Pelatih Timnas Turki, Vincenzo Montella. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews – Jakarta
Vincenzo Montella mengukir kesuksesan sebagai pelatih usai mengantarkan Turki lolos ke Piala Dunia 2026.
Vincenzo Montella yang dijuluki Pesawat Kecil berhasil mengantarkan tim besutannya, Turki ke ajang sepak bola paling akbar sejagat, Piala Dunia 2026. Ini menjadi pencapaian paling prestisius dalam 17 tahun karier kepelatihannya.
Keputusan Federasi Sepak Bola Turki (TFF) menunjuk Montella sebagai pelatih tim nasional pada 2023 terbukti tepat. Tim berjuluk Si Bintang Bulan Sabit sukses mengakhiri catatan buruk gagal lolos ke Piala Dunia dalam lima edisi terakhir.
Terakhir kali tampil di Piala Dunia 2002, Turki berhasil merebut posisi ketiga. Namun, kesuksesan tersebut tak mampu diulang hingga akhirnya Montella memimpin tim. Sebelumnya, sudah ada 10 pelatih yang ditugaskan mengembalikan kejayaan Turki, tetapi semuanya gagal.
Perjalanan yang harus ditempuh Montella untuk membawa Turki berpartisipasi di Piala Dunia 2026 tidaklah mudah. Mereka baru dapat memastikan tiket ke turnamen yang akan dilangsungkan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada Juni mendatang lewat play-off zona Eropa.
Rumania yang menjadi lawan pada semifinal play-off Jalur D berhasil dikalahkan dengan skor 1-0. Selanjutnya di partai final, Turki menundukkan Kosovo dengan skor yang sama. Penantian 24 tahun suporter Si Bintang Bulan Sabit untuk menyaksikan tim kebanggaan bersaing di pentas dunia berakhir sudah.
"Ini perasaan yang luar biasa, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sekarang, kami akan melanjutkan perjalanan indah ini bersama-sama," kata Montella, dikutip dari The Guardian.
Cara Montella mengelola skuad Turki mendapat pujian dari Presiden TFF, Ibrahim Haciosmanoglu. Ia menilai juru taktik asal Italia tersebut mampu menyatukan visi dan misi para pemain dengan sangat baik.
"Skuad saat ini paling berkarakter dalam sejarah sepak bola Turki. Saya berterima kasih kepada pelatih karena telah menciptakan suasana kekeluargaan yang kuat," tutur Haciosmanoglu, dikutip dari Haberler.
Nyaris Tinggalkan Sepak Bola
Setahun setelah gantung sepatu, Vincenzo Montella meniti karier kepelatihan bersama tim usia muda AS Roma, klub yang paling lama dibela semasa bermain. Bersama tim berjuluk Giallorossi, ia mencatatkan 192 penampilan dan mencetak 83 gol.
Dua tahun menangani tim muda, Montella dipercaya menjadi pelatih interim Roma menggantikan Claudio Ranieri. Dari 13 pertandingan Serie A, ia membukukan tujuh kemenangan, tiga hasil imbang, dan tiga kekalahan.
Meski membawa Roma finis di posisi keenam klasemen Serie A, Montella tidak menerima perpanjangan kontrak. Pemilik baru Roma lebih memilih mendatangkan Luis Enrique untuk menghadapi musim 2011/2012.
Hanya beberapa hari setelah dilepas Roma, tawaran dari Catania datang. Musim pertamanya dilalui dengan baik, karena berhasil menempatkan klub dari Sisilia Timur itu di papan tengah Serie A.
Kepiawaiannya meracik taktik kemudian menarik perhatian Fiorentina. Bersama La Viola, Montella kembali menunjukkan kapasitasnya dengan membawa tim finis di posisi keempat klasemen Serie A.
Tiga musim dihabiskan Montella di Fiorentina. Meski gagal mempersembahkan gelar, ia mampu menjaga konsistensi tim di papan atas Serie A. Selain tiga kali finis di empat besar, Fiorentina juga dibawanya mencapai final Coppa Italia dan semifinal Liga Europa 2014/2015.
Di pertengahan musim 2015/2016, Montella ditunjuk sebagai pelatih Sampdoria. Begitu musim berganti, AC Milan menebusnya dengan klausul kompensasi senilai Rp10 miliar. Namun, kebersamaan mereka hanya berlangsung satu tahun tiga bulan meski sempat mempersembahkan trofi Supercoppa Italia.
Petualangan Montella terus berlanjut setelahnya. Ia sempat ke La Liga Spanyol untuk membesut Sevilla, lalu kembali ke Fiorentina. Pada masa itu, hasil yang ia dapatkan tidaklah memuaskan.
