TVRINews - Mexico City, Meksiko

Pemerintah Meksiko kini berfokus memperkuat pengawasan di Mexico City, Guadalajara, dan Monterrey untuk Piala Dunia 2026.

Pemerintah Meksiko mengumumkan peningkatan signifikan langkah-langkah keamanan di berbagai destinasi wisata utama selepas insiden penembakan di piramida kuno Teotihuacan. Keputusan darurat ini diambil kurang dari dua bulan sebelum negara tersebut menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026.

Insiden yang terjadi pada hari Senin (20/4/2026) tersebut melibatkan seorang pria bersenjata yang melepaskan tembakan ke arah wisatawan di puncak salah satu piramida ikonik Situs Warisan UNESCO dekat Mexico City. Serangan mendadak ini menewaskan satu turis asal Kanada dan melukai belasan lainnya

Penembakan tersebut langsung memicu gelombang pertanyaan kepada Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum terkait protokol keamanan pemerintah menjelang Piala Dunia musim panas ini. Meksiko dijadwalkan akan menyelenggarakan ajang sepak bola prestisius tersebut bersama Amerika Serikat dan Kanada.

Teotihuacan yang berjarak sekitar satu jam dari ibu kota diprediksi menjadi daya tarik utama bagi pengunjung selama kemeriahan turnamen berlangsung. Padahal, para pembuat kebijakan lokal baru saja mengusulkan untuk menghidupkan kembali pertunjukan lampu interaktif malam hari di piramida tersebut bagi para penonton Piala Dunia 2026.

Aksi kekerasan yang tidak terduga ini menjadi tantangan berat pemerintahan Sheinbaum yang berupaya memproyeksikan citra keamanan dan stabilitas negara. Upaya tersebut semakin terhimpit setelah sempat terjadi lonjakan kekerasan kartel di Guadalajara, kota tuan rumah lainnya, pada Februari lalu.

"Peristiwa seperti ini semakin memperbesar citra negatif Meksiko dalam isu keamanan. Hal ini merusak narasi yang coba dibangun Presiden Sheinbaum bahwa Meksiko adalah negara yang aman," komentar analis keamanan Meksiko, David Saucedo dikutip dari The Independent.

Sheinbaum menyebut insiden penembakan tersebut sebagai sebuah peristiwa yang tak terduga. Ia mengaku situs arkeologi tersebut memang kekurangan filter keamanan yang memadai meskipun kejadian serupa belum pernah terjadi di ruang publik sebelumnya.

Meksiko memang masih bergelut dengan kekerasan kartel, terutama di wilayah strategis dan pedesaan yang terpencil. Namun, penembakan massal di ruang publik tetap tergolong jarang terjadi jika dibandingkan dengan Amerika Serikat yang memiliki akses kepemilikan senjata api lebih mudah.

Sheinbaum memberikan indikasi pelaku penembakan tersebut tampaknya sangat terpengaruh oleh pengaruh luar. Ia secara spesifik merujuk pada peristiwa pembantaian Columbine tahun 1999 yang terjadi di Colorado, Amerika Serikat.

"Kewajiban kami sebagai pemerintah adalah mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memastikan situasi seperti ini tidak terulang kembali. Namun yang jelas, kita semua tahu — rakyat Meksiko tahu — bahwa ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya," ungkap Sheinbaum.

Sekretaris Keamanan Meksiko, Omar Garcia Harfuch, yang memimpin upaya pemerintah melawan kartel, mengumumkan instruksi baru pada Selasa (21/4/2026). Ia memerintahkan aparat keamanan untuk segera memperkuat penjagaan di situs arkeologi dan destinasi wisata utama di seluruh negeri.

Kebijakan ini akan melibatkan peningkatan kehadiran Garda Nasional Meksiko serta pengetatan pemeriksaan keamanan bagi para pengunjung. Pemerintah juga akan memperkuat sistem pengawasan demi mengidentifikasi dan mencegah segala bentuk ancaman terhadap warga negara maupun wisatawan asing.

Pengumuman cepat dari pihak pemerintah ini bertujuan untuk meredam kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai masalah kekerasan di Meksiko. Harapannya, publik internasional kembali merasa tenang menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 yang dimulai 11 Juni mendatang.

Sebelumnya pemerintahan Sheinbaum, sering menonjolkan berbagai pencapaian di bidang keamanan negara. Beberapa di antaranya penurunan tajam angka pembunuhan ke level terendah dalam satu dekade terakhir serta penangkapan beberapa pemimpin kartel tingkat atas.

Hanya saja, beberapa bulan terakhir memang memberikan tantangan besar bagi otoritas keamanan Meksiko. Salah satunya adalah pecahnya kekerasan di Guadalajara menyusul tewasnya seorang bos kartel Nemesio Ruben Oseguera Cervantes alias El Mencho.

Meski demikian, Sheinbaum telah memberikan jaminan bahwa tidak akan ada risiko bagi para penggemar yang menghadiri turnamen. Sentimen ini pun diamini oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang menyatakan kepercayaan penuh kepada Meksiko sebagai negara tuan rumah.

Pemerintah Meksiko telah berkomitmen untuk mengerahkan sekitar 100.000 personel pasukan keamanan di seluruh penjuru negeri selama Piala Dunia 2026. Fokus utama pengamanan akan dipusatkan pada tiga kota tuan rumah, yakni Mexico City, Guadalajara, dan Monterrey.

Para pejabat juga berencana mengoperasikan lebih dari 2.000 kendaraan militer serta puluhan pesawat dan drone canggih. Mereka akan menetapkan perimeter keamanan yang ketat di sekitar stadion serta bandara di pusat-pusat perkotaan utama.

"Seperti yang Anda lihat, kami sangat siap menghadapi Piala Dunia," tegas Sheinbaum pada awal Maret lalu.

Terlepas dari penembakan di piramida yang dianggap tidak biasa, aksi kekerasan ekstrem ini tetap meningkatkan pengawasan terhadap kemampuan pemerintah. Tekanan kembali memuncak pada upaya Sheinbaum untuk mencegah insiden serupa terjadi selama turnamen berlangsung.

Pihak FIFA biasanya menahan diri untuk tidak mengomentari masalah keamanan atau insiden yang terjadi jauh dari lokasi pertandingan. Hingga saat ini, mereka belum memberikan pernyataan resmi terkait peristiwa penembakan di area piramida tersebut.

Analis keamanan David Saucedo memperingatkan pemusatan keamanan di kota tuan rumah seperti Teotihuacan memiliki risiko tersendiri. Langkah ini dikhawatirkan dapat mengalihkan sumber daya dari wilayah rawan kejahatan lain yang sebenarnya lebih membutuhkan kehadiran polisi.

"Peristiwa yang terjadi kemarin di Teotihuacan menunjukkan dengan jelas bahwa lembaga keamanan publik saat ini sudah kewalahan," ucap Saucedo.