Ilustrasi Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - New York, Amerika Serikat
Dua perusahaan apparel besar, Adidas dan Nike, sama-sama menggelontorkan investasi besar untuk memanfaatkan momentum Piala Dunia 2026.
Gelaran Piala Dunia 2026 bukan hanya menjadi panggung persaingan antartim nasional, tetapi juga arena pertarungan dua raksasa perlengkapan olahraga dunia, Adidas dan Nike.
Berdasarkan data awal yang dirilis sejumlah lembaga riset, Adidas untuk sementara berhasil memperoleh keuntungan komersial yang lebih besar dibanding Nike dari euforia turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Kedua perusahaan sama-sama menggelontorkan investasi besar untuk memanfaatkan momentum Piala Dunia.
Namun, posisi keduanya berbeda. Bagi Nike, turnamen ini menjadi kesempatan penting untuk mendongkrak penjualan sekaligus memperkuat kembali citra merek setelah beberapa tahun kehilangan pangsa pasar secara bertahap.
Investor pun akan mencermati dampak Piala Dunia terhadap kinerja perusahaan ketika Nike merilis laporan keuangan kuartal keempat pekan depan.
Sementara itu, Adidas datang ke Piala Dunia dengan status sebagai sponsor resmi FIFA. Perusahaan asal Jerman itu memasok bola resmi pertandingan serta menjadi penyedia perlengkapan bagi 14 tim nasional peserta turnamen.
Sementara di sisi lain, Nike menjadi sponsor bagi 12 tim nasional, menggandeng sejumlah desainer streetwear lokal, serta memperbarui koleksi produk sepak bolanya di lebih dari 5.000 toko Nike dan mitra ritel di seluruh dunia.
Analis riset M Science, Drake MacFarlane, menilai kedua merek memang menikmati lonjakan penjualan selama Piala Dunia 2026. Namun, Adidas sejauh ini memperoleh manfaat yang lebih besar.
"Adidas mendapatkan keuntungan dalam tingkat yang lebih besar hingga saat ini," ujar MacFarlane, dikutip dari Reuters.
Data M Science menunjukkan belanja konsumen terhadap produk pakaian Adidas melonjak 70 persen pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan tetap kuat sepanjang Juni. Menurut MacFarlane, tren tersebut didorong oleh pertumbuhan signifikan penjualan jersei menjelang dimulainya Piala Dunia 2026.
"Nike juga mengalami pertumbuhan pada bisnis apparel, tetapi lajunya masih kalah dibandingkan Adidas, yang memiliki rangkaian produk yang lebih sesuai dengan keinginan konsumen," katanya.
Keunggulan Adidas juga terlihat dari data kunjungan toko. Berdasarkan laporan Placer.ai, jumlah pengunjung toko Adidas di Amerika Serikat meningkat 47 persen pada pekan pertama Piala Dunia dibandingkan rata-rata kunjungan sepanjang 2026. Sebaliknya, toko outlet Nike hanya mencatat kenaikan sekitar 11 persen.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kunjungan ke toko Adidas masih meningkat 16 persen. Sebaliknya, outlet Nike justru mengalami penurunan jumlah pengunjung.
Direktur Riset Placer.ai, Elizabeth Lafontaine, mengatakan meskipun data Nike hanya mencakup toko outlet, hasil tersebut tetap menunjukkan Adidas berhasil menarik perhatian konsumen selama turnamen.
"Adidas menjadi merek yang paling diingat oleh para pembeli dan tampaknya melakukan aktivasi toko yang sangat baik selama berlangsungnya Piala Dunia," ujar Lafontaine.
Tren positif Adidas juga tercermin di pasar ritel. Peritel asal Inggris, JD Sports, mengungkapkan bahwa jersei Timnas Meksiko yang diproduksi Adidas menjadi perlengkapan tim nasional dengan penjualan tertinggi pada pekan yang dimulai 15 Juni. Jersei Timnas Amerika Serikat buatan Nike berada di posisi kedua dalam total penjualan.
Meski demikian, Nike masih memiliki kabar menggembirakan. Laporan LSEG menyebutkan sebanyak 28 persen produk merchandise Piala Dunia Nike di Amerika Serikat habis terjual dalam dua pekan pertama turnamen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Adidas yang hanya mencatat tingkat kehabisan stok sebesar 7 persen.
Nike Masih Mendominasi Sepatu Pemain
Sementara itu di atas lapangan, Nike masih menunjukkan dominasinya melalui sepatu yang digunakan para pemain. Dari 528 pemain yang menjadi starter pada pertandingan-pertandingan Piala Dunia sejauh ini, sebanyak 232 pemain mengenakan sepatu Nike. Adidas membuntuti dengan 218 pemain.
Analis ekuitas Morningstar, David Swartz, menilai persaingan kedua merek di sektor sepatu masih berlangsung sangat ketat.
"Nike tetap berada di barisan terdepan meskipun Adidas memiliki hubungan yang sangat erat dengan FIFA. Kehadiran yang begitu kuat di lapangan menjadi nilai positif bagi kekuatan merek mereka," ujar Swartz.
Dengan turnamen yang masih berlangsung, persaingan Adidas dan Nike diperkirakan akan terus berlanjut.
Adidas untuk sementara unggul dalam penjualan apparel dan daya tarik di toko ritel, sedangkan Nike tetap mempertahankan eksistensinya melalui dominasi penggunaan sepatu oleh para pemain serta tingginya permintaan terhadap merchandise resminya.
Hasil akhir pertarungan bisnis dua raksasa olahraga ini baru akan benar-benar terlihat setelah Piala Dunia 2026 berakhir.