TVRINews - Tijuana, Meksiko

Alireza Jahanbakhsh mengenang insiden ketika ia dan seorang temannya dihentikan oleh sekelompok pria bertopeng dan bersenjata di Meksiko, namun akhir ceritanya mengejutkan.

Kapten Timnas Iran, Alireza Jahanbakhsh, mengungkapkan kisah tidak biasa yang dialaminya di Meksiko menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026. Pemain sayap veteran tersebut menceritakan pengalaman menegangkan saat dirinya pernah menjadi korban perampokan oleh pria-pria bersenjata yang diduga terkait kartel narkoba.

Namun akhirnya Jahanbakhsh dilepaskan tanpa mengalami cedera setelah para pelaku mengetahui bahwa ia berasal dari Iran. Menurut laporan Al Jazeera dikutip Jumat (12/6/2026), Jahanbakhsh membagikan cerita tersebut ketika skuad Iran mulai beradaptasi di kamp utama mereka di Tijuana, Meksiko. 

Tim Melli memilih bermarkas di kota perbatasan tersebut selama turnamen dan hanya akan memasuki Amerika Serikat saat menjalani pertandingan sebelum kembali ke Meksiko.

Berbicara mengenai reputasi Meksiko yang kerap dikaitkan dengan kekerasan kartel, Jahanbakhsh mengatakan bahwa ia pernah mendengar sejumlah kelompok kriminal di negara itu memiliki pandangan positif terhadap warga Iran. Pengalaman pribadinya, menurut sang kapten, menjadi salah satu alasan mengapa ia memercayai cerita tersebut.

Jahanbakhsh mengenang sebuah insiden ketika ia dan seorang temannya dihentikan oleh sekelompok pria bertopeng dan bersenjata. Mereka dipaksa menyerahkan barang-barang berharga serta barang bawaan lainnya. Situasi mencekam itu kemudian berubah ketika para pelaku mulai menanyakan asal negara korban mereka.

"Setelah mereka mengetahui kami berasal dari Iran, sikap mereka berubah," kata Jahanbakhsh. Ia menjelaskan bahwa para pria tersebut menjadi lebih santai dan akhirnya membiarkan dirinya bersama sang teman pergi tanpa mendapat perlakuan lebih lanjut. Meski tidak merinci kapan peristiwa itu terjadi, ia mengaku pengalaman tersebut sangat membekas dalam ingatannya.

Tidak hanya itu, Jahanbakhsh juga mengungkapkan bahwa dirinya menerima pesan yang tidak kalah mengejutkan menjelang keberangkatan ke Piala Dunia yang selain di Meksiko, juga digelar di Amerika Serikat dan Meksiko. 

Menurutnya, sebuah kartel di Meksiko mengirimkan pesan yang berbunyi, "Kami mencintai Iran, dan kalian berada di bawah perlindungan kami."

Pengakuan tersebut segera menarik perhatian publik sepak bola karena sifatnya yang tidak biasa. Iran memang menjadi salah satu peserta Piala Dunia yang mendapat sorotan besar selama turnamen berlangsung. 

Selain faktor olahraga, situasi politik di Timur Tengah dan berbagai ketegangan diplomatik yang melibatkan Iran turut membuat keberadaan mereka diawasi secara ketat.

Otoritas Meksiko dilaporkan memberikan pengamanan tambahan bagi delegasi Iran selama berada di Tijuana. Langkah tersebut melengkapi protokol keamanan standar FIFA yang diterapkan kepada seluruh peserta turnamen. 

Saat tiba di Meksiko beberapa waktu lalu, para pemain Iran bahkan terlihat mengenakan pin khusus untuk mengenang korban serangan rudal mematikan yang terjadi di negara mereka.

Lepas dari itu, di tengah berbagai cerita di luar lapangan, fokus utama Iran tetap tertuju pada performa di Piala Dunia 2026. Sebagai salah satu pemain paling berpengalaman dalam skuad, Alireza Jahanbakhsh diharapkan menjadi pemimpin yang mampu membawa Team Melli melampaui fase grup dan mencatat sejarah baru.

Winger yang telah tampil di beberapa edisi Piala Dunia itu menegaskan tekadnya untuk membantu Iran meraih pencapaian terbaik di panggung sepak bola terbesar dunia. 

Jahanbakhsh yang kini berusia 32 tahun lebih banyak berkarier di Eropa. Ia di antaranya pernah memperkuat NEC Nijmegen (Belanda), Feyenoord (Belanda), Brighton and Hove Albion (Inggris), dan terakhir musim lalu membela FCV Dender (Belgia).