TVRINews - Dallas, Amerika Serikat

Lionel Scaloni menilai kontribusi Lionel Messi tidak hanya terlihat dari dua golnya, tetapi juga dari kerja kerasnya membantu tim ketika Argentina sedang berada dalam tekanan.

Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, mengaku mulai merasa lelah karena terus-menerus harus menjawab pertanyaan mengenai rekor demi rekor yang diukir kaptennya, Lionel Messi. 

Hal itu disampaikannya setelah Messi mencetak dua gol dalam kemenangan 2-0 atas Austria pada laga kedua Grup J Piala Dunia 2026 di Dallas Stadium, Senin (22/6/2026) waktu setempat atau Selasa (23/6/2026) dini hari WIB.

Dua gol yang dicetak penyerang Inter Miami tersebut membuat koleksi golnya di Piala Dunia menjadi 18. Catatan itu melampaui rekor 16 gol milik Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Dunia putra, sekaligus melewati rekor 17 gol striker timnas putri Brasil, Marta di turnamen Piala Dunia secara keseluruhan (putra dan putri).

Dengan demikian, Messi kini menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.

Scaloni menilai kontribusi Messi tidak hanya terlihat dari dua gol yang dicetaknya, tetapi juga dari kerja kerasnya membantu tim ketika Argentina sedang berada dalam tekanan.

"Ketika tim sedang mengalami masa sulit tanpa bola, dia bekerja keras, dia berhasil merebut bola. Anda bisa melihat tingkat komitmennya," kata Scaloni mengenai mantan rekan setimnya di Piala Dunia 2006 itu, dikutip dari Reuters.

"Ada alasan untuk itu, dia memiliki komitmen dan itulah yang dia berikan kepada tim. Saya sudah tidak punya kata-kata lagi untuk membicarakan Leo. Kami bahkan sedikit lelah karena harus terus membicarakannya setiap saat," ia menambahkan.

Messi sebenarnya sempat gagal mengeksekusi penalti pada menit kedelapan setelah wasit Amin Omar meninjau tayangan VAR. Namun, ia berhasil membuka keunggulan Argentina pada menit ke-38. Gol tersebut memastikan dirinya melewati rekor Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.

Meski hanya unggul satu gol dalam sebagian besar pertandingan, Argentina relatif mampu mengendalikan situasi. Kiper Emiliano "Emi" Martinez hanya dipaksa melakukan satu penyelamatan penting sebelum Messi memastikan kemenangan lewat gol keduanya pada menit kelima masa tambahan waktu.

"Pertandingan ini memang rumit," ujar Scaloni mengenai perlawanan tim asuhan Ralf Rangnick. "Pada akhirnya kami memiliki ketenangan yang kami butuhkan. Saya sangat senang dengan penampilan Leo, dia kembali mencetak gol ketika kami sedang menderita."

"Hari ini tim memang menderita. Pada beberapa momen mereka menyulitkan kami dan kami tidak menguasai bola. Kami tahu bagaimana cara menderita dan itu adalah sesuatu yang patut dipuji sebagai sebuah tim," kata Scaloni.

"Tim ini tahu bagaimana harus bersikap dalam setiap situasi. Lawan kami memiliki banyak pemain bertubuh tinggi yang memberikan tantangan. Tidak ada yang mengira pertandingan ini akan mudah. Dua pertandingan yang kami jalani sejauh ini sama-sama rumit," ucapnya.

Kemenangan beruntun di Grup J memastikan Argentina lolos ke babak gugur. Meski demikian, Scaloni menilai persaingan menuju gelar juara masih sangat terbuka.

"Piala Dunia ini tidak ada hubungannya dengan siapa yang menjadi favorit atau siapa pemain yang dimiliki sebuah tim nasional. Ada banyak faktor lain yang berperan, seperti tingkat kebugaran dan aspek emosional," ujar Scaloni.

"Ada begitu banyak tim yang bisa menjadi juara, salah satu tim besar akan memenangkannya. Kami akan berada di sana, kami akan menjadi salah satu penantang, tetapi akan sangat sulit menghadapi tim-tim besar itu," ia meambahkan.

"Namun, mereka juga akan kesulitan ketika menghadapi kami," Scaloni menuturkan.

Rangnick Pertanyakan Gol Pertama

Sementara di kubu Austria, pelatih Ralf Rangnick mengakui kehebatan Messi, tetapi mempertanyakan keabsahan gol pertama Argentina. Menurutnya, sebelum gol tercipta terjadi pelanggaran terhadap Xaver Schlager yang seharusnya ditinjau ulang oleh wasit melalui VAR.

"Untuk gol pertama, saya berharap ofisial keempat melakukan hal yang sama seperti saat sebelum penalti, yaitu meminta wasit melihat tayangan ulang. Dia pasti akan melihat apa yang dilihat semua orang, yaitu adanya pelanggaran terhadap Xaver Schlager," kata Rangnick.

"Itu memang menjengkelkan. Namun secara keseluruhan saya puas dengan tim saya dan saya setuju dengan cara mereka bermain hari ini."

Rangnick juga mengakui bahwa hampir mustahil membungkam Messi sepanjang pertandingan. "Ini Lionel Messi," katanya. "Dia tidak membutuhkan banyak peluang untuk menentukan hasil pertandingan."

"Jika seseorang berusia 39 tahun dan bisa mencetak dua gol serta sudah mengoleksi lima gol di awal Piala Dunia, itu jelas membuat perbedaan," ujar Rangnick.

"Kami tahu dia berada di levelnya sendiri dan Lionel Messi menunjukkan bahwa dia adalah salah satu yang terbaik, atau bahkan yang terbaik. Tetapi saya rasa kami sendiri ikut berperan dalam terciptanya gol kedua, itu memang kesalahan kami."

Austria sebelumnya meraih kemenangan 3-1 atas Yordania dan masih memiliki peluang lolos ke babak 16 besar saat menghadapi Aljazair pada laga terakhir fase grup. Meski kalah, Rangnick tetap puas dengan performa anak asuhnya.

"Dalam setiap pertandingan Piala Dunia selalu ada fase ketika salah satu tim memiliki momentum. Kami sempat memiliki momentum itu, mereka gagal mengeksekusi penalti dan setelah itu kami benar-benar berada dalam pertandingan," ujar Rangnick.

"Saya berharap para pemain saya lebih berani melepaskan tembakan pada babak kedua. Kami menguasai bola dan saya rasa banyak orang tidak menyangka kami bisa menguasai permainan sebesar itu. Saya pikir pada babak kedua kami menampilkan performa yang sangat bagus," ia menambahkan.