TVRINews - Los Angeles, Amerika Serikat

Mauricio Pochettino bukan pelatih fenomenal tapi dia mendapatkan kesempatan menangani klub besar.

Setiap pelatih memiliki keunikan tersendiri. Tidak terkecuali Mauricio Pochettino, pelatih Timnas Amerika Serikat. Bagi pria asal Argentina ini, lemon bisa menyerap energi negatif. Ini adalah tradisi yang sudah dilakukannya di awal-awal kariernya. Karena itu, bukan hal yang baru jika di meja kerjanya ada sekeranjang lemon.

"Saya bisa menggantinya satu hingga tiga hari. Namun, jika tidak ada (Presiden) Daniel Levy, lemon itu bisa bertahan sekitar satu hingga dua bulan," kata Mauricio Pochettino tertawa dalam sebuah wawancara dengan The Mirror, saat dirinya masih sebagai pelatih Tottenham Hotspur.

Faktanya, bersama Mauricio Pochettino, Tottenham Hotspur meraih sejumlah pencapaian mengesankan. Mauricio Pochettino mengubah Tottenham Hotspur menjadi penantang gelar Liga Inggris yang konsisten dan klub yang selalu memiliki peluang untuk tampoil di ajang Eropa.

Prestasi utamanya membawa Tottenham Hotspur ke final Liga Champions pada musim 2018-2019. Tottenham Hotspur juga finis di posisi kedua Liga Inggris 2016-2017. Meski tanpa gelar, Mauricio Pochettino termasuk pelatih yang akan diingat oleh fans Tottenham Hotspur.

Wajar pula jika saat ini selalu muncul isu tentang kemungkinan dirinya kembali ke klub asal London tersebut. Semua itu karena performa Tottenham Hotspur musim ini yang sangat buruk, bahkan terancam degradasi setelah hingga kini ada di posisi ke-17 klasemen sementara.

Yang menarik, semua isu tersebut semakin kencang justru ketika Piala Dunia 2026 sudah di depan mata. Masa depan Mauricio Pochettino sebagai pelatih Timnas Amerika Serikat pun menjadi pembahasan, apakah dia pantas mendapatkan kontrak baru. Kontrak Mauricio Pochettino sebagai pelatih Amerika Serikat akan berakhir di musim panas ini.

Selain Tottenham Hotspur, sejumlah klub seperti Real Madrid bahkan dikaitkan dengan kemungkinan membawa Mauricio Pochettino ke Santiago Bernabeu. Namun, disebutkan bahwa kemungkinan itu tergantung dari pencapaian Mauricio Pochettino bersama Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 2026 ini.

Meski bukan pelatih yang fenomenal, kenyataannya Mauricio Pocettino memiliki magnet yang menarik perhatian sejumlah klub besar. Tottenham Hotspur hanyalah satu dari sejumlah klub dalam perjalanan karier sang pelatih.

Mauricio Pochettino memulai karier kepelatihannya di Espanyol sejak 2009 hingga 2012. Espanyol adalah klub Eropa pertama Mauricio Pochettino ketika masih sebagai pemain setelah dirinya meninggalkan Newell's Old Boys.

Di klub ini, Mauricio Pochettino berhasil mengangkat tim dari zona degradasi. Dia kemudian menangani Southampton pada 2013-2014. Di klub ini pula, Mauricio Pochettino mengubah Southampton menjadi tim yang mampu memberikan kejutan klub-klub besar.

Dari pencapaiannya di Southampton itu pula, Mauricio Pochettino menarik perhatian Tottenham Hotspur. Hingga kemudian pada Mei 2014 dia resmi menangani Tottenham Hotspur. Dia adalah pelatih pertama Tottenham pertama yang mencapai 100 kemenangan di Liga Inggris.

Perjalanan kariernya sebagai pelatih berlanjut di Paris. Ya, bahkan klub mewah seperti Paris Saint-Germain tertarik menjadikannya sebagai pelatih. Dimulai pada Januari 2021, kariernya di klub ini berakhir pada Juli 2022.

Mauricio Pochettino mampu memenangi trofi pertamanya sebagai pelatih yaitu juara Ligue 1 2021-2022, Piala Prancis 2020-2021, dan Piala Super Prancis 2020. Pencapaiannya di klub Paris itu membawanya kembali ke London, kali ini sebagai pelatih Chelsea. Namun, kariernya bersama The Blues tidak bertahan lama, hanya semusim (2023-2024). Pada September 2024 dia pun resmi menangani Timnas Amerika Serikat.

