Xavi Hernandez, potensi besar sebagai pelatih. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Madrid, Spanyol
Xavi bersyukur sempat bermain bersama sosok pemain terbaik sepanjang masa yang tidak akan pernah ada duanya tersebut.
Xavi Hernandez tidak pernah canggung menunjukkan kekagumannya terhadap sosok Lionel Messi yang pernah berbagi kejayaan bersamanya di Camp Nou. Namun, komentar terbarunya kali ini benar-benar melambungkan nama kapten Argentina tersebut ke level keagungan olahraga yang berbeda.
Saat membandingkan dampak Messi dengan Michael Jordan, legenda bola basket dunia yang membawa Chicago Bulls merajai kompetisi NBA pada dekade 1990-an, Xavi menilai eks rekannya di Barcelona tersebut telah melampaui semua rivalnya. Ia merasa La Pulga berdiri sendiri sebagai pemain terbaik sepanjang masa.
Meski kini telah menginjak usia 38 tahun, Messi tetap menunjukkan performa yang luar biasa. Terbukti, ia memborong seluruh gol kemenangan Argentina saat mengalahkan Aljazair 3-0 pada laga perdana Grup J di Kansas City Stadium, Rabu (17/6/2026).
"Saya suka menyebutnya sebagai Michael Jordan dalam sepak bola. Di jagat sepak bola, tidak ada satu pun pemain yang bisa dibandingkan dengan dirinya karena dia telah melampaui para pemain hebat masa lalu berkat umur panjang kariernya," kata Xavi dikutip dari The Athletic.
"Dia secara konsisten mampu menjadi yang terbaik selama 20 tahun terakhir. Bahkan sekarang, setelah sekian lama, dia masih masuk ke lapangan dan membuktikan kehebatan serta mentalitas luar biasa itu kepada kita."
"Bagi saya, aspek mental itulah yang paling membedakan dirinya dengan pemain lain karena Messi adalah sosok yang sama sekali tidak bisa menerima kekalahan. Dia memiliki temperamen yang sempurna untuk sepak bola serta kondisi fisik yang memang dirancang khusus untuk olahraga ini."
Terlepas dari tiga gol yang dicetak ke gawang Aljazair, Xavi melihat sisi lain dari Messi dalam skuad Argentina. Menurutnya, eks pilar Paris Saint-Germain tersebut membawa pengaruh yang luar biasa sehingga mendapat hormat tinggi dari rekan-rekannya.
"Lupakan sejenak gol-gol yang diia cetak ke gawang Aljazair, lalu lihatlah bagaimana pengaruh permainannya secara menyeluruh beserta kondisi fisik yang prima. Perhatikan dorongan dan ambisi murni yang dia bawa ke dalam pertandingan karena dia memiliki mentalitas seorang juara yang tidak akan pernah bisa ditandingi," ucapnya.
Aksi memukau tersebut membuat Xavi mengaku masih sering dibuat takjub oleh kemampuan Messi. Padahal, jebolan La Masia tersebut umurnya sudah tidak muda lagi.
“Saya langsung mengirim pesan kepada Leo setelah pertandingan melawan Aljazair selesai. Saya katakan kepadanya bahwa apa yang dia lakukan sungguh tidak masuk akal, hingga saya hanya bisa tertawa saat melihat aksinya,” ungkapnya.
“Itu adalah sebuah kegilaan yang nyata di atas lapangan. Namun, begitulah Leo karena dia selalu mampu muncul dan menjadi pembeda pada momen yang tepat, sehingga bagi saya sosok dirinya benar-benar tidak tertandingi oleh siapa pun. Dia tidak sebanding dengan pemain lain di dunia. Permainannya bahkan hampir tidak seperti manusia," ia melanjutkan.
Selain itu, Xavi menilai kejeniusan Messi tidak hanya bertumpu pada keunggulan fisik. Kehebatan sang megabintang justru berakar kuat pada pemahaman serta kecerdasannya yang mendalam dalam membaca situasi pertandingan.
Xavi menjelaskan bagaimana Messi menggunakan teknik memindai lapangan untuk mendominasi pergerakan lawan saat bertanding. Pemain yang identik dengan nomor 10 tersebut sering kali terlihat hanya berjalan kaki, padahal sedang memetakan seluruh lapangan untuk mendeteksi kelemahan lini bertahan musuh.
“Gol pertamanya ke gawang Aljazair adalah murni mencerminkan gaya bermain Leo yang sangat cerdas. Ketika Rodrigo De Paul melihat ke depan, Leo sudah berdiri di posisi yang paling sempurna untuk menerima umpan sebelum akhirnya dia menengok ke belakang sebanyak tiga kali.”
“Tindakan itulah yang menjadi salah satu rahasia terbesarnya karena dia konstan melihat dan menilai ruang serta situasi yang ada di sekelilingnya. Semua informasi pertandingan sudah terekam di dalam kepalanya, sehingga sering kali dia hanya berjalan kaki sembari mengamati seluruh pergerakan.”
“Saat rekan setimnya mengalirkan bola, dia sibuk menghitung apa yang akan dilakukan gelandang bertahan dan bek tengah lawan untuk mencari ruang kosong. Kami dulu sering melakukan latihan asah mental di Barcelona yang menuntut pemain mencari ruang kosong, dan Leo adalah master mutlak dalam sesi latihan tersebut.”
“Saya tidak melebih-lebihkan saat mengatakan bahwa ia bisa bermain sama baiknya di posisi Iniesta, Busquets, Puyol, atau bahkan posisi saya. Dia mampu melakukan segalanya dengan kualitas yang setara dengan para pemain terbaik di setiap posisi tersebut.”
“Hal yang sama masih terbukti benar hingga hari ini karena saya sudah bisa melihat bakat luar biasanya sejak dia berusia 16 tahun. Saya merasa sangat bersyukur bisa bermain bersama Leo dan berada di era sejarah yang sama dengannya, sebab saya tidak percaya kita akan pernah melihat lagi seorang pesepak bola seperti dirinya di masa depan.”