Kapten Timnas Korea Selatan, Son Heung-min. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Jakarta
Sebuah tonggak sejarah menanti Son Heung-min karena ia hanya butuh empat gol lagi untuk menyamai rekor 58 gol internasional milik Cha Bum-kun.
Asia selalu mengirimkan kekuatan terbaiknya ke panggung Piala Dunia. Dari gol spektakuler Saeed Al-Owairan di Piala Dunia 1994 hingga aksi heroik Park Ji-sung pada 2002 serta dwigol Mehdi Taremi di Qatar 2022, para pemain Asia telah menorehkan momen tidak terlupakan dalam sejarah Piala Dunia.
Kini, pada Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko serta diikuti 48 tim, peluang bagi wakil Asia untuk unjuk gigi makin terbuka lebar.
Delapan negara Asia telah memastikan tiket: Korea Selatan, Qatar, Australia, Jepang, Iran, Arab Saudi, Yordania, dan Uzbekistan. Berikut 10 pemain Asia yang diprediksi memberi dampak besar di Piala Dunia 2026, dikutip dari FIFA.com.
1. Musa Al-Taamari (28 tahun) – Yordania
Kebangkitan pesat Yordania dalam dua tahun terakhir tidak mungkin terjadi tanpa peran Musa Al-Taamari. Penyerang sayap Rennes tersebut merupakan poros utama serangan tim nasional Yordania dan sosok yang memikul harapan besar negaranya untuk mencetak sejarah di Amerika Utara.
Setelah menginspirasi Yordania meraih kualifikasi Piala Dunia pertama mereka, Musa Al-Taamari memimpin kampanye tersebut dengan mencetak tujuh gol dan menyumbang dua asis selama babak kualifikasi Asia.
Pengaruhnya juga sangat krusial dalam ajang Piala Asia 2024, ketika ia membawa Yordania melaju hingga final untuk pertama kalinya dalam sejarah. Ia memiliki kecepatan eksplosif, kemampuan teknik tinggi, serta penyelesaian akhir jarak jauh yang klinis, sebagaimana terlihat dari gol terbarunya ke gawang Paris Saint-Germain.
Bersama Rennes, Musa Al-Taamari telah memantapkan dirinya sebagai figur penting dengan mencatat 10 gol sejak awal musim kompetisi berjalan.
2. Akram Afif (29 tahun) – Qatar
Peraih dua kali penghargaan Pemain Terbaik Asia pada 2019 dan 2023 ini merupakan nama yang wajib masuk dalam daftar. Pada usia 29 tahun, ia menjadi kekuatan utama di balik kampanye kualifikasi Qatar dengan terlibat langsung dalam 19 gol.
Dua asis yang ia berikan dalam kemenangan 2-1 atas Uni Emirat Arab di putaran keempat memastikan Al-Annabi lolos ke putaran final Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah, sekaligus menjadi kualifikasi pertama mereka yang diraih melalui jalur penyisihan Asia.
Untuk memahami dampaknya bagi tim nasional, cukup melihat perannya saat Qatar mempertahankan gelar Piala Asia pada awal 2024. Sang striker mencetak delapan gol dalam enam pertandingan, termasuk trigol bersejarah di final melawan Yordania.
Bersama klub Al Sadd, pemain sayap ini terus tampil memukau di kompetisi domestik maupun Asia, dengan membukukan 24 gol dalam jumlah penampilan yang sama sejak awal musim.
3. Salem Al Dawsari (34 tahun) – Arab Saudi
Meskipun terjadi gelombang kedatangan pemain kelas dunia ke Al-Hilal dalam dua tahun terakhir, Salem Al-Dawsari tetap menjadi fondasi utama lini serang klub tersebut. Sebagai kapten, pengaruh pemain berusia 34 tahun ini menjadi bukti bakat luar biasa serta kemampuan teknik tingkat tinggi yang ia miliki.
