Pelatih Timnas Qatar, Julen Lopetegui Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Seattle, Amerika Serikat
Lopetegui mengkritik start lambat timnya yang langsung dihukum oleh kualitas lini serang sayap Bosnia.
Langkah tim nasional Qatar di Piala Dunia 2026 resmi terhenti setelah kembali menelan kekalahan pahit pada laga pemungkas Grup B. Hasil minor tersebut langsung memupus harapan The Maroons untuk bisa melangkah ke babak 32 besar.
Menghadapi Bosnia dan Herzegovina dalam pertandingan penentu, Qatar dipaksa menyerah dengan skor 1-3 di Seattle Stadium, Kamis (25/6/2026) dini hari WIB. Kekalahan tersebut jadi kedua secara beruntun setelah mereka digulung tanpa ampun oleh Kanada dengan skor telak 0-6.
Rangkaian hasil buruk tersebut membuat posisi Qatar terdampar di dasar klasemen akhir Grup B dengan hanya mengoleksi satu poin. Mereka harus rela mengepak koper lebih awal dari turnamen tanpa sekali pun mencicipi manisnya sebuah kemenangan.
Selepas pertandingan, pelatih Qatar, Julen Lopetegui, langsung memberikan analisis mendalam terkait faktor utama kegagalan anak asuhnya. Ia menilai performa pasukannya sebenarnya tidak terlalu mengecewakan di atas lapangan hijau.
“Saya harus menganalisis pertandingan ini, tetapi menurut saya kami tampil cukup baik di beberapa momen. Awalnya memang tidak bagus, Bosnia memiliki pemain sayap terbaik di liga-liga Eropa,” kata Lopetegui kepada beIN Sports.
Mantan pelatih Real Madrid tersebut tidak menampik aliran bola timnya sempat tersendat pada awal-awal babak pertama dimulai. Namun, ia tetap memuji determinasi tinggi yang diperlihatkan para Qatar yang berusaha keras untuk keluar dari tekanan lawan.
“Kami seharusnya bisa menguasai bola dengan lebih baik, namun kami memiliki semangat yang cukup untuk mencetak gol, dan kami memiliki tiga peluang di babak kedua yang tidak berhasil kami konversi menjadi gol,” tuturnya.
Selain itu, Lopetegui juga menyayangkan kelengahan lini belakang Qatar yang gagal mengantisipasi skema serangan balik cepat dari Bosnia pada paruh kedua. Hal tersebut terasa menyakitkan karena momen itu terjadi di saat pasukannya tengah gencar mengurung pertahanan lawan.
“Gol ketiga Bosnia tercipta dari satu-satunya serangan mereka di babak kedua, sementara kami menguasai jalannya pertandingan, namun kami seharusnya mempercepat ritme serangan,” ungkapnya.
Mantan pelatih tim nasional Spanyol tersebut menegaskan turnamen sekelas Piala Dunia menuntut tingkat kedisiplinan yang sangat tinggi dari seluruh elemen tim. Setiap kesalahan kecil yang dilakukan di atas lapangan dipastikan berbuah konsekuensi yang sangat mahal.
Guna mengarungi turnamen akbar ini dengan sukses, organisasi permainan yang solid dan minim eror merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar. Kondisi tersebut yang tidak bisa dilakukan Qatar di Piala Dunia 2026.
“Di Piala Dunia, Anda harus meminimalkan kesalahan agar bisa melaju jauh. Meski demikian, saya bangga dengan sikap dan penampilan para pemain,” tuturnya.