TVRInews - Boston, Amerika Serikat

Saat ini, Olise tetap berkomitmen tampil maksimal di sektor sayap demi membawa negaranya melaju jauh pada Piala Dunia 2026.

Meskipun sukses memukau para penggemar lewat aksi mematikan di posisi sayap kanan baik untuk klub maupun tim nasional Prancis, Michael Olise membuat pengakuan yang cukup mengejutkan. Ia secara jujur menyebut hatinya justru tertambat pada peran bermain yang lebih sentral di dalam lapangan.

Raksasa Jerman, Bayern Munchen, telah sangat bergantung pada produktivitas luar biasa Olise sejak beberapa musim terakhir. Manajemen klub menebusnya dengan mahar senilai 53 juta euro atau sekitar Rp1,1 triliun dari Crystal Palace pada bursa transfer Juli 2024.

Olise sejauh ini telah mencatatkan total 107 pertandingan bersama Die Roten. Dari jumlah laga tersebut, ia sukses menyumbang torehan impresif berupa 42 gol dan 54 asis.

Kendati tampil tajam di sektor sayap, bintang berusia 24 tahun itu merasa bisa lebih maksimal lagi kemampuannya bila berubah posisi. Ia membeberkan sebenarnya jauh lebih memilih untuk bertugas mengatur ritme permainan dari posisi lini tengah.

"Di mana posisi yang membuat saya merasa paling nyaman? Saya pikir itu adalah sebagai pemain nomor 10. Peran tersebut terasa jauh lebih bebas bagi saya pribadi untuk bergerak. Saya tumbuh besar dengan bermain sebagai pemain nomor 10, sehingga posisi itu terasa jauh lebih natural bagi saya," kata Olise dikutip dari L'Equipe.

"Mungkin hal tersebut tidak berlaku untuk saat ini, karena sekarang saya memang sedang dimainkan di posisi sayap. Namun, saya pikir posisi tengah itulah yang terasa paling alami bagi diri saya," Olise melanjutkan.

Keberhasilan Olise berkembang menjadi salah satu penyerang sayap paling sulit ditebak di seantero Eropa tidak terjadi secara instan lewat akademi. Alih-alih melalui gemblengan taktik yang kaku, ia justru mengaitkan gaya mainnya yang penuh bakat alami itu dengan masa kecilnya.

Masa kecil Olise dihabiskan untuk bermain dalam pertandingan jalanan yang tidak terorganisasi bersama sang kakak. Hal tersebut yang dinilai membentuk insting menusuk serta kemampuan olah bola unik yang kini menjadi senjata utamanya.

"Saya bisa bilang kemampuan ini berasal dari sepak bola jalanan. Kami sering bermain di luar rumah bersama saudara laki-laki saya, menendang bola ke dinding, melakukan duel satu lawan satu, dan semua hal seperti itu," ungkapnya.

"Saya rasa itu adalah jenis sepak bola yang berbeda, tetapi cara tersebut jelas merupakan sebuah proses untuk belajar," ia menambahkan.

Fondasi dari permainan bebas tanpa batasan itu yang tetap menjadi inti dari cara Olise dalam memandang sepak bola hingga hari ini. Bahkan di level tertinggi sekali pun, baik saat bersinar di Bundesliga maupun ketika menjadi bintang di Piala Dunia 2026, ia selalu berusaha mempertahankan antusiasme masa mudanya.

Hal itu Olise demonstrasikan dengan merancang dua umpan matang saat Prancis menang 3-1 atas Senegal pada laga pembuka Grup I Piala Dunia 2026. Ia selalu berusaha menghindari kekakuan dari tuntutan taktik yang mengekang kebebasannya dalam berkreasi.

"Sepak bola, dalam kondisi jalanan seperti itu, hanyalah sebuah kebebasan murni. Itu bukan merupakan proses belajar dalam arti yang ketat. Saya hanya sangat menikmati bermain sepak bola karena saya mencintainya secara apa adanya, polos dan sederhana. Saya rasa semua orang juga menyukai hal tersebut ketika mereka masih berusia muda," tuturnya.

Terlepas dari preferensi pribadinya tersebut, Olise tampaknya masih akan tetap diplot oleh pelatih untuk mengisi sektor sayap luar dalam beberapa waktu ke depan. Ia sekarang memilih fokus membantu Prancis menghadapi Irak dan Norwegia guna mengamankan status juara grup di Piala Dunia 2026.