Dua tahun menganggur, Montella mengaku mendapat beberapa tawaran. Namun, karena tidak ada yang membuatnya tertarik, sempat muncul pemikiran untuk meninggalkan sepak bola sepenuhnya.
"Selama pandemi COVID, saya ingin berhenti. Saya baik-baik saja dengan keluarga dan tidak mendapat tawaran yang membuat saya bersemangat," kata pria kelahiran Pomigliano d'Arco itu.
Niat tersebut akhirnya urung terlaksana karena adanya tawaran dari Adana Demirspor. "Pergi ke Adana, dunia yang sama sekali berbeda, membangkitkan kembali semangat saya," tuturnya.
Keputusan tersebut benar-benar mengubah kisah kepelatihannya. Setelah mengantarkan Adana Demirspor finis pada posisi keempat klasemen di musim keduanya, Montella menerima tawaran untuk menangani Turki.
Proyeksi Jangka Panjang
Pertandingan kualifikasi EURO 2024 menjadi tantangan awal Vincenzo Montella bersama Turki. Tiga laga tersisa di Grup D dilalui dengan dua kemenangan dan sekali imbang. Si Bintang Bulan Sabit berhak ke putaran final yang digelar di Jerman.
Namun, perjalanan menuju EURO 2024 tidak sepenuhnya mulus. Dalam masa persiapan, Montella kerap mendapat kritik meski sempat membawa Turki menang 3-2 atas Jerman pada laga uji coba.
Di empat pertandingan berikutnya, hasil kurang memuaskan didapat anak asuhnya. Turki kalah 0-1 dari Hungaria, lalu dipermalukan Austria dengan skor telak 1-6. Setelah bermain imbang tanpa gol melawan Italia, mereka kembali menelan kekalahan 1-2 saat bertandang ke markas Polandia.
Datang ke EURO 2024 dengan rentetan hasil minor, Turki justru bisa memberi kejutan. Mereka sukses menembus perempat final sebelum akhirnya dikalahkan Belanda dengan skor 1-2.
Setelah itu, Montella memimpin Turki tampil di UEFA Nations League B 2024/2025. Dari enam pertandingan yang dijalani, mereka finis di posisi kedua klasemen dan berhak tampil di play-off promosi.
Hungaria yang menjadi lawan di play-off berhasil dikalahkan dengan agregat 6-1. Pencapaian tersebut membawa Turki promosi ke divisi teratas UEFA Nations League untuk pertama kalinya setelah empat musim berpartisipasi.
Tugas berikutnya bagi Montella adalah membawa Turki bersaing di kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa. Sebelum akhirnya lolos ke putaran final melalui play-off, mereka lebih dulu menghadapi persaingan ketat di Grup E bersama Spanyol, Georgia, dan Bulgaria.
Pada fase tersebut, tiket lolos langsung ke Piala Dunia 2026 hanya diberikan kepada pemuncak klasemen. Turki menutup fase grup dengan catatan empat kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan. Hasil itu membuat mereka finis di posisi kedua, tertinggal tiga poin dari Spanyol.
Deretan hasil positif tersebut membuat Montella semakin dielukan di Turki. Kabar yang beredar akhir-akhir ini, TFF akan berupaya mengamankan jasa pria berusia 51 tahun tersebut.
Kontrak Montella sejatinya masih berlaku hingga 2028. Namun, TFF dikabarkan sedang menyiapkan perpanjangan kerja sama hingga 2030 sebagai bentuk apresiasi atas apa yang telah dicapai.
Biodata Vincenzo Montella
Nama: Vincenzo Montella
Kelahiran: Pomigliano d'Arco (Italia), 18 Juni 1974
Karier Pemain
Empoli (1990-1995)
Genoa (1995-1996)
Sampdoria (1996-1999)
AS Roma (1999-2009)
- Fulham (2007) pinjaman
- Sampdoria (2007-2008) pinjaman
Karier Pelatih
AS Roma U-15 (2009-2011)
As Roma - interim (2011)
Catania (2011-2012)
Fiorentina (2012-2015)
Sampdoria (2015-2016)
AC Milan (2016-2017)
Sevilla (2017-2018)
Fiorentina (2019)
Adana Demirspor (2021-2023)
Turki (2023-sekarang)
Prestasi sebagai pemain
Genoa
Anglo-Italian Cup (1995/1996)
AS Roma
Serie A (2000/2001)
Supercoppa Italia (2001)
Prestasi sebagai pelatih
AC Milan
Supercoppa Italia (2016)