Mauriciou Pochettino mendapatkan cukup banyak dukungan termasuk dari sejumlah legenda hidup The Stars and Stripes, seperti Alexi Lalas. Menurut mantan bek Timnas Amerika Serikat era 1990-an ini, dalam memilih menurunkan pemain, Mauricio Pochettino sudah tepat. Saat uji coba pada akhir Maret 2026 lalu, Mauricio Pochettino menurunkan Cristian Roldan daripada Johnny Cardoso.

Ini adalah pilihan yang membingungkan bagi banyak penggemar karena Johnny Cardoso bermain di level tertinggi di Eropa bersama Atlético Madrid, sementara Cristian Roldan menghabiskan seluruh kariernya di Major League Soccer. "Ada penggemar yang tidak bisa memahami hal itu, tetapi saya rasa Mauricio Pochettino tidak peduli," kata Alexi Lalas dalam podcast State of Union, akhir April lalu.

Cristian Roldan telah mendapatkan waktu bermain yang jauh lebih banyak sejak Timnas Amerika Serikat ada di bawah asuhan Mauricio Pochettino daripada Johnny Cardoso. Hal ini mengejutkan banyak orang, karena Johnny Cardoso sering dianggap sebagai pemain inti dengan potensi lebih baik menjelang turnamen.

Bahkan, Mauricio Pochettino memberikan pujian untuk gelandang Seattle Sounders itu. Dia menyatakan bahwa Cristian Roldon sebagai anutan bagi skuadnya. “Dia adalah apa yang kami butuhkan. Kami membutuhkan pemain yang percaya diri, memiliki keyakinan diri, sedikit arogan, sedikit nakal, dan kompetitif," kata Mauricio Pochettino.

Harapan publik sepak bola Amerika Serikat kini ada di pundak Mauricio Pochettino. Mungkin dibutuhkan begitu banyak lemon untuk menciptakan energi positive dari tugasnya sebagai pelatih Amerika Serikat. Apalagi, sepak bola di Negeri Paman Sam ini bukanlah olahraga yang memiliki banyak fans. Hanya karena Piala Dunia, sepak bola kini menjadi perhatian besar.

Sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, pertanyaan besar terhadap Mauricio Pochettino pun muncul ke permukaan. Mampukah dia membawa Amerika Serikat melangkah lebih jauh? Soal target, Mauricio Pochettino pernah menyatakan: "Untuk meraih kemenangan. Karena di negeri ini, apa pun cabang olahraganya dan siapa pun atletnya, saat memulai kompetisi, tujuannya adalah menang. Termasuk sepak bola.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa target posisi terbaik di Piala Dunia 2026 menjadi yang utama. Amerika Serikat mendapat keuntungan dari dukungan suporter. Atmosfer ini mampu diyakini meningkatkan performa pemain.

Pengalaman negara seperti Korea Selatan menjadi inspirasi pada Piala Dunia 2002 silam. Mauricio Pochettino ingin memaksimalkan momentum tersebut untuk mencapai target terbaik di Piala Dunia 2026 nanti.

Biodata Mauricio Pochettino

Nama: Mauricio Roberto Pochettino Trossero
Kelahiran: Murphy, 2 Maret 1972, Argentina

Kaier Bermain

Newell's Old Boys (1989-1994)
Espanyol (1994-2001)
Paris Saint-Germain (2001-2003)
Bordeaux (2003-2004)
Espanyol (2004-2006)
Timnas Argentina (1999-2002)

Karier Melatih

Espanyol (2009-2012)
Southampton (2013-2014)
Tottenham Hotspur (2014-2019)
Paris Saint-Germain (2021-2022)
Chelsea (2023-2024)
Timnas Amerika Serikat (2024-kini)

Prestasi sebagai Pemain

Newell's Old Boys
Juara Liga 1990-1991
Clausura 1992

Espanyol
Piala Raja 1999-2000, 2005-2006

Paris Saint-Germain
Piala Intertoto 2001

Prestasi sebagai Pelatih

Paris Saint-Germain
Juara Ligue 1 2021-2022
Piala Prancis 2020-2021
Piala Super Prancis 2020