sedang naik daun di sepak bola klub, tetapi FIFA menilai dominasi set-piece tidak akan menjadi faktor utama di Piala Dunia 2026. 

Hal itu diungkapkan oleh anggota Technical Study Group (TSG) FIFA dalam sebuah media roundtable yang digelar beberapa waktu lalu, sebelum turnamen dimulai di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, 11 Juni-19 Juli 2026.

Diskusi tersebut membahas berbagai tren terbaru sepak bola, termasuk spesialisasi bola mati ala Arsenal yang musim ini sangat mencuri perhatian di Premier League. Klub asal London itu bahkan dijuluki “raja set-piece” setelah memecahkan rekor jumlah gol terbanyak dari sepak pojok dalam satu musim Premier League.

Mantan gelandang Arsenal dan juara Piala Dunia 2002 bersama Brasil, Gilberto Silva, mengaku tertarik melihat bagaimana negara-negara peserta akan memanfaatkan strategi serupa di Piala Dunia 2026. 

Namun, ia meragukan efektivitasnya bisa sebesar di level klub. “Saya tertarik melihat bagaimana tim-tim lain mendekati hal ini,” kata Gilberto Silva, dikutip dari FIFA.com.

“Kita melihat musim ini, terutama di Premier League bersama Arsenal. Dalam beberapa tahun terakhir, tendangan sudut dan bola panjang tidak terlalu sering digunakan dibandingkan saat saya bermain, ketika situasi seperti itu jauh lebih umum. Beberapa tahun terakhir permainan berkembang, dengan tim membangun serangan dari penjaga gawang,” ia menambahkan.

“Tapi saya tidak terlalu yakin Piala Dunia akan sama, karena Anda tidak punya banyak waktu untuk mempersiapkan tim dalam turnamen seperti ini. Tentu saja itu bisa menjadi senjata dan tim akan menggunakannya, tetapi bukan sebagai senjata utama,” ujar Silva.

“Saya memperkirakan pertandingan-pertandingan ketat, dengan banyak aspek pragmatis dan tim-tim akan mencoba memanfaatkan transisi untuk membongkar pertahanan lawan.”

Selain soal bola mati, FIFA juga menyoroti potensi dampak cuaca panas di Piala Dunia 2026. Turnamen FIFA Club World Cup (Piala Dunia Antarklub) 2025 di Amerika Serikat tahun lalu dianggap sebagai simulasi penting menjelang Piala Dunia dan memberi banyak pelajaran terkait kondisi fisik pemain.

Tom Gardner selaku Lead of Football Performance Insights menjelaskan bahwa intensitas pertandingan di Club World Cup relatif mirip dengan Piala Dunia 2022, meskipun faktor cuaca panas tetap menjadi perhatian besar.

“Secara umum, Club World Cup menunjukkan tingkat intensitas pertandingan yang sangat mirip dibandingkan Piala Dunia 2022 ketika kami melihat beberapa pertandingan penting,” ujar Gardner.

“Jadi saya yakin panas bisa menjadi faktor dalam bagaimana tim mengelola kondisi mereka. Tetapi kami tidak berharap melihat output fisik yang sangat berbeda dibanding 2022, seperti yang kami lihat di Club World Cup 2025.”

Gardner juga menegaskan bahwa FIFA sudah mengambil banyak pelajaran penting dari turnamen tersebut, terutama dalam aspek operasional pertandingan.

“Kami tentu mendapatkan banyak pelajaran. Kami memiliki seluruh tim di lokasi: keamanan dan keselamatan, operasional stadion, akses masuk dan keluar penonton, semuanya diamati secara detail,” kata Gardner,

TSG FIFA sendiri akan bertugas menganalisis seluruh pertandingan sepanjang Piala Dunia 2026. Kelompok ini dipimpin oleh mantan pelatih Arsenal, Arsene Wenger, yang kini menjabat sebagai Chief of Global Football Development FIFA. 

Selain Gilberto Silva, TSG juga diperkuat nama-nama besar lainnya yang juga para legenda seperti Jurgen Klinsmann dan Pablo Zabaleta, serta didukung tim analis dan spesialis data FIFA.