TVRINews – Kansas City, Amerika Serikat

Beberapa pertandingan babak 32 besar di Piala Dunia 2026 dinilai tidak adil karena sudah mempertemukan juara dan runner-up grup di awal fase gugur

Fase awal Piala Dunia 2026 akan berakhir pada Sabtu (27/06/2026) dan sebagian besar grup – A, B, C, D, E, dan F – sudah menyelesaikan tiga pertandingan awal mereka. Praktis siapa pemenang (juara) dan runner-up dari kelima grup itu sudah diketahui, dan pasti ke babak 32 besar.

Di sinilah ada satu pertanyaan muncul, mengapa di babak 32 besar, ada empat juara grup bertanding melawan runner-up grup, sementara delapan juara grup lainnya bertanding melawan tim peringkat ketiga yang lolos ke babak berikutnya? 

Sementara, ada juga empat pertandingan babak 32 besar yang mempertemukan dua runner-up grup berbeda.

Empat pertandingan 32 besar yang mempertemukan juara dan runner-up grup terjadi di match 75 dan 76 yang melibatkan juara dan runner-up Grup C dan F, serta match 84 dan 86 yang melibatkan juara dan runner-up Grup H dan J. 

Di match 75, juara Grup F Belanda akan menghadapi runner-up Grup C Maroko. Sedangkan di match 76, pemenang Grup C Brasil akan menghadapi Jepang sebagai runner-up Grup F.

Sementara di match 84, pemenang Grup H (Spanyol/Uruguai/Tanjung Hijau) akan menghadapi runner-up Grup J (Austria/Aljazair). Adapun di match 86, pemenang Grup J (Argentina) bakal melawan runner-up Grup H (Spanyol/Uruguai/Tanjung Hijau). 

Pertandingan-pertandingan terakhir Grup H dan J, yang bakal menentukan siapa juara dan runner-up, akan berlangsung Sabtu dini hari WIB nanti. 

Ada yang menilai, jalur perjalanan tim di fase gugur seperti ini tidak adil karena tim-tim juara grup seperti Meksiko (A), Swis (B), Amerika Serikat (D), Jerman (E), dan Prancis atau Norwegia (I), hanya akan menemui lawan lebih ringan, yaitu tim peringkat ketiga. 

Jalur babak gugur seperti ini – yang memunculkan laga-laga spesifik – bisa terjadi karena bertambahnya jumlah peserta Piala Dunia 2026 ini menjadi 48 tim. 

Jumlah peserta ini menciptakan ketimpangan matematis karena akan ada 12 juara grup namun hanya delapan tim peringkat ketiga yang lolos ke babak gugur. 

Untuk mengatasinya, FIFA menetapkan bahwa empat pasangan juara grup tertentu harus menghadapi runner-up—dan bukan tim peringkat ketiga—di babak 32 besar.

Bagan sistem gugur yang telah ditetapkan sebelumnya ini—yang memunculkan laga Grup C vs Grup F dan Grup H vs Grup J—di babak 32 besar, disusun oleh FIFA dengan maksud dan tujuan spesifik. 

Pertama, untuk menyeimbangkan turnamen. FIFA yakin bagan seperti ini mampu mendistribusikan secara merata keempat jalur turnamen regional.

Kedua, menghindari pertemuan ulang lebih awal. Bagan 32 besar seperti ini mencegah tim-tim dari kelompok (grup) awal yang sama untuk langsung saling berhadapan di babak 16 besar.

Ketiga, melindungi negara tuan rumah (AS, Meksiko, dan Kanada). FIFA merasa perlu menyusun bagan 32 besar yang secara teoretis memberikan penempatan pertandingan yang menguntungkan bagi ketiga negara tuan rumah pada laga pembuka babak gugur mereka.