TVRINews – Miami, Amerika Serikat

Striker veteran Luis Suarez untuk kedua kalinya menyatakan siap turun di Piala Dunia 2026 jika Tim Nasional Uruguai memanggilnya.

Dengan tinggal 35 hari menjelang dimulainya Piala Dunia FIFA 2026, Luis Suarez mengajukan permohonan terakhir untuk dipanggil.

Striker berusia 39 tahun—yang merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa Tim Nasional Uruguai dengan 69 gol dalam 143 penampilan—bermain untuk La Celeste selama 17 tahun, termasuk turun di empat Piala Dunia sebelumnya (2010, 2014, 2018, 2022). 

Suarez mengumumkan pensiun dari tim nasional negaranya pada September 2024, setelah berselisih secara terbuka dengan Marcelo Bielsa, pelatih Uruguai asal Argentina. Belakangan, ia terlihat menyesali keputusannya mundur dari La Celeste. 

“Saya ingin dipanggil. Sebagai orang Uruguai, jelas saya tidak akan pernah menolak tim nasional,” kata bintang Inter Miami CF kepada sejumlah wartawan dalam bahasa Spanyol pada hari Rabu (6/5/2026) setelah sesi latihan dengan klub Liga Sepak Bola Amerika (MLS) itu. 

“Saya mundur saat itu karena merasa perlu memberi jalan bagi generasi muda. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saya tidak akan pernah menolak tim nasional jika mereka membutuhkan saya—terutama dengan Piala Dunia yang sudah di depan mata.”

Ini menandai permohonan kedua Suarez untuk mendapatkan tempat di Piala Dunia dalam beberapa waktu terakhir. Pertengahan April lalu, Suarez telah mengutarakan bahwa ia ingin membuka kembali pembicaraan untuk kembali membela La Celeste.

Seberapa Perlu dan Haruskan Timnas Uruguai Menarik Lagi Luis Suarez?

Luis Suarez belum bermain untuk Uruguai sejak 7 September 2024. Pada pertandungan kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Selatan tersebut, Uruguai yang bermain di kandang ditahan tanpa gol oleh Paraguai. 

“Saya berusia 37 tahun dan akan sangat sulit bagi saya untuk bisa bermain di Piala Dunia berikutnya, karena ada begitu banyak pemain muda berbakat,” ucap Suarez saat mengumumkan pensiunnya, dua tahun lalu. 

“Fakta bahwa saya dapat mengakhiri karier internasional dengan tidak ditentukan oleh cedera adalah perasaan yang luar biasa bagi saya.”

Jika melihat performa dan kondisi kesehatannya baru-baru ini, tidak heran jika Suarez ingin kembali ke Timnas Uruguai. Paling tidak, ada sejumlah faktor yang bisa membuat pelatih Marcelo Bielsa memanggil lagi Suarez untuk memperkuat La Celeste.

Pertama, performa di klub. Suarez bergabung ke Inter Miami pada awal Januari 2024. Pada musim debutnya di MLS, ia mampi mencetak 21 gol dan 9 assist dalam 30 pertandingan (termasuk play-off). Tahun 2025 lalu, Suarez mencetak 10 gol dan 11 assist sebagai starter. 

Tetapi, Suarez memulai musim 2026 ini dengan duduk di bangku cadangan menyusul kedatangan German Berterame yang ditransfer 15 juta dolar AS dari klub Meksiko, Monterrey.

Namun, saat Berterame kesulitan menemukan performa terbaiknya, Suarez berhasil unggul, sekali lagi membuktikan dirinya sebagai bagian integral dari The Herons (julukan Inter Miami).

Suarez telah mencetak dua gol dan dua assist dalam 303 menit pertandingan MLS, dengan rata-rata kontribusi gol setiap 75 menit. 

Ia kemudian diintegrasikan kembali ke dalam starting lineup, menjadi pilihan yang lebih disukai oleh pelatih sementara Guillermo Hoyos, yang mengambil alih setelah kepergian mendadak Javier Mascherano pada bulan lalu.

Faktor kedua yang membuat Suarez masih mungkin ditarik ke Timnas Uruguai adalah pengalaman dan kepemimpinan. Striker setinggi 182 cm itu sudah empat kali turun di Piala Dunia dengan mencetak total 7 gol dan 5 assist

Dua gol di antaranya dibuat Suarez ke gawang Korea Selatan di 16 besar Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Di perempat final, Suarez sengaja menepis bola dengan tangan untuk menggagalkan gol Gana di menit-menit akhir yang akhirnya membantu La Celeste melaju ke semifinal.

Pengalaman Suarez tujuh kali menjadi pencetak gol terbanyak di berbagai kompetisi, termasuk kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Selatan pada musim 2013-2014 (11 gol), juga tidak bisa dianggap torehan biasa. 

Suarez juga menjadi bintang saat Uruguai memenangi Copa America 2011, yang merupakan Piala Amerika ke-15 (terakhir) yang dierbut La Celeste.

Alasan terakhir dan bisa dibilang terpenting adalah Uruguai masih kesulitan mendapatkan pemain di posisi nomor 9 (striker) yang mampu konsisten. 

Setelah Diego Forlan (112 caps/36 gol) mundur setelah Piala Dunia 2014 lalu diikuti Edinson Cavani (136/58) yang pensiun seusai Piala Dunia 2022 serta Suarez pada September 2024, Timnas Uruguai praktis tidak lagi memiliki striker yang tajam dan ditakuti lawan.

Di kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Selatan lalu, Uruguai hanya mencetak 22 gol dari 18 laga atau rata-rata hanya membuat 1,2 gol per pertandingan. Bandingkan misalnya dengan Argentina yang rata-rata mencetak 1,7 gol/laga atau Kolombia dengan 1,5 gol/laga. 

Dengan lima gol (sama seperti Raphinha asal Brasil), striker Uruguai Darwin Nunez hanya berada di posisi keempat daftar pencetak gol terbanyak kualifikasi zona Amerika Selatan.

Meskipun baru mencetak total 13 gol dari 38 pertandingan bersama La Celeste, Nunez yang kini membela Al Hilal di Liga Pro Arab Saudi menjadi satu-satunya penyerang dengan gol terbanyak di Timnas Uruguai saat ini.

Itulah mengapa dalam 17 pertandingan internasional Uruguai tanpa Suarez, Bielsa telah berganti-ganti menurunkan pemain striker antara Nunez, Rodrigo Aguirre (10 caps/3 gol), Federico Vinas (11/2), dan Luciano Rodriguez (5/0). 

Kendati begitu, tidak satu pun dari para penyerang tengah itu yang mampu menyamai performa impresif Suarez bersama skuad juara Piala Dunia 1930 dan 1950 itu di tahun-tahun sebelumnya.