TVRINews - Roma, Italia

Final Piala Dunia 1990 mungkin bukan pertandingan paling menghibur secara teknis, tetapi tetap menjadi salah satu yang paling ikonik karena intensitas emosional dan sejarah yang melingkupinya.

Udara malam itu di Stadion Olimpico, Roma, pada 8 Juli 1990 terasa begitu pengap. Di atas lapangan hijau dengan sorotan lampu stadion yang benderang, Jerman Barat dan Argentina saling berhadapan untuk memainkan laga puncak Piala Dunia 1990.

Jerman Barat datang dengan aroma balas dendam yang tajam. Empat tahun sebelumnya di Mexico City, setelah dipaksa bertekuk lutut oleh keajaiban Diego Maradona. Kali ini, di bawah asuhan "Sang Kaisar" Franz Beckenbauer, armada Die Mannschaft tampil lebih solid, lebih bertenaga, dan sangat terorganisir.

Di sudut lain, Argentina hadir sebagai juara bertahan yang compang-camping. Tim Tango bukan lagi tim artistik seperti tahun 1986. Tanpa Claudio Caniggia yang lincah karena akumulasi kartu, skuad asuhan Carlos Bilardo tersebut lebih mirip sekumpulan pejuang yang kelelahan dan hanya mengandalkan ketangguhan mental.

Maradona, sang dewa sepak bola bagi publik Napoli namun musuh untuk publik Roma, melangkah masuk ke lapangan dengan tatapan menantang. Sepanjang lagu kebangsaan Argentina dikumandangkan, siulan ejekan dari suporter tuan rumah memekakkan telinga, menciptakan atmosfer yang sangat bermusuhan bagi sang juara bertahan.

Peluit pertama berbunyi, dan pola permainan langsung terlihat jelas. Jerman Barat tidak membuang waktu untuk mengambil kendali. Mereka menekan melalui sisi sayap, memaksa para pemain Argentina menumpuk di area penalti sendiri untuk melindungi kiper pahlawan mereka, Sergio Goycochea.

Lothar Matthaus, jenderal lapangan tengah Jerman Barat, bermain dengan otoritas penuh. Ia tidak hanya memutus aliran bola Argentina, tetapi juga menjadi dinamo yang memulai setiap serangan.

Meski Jerman Barat mendominasi penguasaan bola, gol tidak kunjung tercipta. Pertahanan Argentina yang dipimpin oleh Oscar Ruggeri bermain sangat pragmatis. Mereka tidak ragu melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil demi merusak ritme serangan lawan yang mengalir deras.

Memasuki babak kedua, rasa frustrasi mulai merayap di kubu Jerman Barat. Berkali-kali Jurgen Klinsmann dan Rudi Voller mencoba menembus kotak penalti, namun selalu mentah oleh tekel-tekel keras pemain Argentina. Pertandingan berubah menjadi perang saraf yang menguras emosi pemain dan penonton.

Titik balik pertama terjadi pada menit ke-65. Pedro Monzon, bek Argentina yang baru masuk di babak kedua, melakukan tekel tinggi yang mengenai Jurgen Klinsmann. Wasit Edgardo Codesal tanpa ampun merogoh saku belakangnya dan mengeluarkan kartu merah. Sejarah tercipta, itulah kartu merah pertama dalam sebuah final Piala Dunia.

Bermain dengan sepuluh orang, Argentina semakin merapatkan barisan. Mereka seolah-olah mengundang Jerman Barat untuk terus menyerang, sambil berharap laga berakhir imbang hingga adu penalti. Sebuah skenario di mana Goycochea berpotensi menjadi pahlawan, dan telah terbukti menjadi momok bagi Yugoslavia dan Italia di babak sebelumnya.

Maradona tampak terisolasi. Setiap kali ia menyentuh bola, dua atau tiga pemain Jerman Barat langsung mengepungnya. Tanpa dukungan dari lini tengah yang kreatif, sang maestro hanya bisa berjalan gontai di lapangan, sesekali melepaskan umpan yang mudah dipatahkan oleh barisan belakang Jerman Barat yang dikomandoi Guido Buchwald.

Menit demi menit berlalu, dan papan skor tetap menunjukkan angka nol. Ketegangan di tribune penonton mencapai puncaknya ketika pertandingan memasuki lima menit terakhir. Penonton sudah bersiap untuk babak perpanjangan waktu yang melelahkan, sebelum sebuah insiden terjadi di kotak penalti Argentina.

Rudi Voller melakukan penetrasi cepat dan terjatuh setelah bersinggungan dengan Roberto Sensini. Wasit Codesal meniup peluit dengan lantang dan menunjuk titik putih. Keputusan itu memicu amarah luar biasa dari para pemain Argentina yang merasa kontak tersebut sangat minim dan tidak layak membuahkan penalti.

Di tengah protes yang riuh, sebuah pemandangan menarik terjadi. Lothar Matthaus, eksekutor utama Jerman Barat, memilih untuk tidak mengambil penalti tersebut. Ia merasa tidak percaya diri karena sepatu kanannya mengalami kerusakan pada babak pertama dan harus menggunakan sepatu baru yang belum terasa nyaman.

Tanggung jawab mahaberat itu pun diserahkan kepada Andreas Brehme. Bek kiri yang memiliki kemampuan unik menggunakan kedua kakinya dengan sama baiknya itu melangkah ke titik putih. Di depannya berdiri Goycochea, spesialis penepis penalti yang sudah menggagalkan banyak mimpi lawan sepanjang turnamen.

Brehme mengambil ancang-ancang. Dengan dingin, ia melepaskan tembakan datar dengan kaki kanannya ke pojok kiri bawah gawang. Goycochea melompat ke arah yang benar, namun bola meluncur terlalu presisi serta cepat untuk bisa dijangkau. Jaring gawang bergetar, dan Jerman Barat memimpin 1-0.

Gol itu meruntuhkan mental Argentina sepenuhnya. Sisa pertandingan diwarnai dengan kekacauan emosional. Gustavo Dezotti menerima kartu kuning kedua setelah terlibat perselisihan fisik dengan pemain Jerman Barat, meninggalkan Argentina hanya dengan sembilan pemain di lapangan saat laga tersisa beberapa detik lagi.

Saat peluit panjang akhirnya ditiupkan, kegembiraan Jerman Barat pecah bak bendungan yang jebol. Franz Beckenbauer berjalan sendirian di tengah lapangan dengan tangan di saku, tampak tenang dan kontemplatif, merayakan keberhasilannya menyamai rekor Mario Zagallo yang juara sebagai pemain dan pelatih.

Namun, kamera televisi justru lebih banyak menangkap sosok Maradona. Sang legenda berdiri terpaku di podium medali dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.

Laga puncak Piala Dunia 1990 mungkin diingat sebagai salah satu final paling buruk secara estetika karena minimnya gol dan keluarnya dua kartu merah. Akan tetapi, bagi Jerman Barat, itu adalah puncak dari disiplin dan kerja keras yang akhirnya membuahkan bintang ketiga di dada mereka, tepat sebelum negara itu kembali bersatu sebagai satu Jerman yang utuh.