Pemain Maroko berpose untuk foto bersama sebelum pertandingan final Piala Arab FIFA 2025 antara Yordania dan Maroko di Stadion Lusail, Lusail, Qatar, 18 Desember 2025. Foto: Nikku/Xinhua
TVRINews - Amsterdam, Belanda
Menurut Khalid Sinouh, kiper Timnas Maroko era 2004-2005, tren pemain keturunan Maroko yang memilih membela negara asal orang tuanya makin kuat.
Mantan kiper Timnas Maroko berdarah Belanda, Khalid Sinouh, menilai Tim Nasional Maroko kini menjadi pesaing serius bagi Timnas Belanda. Bukan hanya di Piala Dunia 2026 mendatang, melainkan juga dalam memperebutkan talenta-talenta muda keturunan Maroko.
Dikutip dari Sportnieuws.nl, dalam perbincangannya bersama Robert Maaskant di program De Maaskantine, Sinouh menyebut daya tarik Maroko kian sulit diabaikan oleh para pemain muda.
Belanda dan Maroko memang dua negara yang memiliki hubungan erat, terutama karena banyaknya warga keturunan Maroko yang tumbuh dan berkembang di Negeri Kincir Angin. Sinouh sendiri lahir dan besar di Belanda dari keluarga Maroko. Ia sempat berkarier di kompetisi tertinggi Belanda, Eredivisie, sebelum akhirnya memilih membela Timnas Maroko.
Menurut kiper Maroko era 2004-2005 ini, tren pemain keturunan Maroko yang memilih membela negara asal orang tuanya makin kuat. Jika sebelumnya banyak pemain mencoba peruntungan lebih dulu bersama Belanda, kini makin banyak yang langsung memilih Singa Atlas, julukan Timnas Maroko.
Ia kemudian mencontohkan nama-nama seperti Ismael Saibari dan Anass Salah-Eddine sebagai bagian dari fenomena tersebut.
“Mereka berada di jalur yang sangat tepat dan saya pikir makin menarik bagi pemain Maroko-Belanda untuk memilih Maroko,” ujar Sinouh. “Itu benar-benar menjadi pesaing bagi federasi Belanda dan Timnas Belanda,” tambahnya.
Meski demikian, Sinouh menegaskan dirinya tidak pernah secara mutlak menyarankan pemain untuk memilih Maroko. “Sama sekali tidak. Saya selalu mengatakan mereka harus mengikuti kata hati. Itu yang utama. Jika kamu memilih Timnas Belanda, itu pilihanmu. Tetapi, preferensi pribadi saya adalah Maroko,” katanya.
Sinouh juga berbicara tentang identitas dan pengalamannya hidup di Belanda. “Orang tua saya orang Maroko, seluruh keluarga saya juga, begitu pula teman-teman saya. Banyak lingkungan saya yang Maroko. Saya mencintai makanan, budaya, dan agamanya," ucapnya.
"Saya tumbuh besar di Belanda, jadi saya juga mencintai negara ini, tetapi saya memang harus menghadapi pilihan (dan kemudian memilih Maroko),” tuturnya. Ia mengaku tidak merasakan hambatan berarti selama masih aktif sebagai pemain.
“Ruang ganti itu beragam, jadi semuanya berjalan baik di sana. Perbedaannya justru terasa setelah saya pensiun. Saya mencoba banyak hal, tetapi saya merasakan bahwa Anda harus berhadapan dengan dunia yang sangat putih, terutama di level jabatan administratif,” ungkapnya.
Sinouh pun berharap ada lebih banyak pelatih keturunan Maroko atau negara lain yang terkoneksi dengan Belanda seperti Suriname, yang mendapat kesempatan menjadi pelatih kepala di Belanda. Ia menyebut dua nama yang menurutnya layak, yaitu Nourdin Boukhari dan Said Bakkati.
“Anda tidak bisa mengatakan tidak ada pelatih Maroko atau Suriname yang mampu menjadi pelatih kepala. Menurut saya ada, tetapi pertanyaannya apakah mereka diberi kesempatan,” tegasnya.
Ia kemudian menambahkan, “Apakah mereka menginginkannya itu soal lain. Tetapi apakah pelatih lain selalu punya ambisi itu? Kadang jabatan itu datang begitu saja dan Anda mengalir ke dalamnya. Menurut saya itu sering terjadi, dan itu tidak selalu berarti seseorang sudah benar-benar siap.”
Kini, setelah pensiun, Sinouh aktif sebagai agen, mantan direktur teknik, dan menjalankan sekolah kiper miliknya sendiri. Melalui pengalamannya, ia terus menyuarakan pentingnya keberagaman dan kesempatan yang setara di dunia sepak bola Belanda.