Lamine Yamal diyakini pulih cedera tepat waktu sehingga bisa dibawa Spanyol ke Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Atalanta, Amerika Serikat
Winger Timnas Spanyol, Lamine Yamal, menilai perjalanan kariernya masih sangat panjang dan ia yakin masih bisa menjadi pemain yang jauh lebih baik.
Lamine Yamal akhirnya "pecah telur". Bintang muda Timnas Spanyol ini berhasil mencetak gol perdananya di Piala Dunia pada Minggu waktu setempat atau Senin (22/6/2026) dini hari WIB.
Yamal mencetak gol pembuka Spanyol ke gawang Arab Saudi menit ke-10 memanfaatkan asis Mikel Oyarzabal. Gol yang menginspirasi pemain La Roja lainnya sehingga berhasil menang besar 4-0 dalam laga matchday kedua Grup H Piala Dunia 2026 itu.
Namun, demi menjaga kebugarannya, pelatih Luis de la Fuente hanya memainkannya pada babak pertama. Babak kedua Yamal digantikan oleh Ferran Tores.
Sebelum laga lawan Arab Saudi, Yamal memang sempat menegaskan bahwa publik belum menyaksikan seluruh kemampuan terbaik yang ia miliki.
Meski sudah menjadi salah satu pemain muda paling bersinar di dunia sepak bola, winger berusia 18 tahun itu merasa masih memiliki ruang yang sangat besar untuk berkembang dan terus meningkatkan kualitas permainannya.
Dalam wawancara dengan harian El Pais, Yamal mengaku tidak ingin cepat berpuas diri dengan pencapaian yang sudah diraihnya di usia muda. Menurut pemain Barcelona tersebut, perjalanan kariernya masih sangat panjang dan ia yakin masih bisa menjadi pemain yang jauh lebih baik.
"Saya melihat diri saya jauh lebih baik daripada apa yang dilihat orang-orang. Saya tahu jalan yang harus saya tempuh masih sangat panjang dan masih banyak hal yang perlu saya tingkatkan," ujar Yamal.
Ia sempat mengalami masalah cedera menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026. Maka itu, Yamal tidak terlalu diforsir oleh pelatih Luis de la Fuente dalam dua laga perdana. Pada laga pembuka menghadapi Tanjung Hijau, Yamal hanya tampil 20 menit sebagai pemain pengganti.
Meski banyak orang menilai dirinya sudah berada di level tertinggi, Yamal justru menolak anggapan tersebut. Ia menilai kepercayaan diri yang dimilikinya bukan berarti merasa sudah sempurna, melainkan menjadi modal untuk terus berkembang.
"Saya tahu orang-orang melihat saya seolah-olah inilah level saya dan hanya sampai di sini. Namun saya bisa memanfaatkan rasa percaya diri yang saya miliki untuk banyak hal," ucapnya.
"Saya tegaskan lagi, perjalanan saya masih panjang, masih banyak yang harus saya perbaiki. Dan masih banyak, banyak, banyak lagi sepak bola yang bisa saya tampilkan," Yamal menambahkan.
Dalam wawancara tersebut, Yamal juga berbicara mengenai sosok Lionel Messi yang menjadi sosok anutannya. Menurutnya, sangat sulit membayangkan dirinya mampu tetap bermain di level tertinggi hingga usia 40 tahun seperti yang dilakukan kapten Argentina tersebut.
"Mustahil. Bagi saya, Messi adalah pemain terbaik dan dia terus membuktikannya. Dia memiliki keunggulan dibandingkan semua pemain lain, dan sekarang usianya sudah 40 tahun," katanya.
Yamal kemudian mengenang masa kecilnya saat mulai mengenal sepak bola. Ia mengatakan dirinya tumbuh dengan bermain sepak bola di jalanan, pengalaman yang menurutnya memberi kebebasan untuk berkreasi dan menikmati permainan.
Ia menilai banyak pemain muda saat ini justru terlalu cepat masuk ke akademi atau klub sejak usia sangat dini sehingga lebih banyak menerima instruksi taktis daripada belajar menikmati sepak bola secara alami.
"Masalah yang saya lihat pada para pemain muda sekarang adalah mereka bergabung dengan tim sepak bola sejak usia empat tahun. Di dalam tim, mereka langsung diberi tahu: 'Bek sayap harus mengontrol bola lalu mengoperkannya kepada pemain sayap, pemain sayap harus mengontrol bola lalu mengoperkannya kepada gelandang.'"
Menurut Yamal, pendekatan seperti itu berpotensi mengurangi kreativitas pemain karena mereka lebih fokus mengikuti pola permainan dibandingkan mengembangkan insting dan kemampuan individu.
Ta[i, di balik popularitas yang diraihnya, Yamal mengaku ketenaran sejak usia 13 tahun juga membawa konsekuensi yang tidak ringan. Ia kehilangan banyak momen sederhana yang biasa dinikmati remaja seusianya.
"Menjadi terkenal sejak usia 13 tahun ada harganya. Saya tidak bisa lagi melakukan hal-hal biasa seperti pergi berbelanja atau menonton film di bioskop karena saya selalu dikenali orang."
Meski demikian, Yamal tampaknya menerima konsekuensi tersebut sebagai bagian dari perjalanan kariernya.
Dengan usia yang masih sangat muda, ia tetap bertekad terus berkembang dan membuktikan bahwa kemampuan terbaiknya bersama Spanyol maupun Barcelona masih akan terlihat pada tahun-tahun mendatang.