TVRINews - Seoul, Korea Selatan

Petisi ini telah mendapat 100 dukungan awal untuk ditinjau parlemen.

Sebuah petisi muncul menuntut pemecatan segera terhadap pelatih tim nasional Korea Selatan, Hong Myung-bo. Desakan ini mencuat hanya beberapa jam setelah Taegeuk Warriors takluk 0-1 dari Afrika Selatan pada laga pemungkas Grup A Piala Dunia 2026 yang sekaligus menutup peluang mereka lolos otomatis ke babak 32 besar.

Petisi yang diunggah di situs resmi petisi publik Majelis Nasional pada Kamis (25/6/2026) tersebut menuntut pemberhentian segera Hong dari jabatannya. Selain itu, poin tuntutan juga mencakup penerapan sistem untuk membatalkan pengangkatan pelatih yang terbukti melanggar prosedur.

Sang pemohon petisi yang hanya diidentifikasi dengan nama belakang Jeon menilai proses penunjukan Hong sudah cacat prosedur sejak awal. "Penunjukan Hong dikelilingi oleh banyak tuduhan dan cacat prosedural," tulis pemohon dalam petisinya dikutip dari Korean Times.

"Proses seleksi resmi Federasi Sepak Bola Korea (KFA) secara efektif telah diabaikan, sehingga sulit untuk menghindari kritik bahwa pengangkatan ini pada dasarnya tidak sah," pemohon tersebut melanjutkan.

Tidak hanya masalah administrasi, petisi tersebut juga menyoroti performa buruk skuad Korea Selatan di bawah arahan Hong selama Piala Dunia 2026 berlangsung. Jeon menyalahkan sang pelatih atas penampilan tim nasional yang dinilai sangat tidak bertenaga di turnamen bergengsi empat tahunan itu.

"Meskipun menurunkan apa yang dianggap banyak orang sebagai skuad terkuat dalam sejarah Piala Dunia Korea, tim ini finis dengan satu kemenangan dan dua kekalahan, sehingga menempati posisi ketiga dalam grup." 

"Penampilan melawan Afrika Selatan sangat tidak bertenaga sehingga dapat dianggap sebagai salah satu penampilan terburuk oleh tim Korea dalam sejarah Piala Dunia."

Pemohon petisi tersebut lebih lanjut mengklaim para pemain gagal mencapai potensi penuh di bawah asuhan Hong yang proses penunjukannya diduga tidak patut. Di samping pemecatan Hong, petisi ini juga mendesak adanya reformasi menyeluruh terhadap tata kelola KFA.

Secara spesifik, petisi tersebut menekankan pentingnya aturan ketat yang dapat membatalkan secara otomatis setiap pengangkatan pelatih jika terbukti melanggar jalur resmi. Poin lain juga menuntut pengawasan administratif yang lebih kuat terhadap KFA melalui otoritas anggaran Majelis Nasional, serta larangan penunjukan pelatih secara informal disertai sanksi berat bagi pelanggarnya.

"Penunjukan pelatih kepala secara sepihak oleh individu tertentu dengan mengabaikan badan resmi seperti Komite Penguatan Tim Nasional harus dilarang keras."

"Satu-satunya cara untuk mencegah privatisasi asosiasi sepak bola adalah melalui kekuatan sistem kelembagaan."

Petisi tersebut bergerak cepat dan langsung mengamankan 100 dukungan awal yang diperlukan sebagai syarat kelayakan peninjauan pertama oleh Majelis Nasional. Pihak parlemen saat ini sedang memutuskan apakah petisi ini akan dipublikasikan secara luas kepada masyarakat atau tidak.

Jika disetujui untuk dipublikasikan, kampanye pengumpulan tanda tangan digital akan kembali dibuka di website resmi petisi parlemen. Apabila petisi ini berhasil meraup minimal 50.000 tanda tangan dalam kurun waktu 30 hari sejak diterbitkan, laporan tersebut bakal langsung dirujuk ke komite tetap terkait untuk ditinjau lebih lanjut.