Maskot-maskot Piala Dunia sejak 1966, menambah daya tarik turnamen. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - New York, Amerika Serikat
Bagian kedua dari penilaian sejauh mana maskot berperan sebagai wajah turnamen.
Setelah tulisan bagian pertama mengenai delapan maskot pertama, inilah delapan maskot berikutnya yang terbilang lebih baik.
Simak bagaimana standar sudah tertera sejak kemunculan maskot enam dekade lalu. Yang terbaik, setidaknya menurut ESPN, adalah yang paling unik dan berani menabrak kelaziman.
Silakan menikmati hitung mundur bagian kedua maskot terbaik.
8. Fuleco (Brasil 2014)
FIFA mungkin percaya bahwa seekor armadillo yang peduli lingkungan hidup bukan hanya akan mengatasi kritik terhadap imbas ekologis gelaran Piala Dunia, tapi juga dukungan. Fuleco, merupakan perpaduan kata-kata "futebol" dan "ecologia", sehingga karakternya diperkirakan makhluk dari hutan hujan Amazon. Perancangnya tampak agak nekad dengan karakter yang terlihat bersemangat ini.
7. Goleo VI dan Pille (Jerman 2006)
Singa tanpa celana dan bisa bernyanyi membuat efek dari perangkat lunak komputer menjadi tidak diperlukan. Namanya Goleo VI, diduga dari ayah singa yang berteriak "Go Leo!" saat anaknya bermain bola.
Goleo VI mempunyai teman sebuah bola yang juga bisa berbicara dan menjadi kamus berjalan soal pengetahuan sepak bola.
Memang bisa membingungkan, tapi tampilan maskot tradisional Goleo VI dan Pille menjadi luar biasa ketimbang karakter gim video belaka.
6. Pique (Meksiko 1986)
Jika muncul saat ini, ia mungkin akan mendapat cibiran. Beberapa segi desainnya tampak berlebihan. Namun, Pique masih merupakan sosok yang layak dicintai.
Ia mencuat dari era 1980-an seperti mimpi surealis Meksiko. Pique adalah cabai yang bermain bola, dan barang pedas hanya salah satu dari dua saja wakil flora yang tampil sebagai maskot turnamen.
5. Footix (Prancis 1998)
Terpacu dan terinspirasi oleh simbol nasional, yakni ayam jantan Galia, Footix terlihat berkomitmen pada permainan global ini, terutama dengan tapak kaki yang seperti sepatu bola. Footix juga menelurkan catatan khusus: menjadi maskot terakhir yang mengantar tuan rumah turnamen menjadi kampiun. Sebagai catatan tambahan, ia merupakan ayah dari Ettie, ayam betina muda yang merupakan maskot Piala Dunia Wanita 2019.
4. Naranjito (Spanyol 1982)
Cengiran lebar maskot sporty ini bukan hanya melawan tren desain konservatif, tapi juga memberikan kesegaran yang dibutuhkan sebuah turnamen hingga disebut sebagai salah satu yang terbaik. Yang menarik, Naranjito juga membintangi sebuah acara teleevisi yang menyertakan kalangan sitrus lainnya. Mereka tampil bersama Imarchi, sebuah robot.
Striker, menggambarkan kelaziman hidup sehari-hari dan kegembiraan.
Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
3. Striker (AS 1994)
Striker mungkin terlalu umum di Amerika Serikat. Namun, karakter anjing karya Warner Bros. Animation ini tampak sangat cocok dengan pola pikir budaya Amrik. Tak mengherankan bila masyarakat memilihnya untuk mewakili turnamen sepak bola pertama di sana. Apalagi, Striker terlihat memiliki tampilan tulus yang mendorong anak-anak untuk terus bermain.
2. Willie (Inggris 1966)
Willie tampak siap berlaga dengan postur dan kostum Union Jack tegas dengan tulisan jelas "World Cup". Rasanya enggak ada yang berniat macam-macam dengan sang singa yang mempunyai ekspresi seperti itu, walau sepatunya tak ada pul.
Maskot pembuka jalan, favorit banyak orang, yang langsung menetapkan standar. Belum lagi ada lagu yang dibuatkan baginya, dengan pernyataan sebagai "raja baru sepak bola". Semuanya menghormati Willie.
1. Ciao (Italia 1990)
Inilah yang terjadi ketika perancang maskot menepis jauh-jauh pendekatan langsung dan konservatif, lalu menerapkan seni kubisme. Tampillah Ciao, sebuah figur tongkat unik sekaligus menarik. Ciao dinilai secara tepat mewakili obsesi terhadap sepak bola dengan bola sebagai kepalanya.
Lapisan kedalamannya menawan. Bila dirombak, desain Ciao adalah tulisan "Italia". Maskot ini bukan tipe yang cocok berada di museum.