Ia kembali membuktikan kualitasnya pada Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 dengan memainkan peran penting dalam membawa Al-Hilal lolos ke babak gugur, sebelum cedera menghalanginya tampil pada babak enam belas besar dan perempat final.
Salem Al-Dawsari merupakan salah satu pencetak gol terbanyak Arab Saudi dalam sejarah Piala Dunia dengan tiga gol, termasuk gol kemenangan ikonik melawan Argentina pada Piala Dunia 2022 di Qatar.
Meskipun tidak bermain sebagai penyerang tengah murni, ia telah mengoleksi 25 gol untuk tim nasional sepanjang karier internasionalnya. Keunggulannya yang konsisten baru-baru ini kembali diakui ketika ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Asia tahun 2025.
4. Son Heung-min (33 tahun) – Korea Selatan
Mantan penyerang Tottenham Hotspur yang kini membela Los Angeles FC ini tidak memerlukan perkenalan panjang. Meski telah berusia 33 tahun dan Korea Selatan memiliki sejumlah bintang yang bermain di liga elite dunia, Son Heung-min tetap menjadi pusat permainan tim nasional.
Sebuah tonggak sejarah menantinya karena ia hanya membutuhkan empat gol lagi untuk menyamai rekor 58 gol internasional milik Cha Bum-kun. Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi panggung yang mengukuhkan warisannya.
Setelah menjalani 10 musim gemilang bersama Tottenham Hotspur dengan torehan 137 gol, ia memilih tantangan baru di Major League Soccer di Los Angeles.
Langkah tersebut bisa menjadi keuntungan besar dalam membantu adaptasinya terhadap kondisi Amerika Utara menjelang putaran final. Sejak kedatangannya, ia telah mencetak 13 gol dan menyumbang lima asis dalam 15 penampilan, membuktikan bahwa pengaruh kelas dunianya tetap terjaga.
5. Lee Kang-in (25 tahun) – Korea Selatan
Dengan lima gol dan enam asis selama kualifikasi, Lee Kang-in memainkan peran vital dalam memastikan Korea Selatan lolos ke Piala Dunia. Namun, kontribusinya tidak dapat diukur semata-mata melalui statistik. Nilai sejatinya terletak pada fleksibilitas taktis dan kemampuannya menjalankan berbagai peran di lapangan, serta kapasitasnya menghubungkan lini tengah dan lini depan dengan presisi tinggi.
Pelatih Hong Myung-bo kerap menempatkannya di sayap kanan sepanjang 2025, tetapi kecerdasan taktisnya memberinya kebebasan untuk bergerak ke tengah dan bertukar posisi dengan rekan setim. Fleksibilitas ini pula yang membuat pelatih Paris Saint-Germain, Luis Enrique, sering memainkannya sebagai kreator utama, bahkan sesekali sebagai penyerang bayangan atau penyerang tengah semu.
6. Mehdi Taremi (33 tahun) – Iran
Tidak ada pemain yang memberikan pengaruh ofensif sebesar Mehdi Taremi di babak kualifikasi Asia. Penyerang Olympiacos yang sebelumnya bermain untuk Inter Milan ini menjadi figur paling menonjol dalam kampanye Iran dengan mencetak 10 gol dan delapan asis.
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, ia mencetak dua gol ke gawang Inggris dan memberikan asis untuk gol kemenangan atas Wales, menegaskan reputasinya sebagai pemain yang tampil gemilang dalam pertandingan besar.
Meski telah meninggalkan kompetisi Italia, Taremi tetap mencatat angka impresif dengan 21 gol dalam 26 pertandingan bersama Olympiacos musim ini. Pengalaman, naluri mencetak gol, dan pergerakan cerdasnya di dalam maupun di luar kotak penalti menjadikannya referensi utama lini serang Iran, yang kemungkinan besar akan menjalani Piala Dunia terakhirnya.
7. Ayase Ueda (27 tahun) – Jepang

Ayase Ueda jadi andalan lini depan klubnya, Feyenoord Rotterdam, maupun Timnas Jepang.
Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
Penyerang berusia 27 tahun ini merupakan faktor penting dalam efektivitas sistem permainan Jepang di sepertiga akhir lapangan. Ia mencetak delapan gol di babak kualifikasi hanya dalam 809 menit bermain, sehingga menegaskan statusnya sebagai pilihan utama pelatih Hajime Moriyasu di lini depan meskipun Jepang memiliki kedalaman skuat yang luar biasa.
Bersama Feyenoord di bawah asuhan Robin van Persie, ia menambahkan dimensi baru dalam permainannya. Ueda telah mengukuhkan diri sebagai penyerang utama klub dan menjadi pencetak gol terbanyak Liga Belanda dengan 18 gol hingga pekan lalu. Kelincahan, kecepatan, kecerdikan membaca pergerakan bek lawan, dan kemampuan duel udara menjadikannya penyerang modern yang sangat komplet.
8. Takefusa Kubo (24 tahun) – Jepang
Takefusa Kubo muncul ke panggung global sejak usia sangat muda ketika menimba ilmu di akademi La Masia milik Barcelona. Setelah kembali ke Jepang, performa impresifnya menarik perhatian Real Madrid yang merekrutnya pada usia 18 tahun.
Setelah beberapa masa peminjaman di berbagai klub La Liga, ia menemukan stabilitas di Real Sociedad yang kemudian mempermanenkan statusnya. Dengan kecepatan tinggi, kelincahan, dan kemampuan khas untuk bergerak dari sisi kanan ke tengah, ia menjadi salah satu pemain paling menonjol di La Liga dalam beberapa musim terakhir.
Kubo tetap menjadi pilar Jepang yang berambisi melangkah jauh di Piala Dunia 2026. Meskipun tidak mencatat gol maupun asis dalam dua penampilannya di Piala Dunia 2022, kini ia kembali sebagai pemain yang jauh lebih matang secara fisik dan mental.
9. Eldor Shomurodov (29 tahun) – Uzbekistan
Eldor Shomurodov memasuki Piala Dunia sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Uzbekistan dengan 43 gol. Penyerang karismatik ini menginspirasi negaranya meraih kualifikasi pertama dalam sejarah dengan menyumbang lima gol dan empat asis selama babak kualifikasi Asia.
Sebagai ujung tombak, ia memberikan titik fokus kuat di lini depan. Dengan tinggi 1,9 meter, ia menjadi ancaman konstan dalam duel udara maupun penyelesaian akhir jarak dekat. Kepindahannya senilai 19 juta euro ke AS Roma pada musim panas 2021 menjadi momen penting dalam kariernya.
Selama tiga musim di Italia yang juga diwarnai masa peminjaman ke Spezia dan Cagliari, ia mencetak 13 gol dan mengasah kecerdasan taktisnya. Kini bersama Istanbul Basaksehir, Shomurodov telah mengoleksi 17 gol di semua kompetisi musim ini dan datang ke Piala Dunia dengan momentum positif.
10. Jordan Bos (23 tahun) – Australia
Dalam sistem taktik Tony Popovic, sisi kiri merupakan jalur transisi penting antara pertahanan dan serangan, dan di posisi inilah Jordan Bos berkembang menjadi figur krusial. Bek kiri ini telah mencatat 23 penampilan internasional dengan dua gol dan dua asis. Ia menawarkan fleksibilitas taktis karena mampu bermain sebagai bek sayap ketika Australia beralih ke formasi tiga bek.
Selama bermain di Feyenoord, Bos berkembang menjadi aset penting dalam membangun serangan dari lini belakang. Ia dikenal karena ketenangan saat berada di bawah tekanan, kemampuan memecah garis pertahanan pertama lawan, umpan silang yang akurat, serta tembakan jarak jauh yang berbahaya.
Kombinasi antara ketenangan dalam penguasaan bola, dorongan menyerang, dan disiplin bertahan menjadikannya pemain yang siap meninggalkan jejak di Piala Dunia 2026.