TVRINews – Roma, Italia

Skuad Jerman Barat mampu memenangi Piala Dunia 1990 berkat mengombinasikan disiplin—yang menjadi ciri khas negara itu—dengan pendekatan modern dan dinamis.

Tim nasional Jerman Barat (kini Jerman) di Piala Dunia 1990 akan diingat sebagai salah satu skuad paling komplet dan seimbang dalam sejarah sepak bola dunia.

Dilatih oleh Franz Beckenbauer, tim ini menaklukkan dunia di turnamen yang digelar di Italia, untuk memastikan gelar Piala Dunia ketiganya. Kombinasi antara kemampuan, organisasi, dan faktor emosional membuat Die Mannschaft—julukan timnas Jerman—tidak terhentikan. 

Berikut ulasan bagaimana Jerman Barat merebut gelar di Italia ‘90, dari sisi struktur tim dan kekuatan taktis hingga kemenangan emosional atas Argentina di laga final. 

Jalan Menuju Italia ‘90

Era akhir 1980-an menjadi periode sangat penting dalam sepak bola Jerman. Usai kalah menyakitkan di final Piala Dunia 1986, Beckenbauer membangun kembali tim dengan visi yang sangat jelas. 

Kapten dan bintang Jerman saat mengangkat Piala Dunia 1974 itu ingin memadukan disiplin khas Jerman dengan pendekatan modern dan dinamis.

Di kualifikasi, Jerman Barat berhasil menguasai grup dengan kepercayaan diri tinggi. Mereka menunjukkan serangan yang intens tetapi juga mengontrol pertahanan. Jerman Barat memanfaatkan kualifikasi untuk berlatih mengatur ritme yang akan dibawa ke Italia. 

Dengan nama-nama yang lantas melegenda seperti Lothar Matthaus, Rudi Voller, dan Jurgen Klinsmann, timnas Jerman Barat berangkat ke Italia dengan membawa bakat dan rasa lapar untuk pembalasan.

Skuad Piala Dunia Jerman Barat 1990, Sekilas Materi Pemain

Skuad Jerman Barat di Piala Dunia 1990 merupakan kombinasi ideal antara pemain muda dengan yang berpengalaman. Setiap pemain berkontribusi untuk upaya kolektif, dari kiper Bodo Illgner sampai sang kapten Lothar Matthaus.

Kiper:

  • Bodo Illgner (1. FC Koeln)
  • Andreas Kopke (Hertha BSC)
  • Raimond Aumann (FC Bayern Munchen)

Illgner menjadi kiper pertama yang mampu membuat clean sheet di final Piala Dunia sejak 1974, mematri reputasinya sebagai salah satu kiper hebat di Italia ’90.

Bek:

  • Andreas Brehme (FC Internazionale)
  • Klaus Augenthaler (FC Bayern Munchen)
  • Guido Buchwald (VfB Stuttgart)
  • Thomas Berthold (AS Roma)
  • Hans Pflugler (FC Bayern Munchen)
  • Stefan Reuter (FC Bayern Munchen)

Gaya pertahanan Beckenbauer adalah kombinasi antara kekuatan dan keserbagunaan. Akurasi tinggi kaki kiri Brehme menjadi krusial sementara Buchwald dan Augenthaler mengendalikan lini belakang dengan sangat baik dan efektif sekaligus tanpa kompromi.

Gelandang:

  • Lothar Matthaus (FC Internazionale, kapten)
  • Pierre Littbarski (1. FC Koeln)
  • Thomas Haessler (1. FC Koeln)
  • Olaf Thon (FC Bayern Munchen)
  • Uwe Bein (Eintracht Frankfurt)
  • Andreas Moller (Borussia Dortmund)

Sektor gelandang menjadi mesin tim Jerman Barat. Matthaeus tengah di puncak performa, mengatur tempo dan menginspirasi skuad dengan kepemimpinan dan gol-golnya.

Littbarski dan Haessler mampu menambah tenaga mesin tim dengan kreativitasnya di lini tengah. Adapun Thon menambah kepercayaan diri para gelandang dengan kemampuannya menjadi penyeimbang saat bertahan.

Penyerang:

  • Rudi Voller (AS Roma)
  • Jurgen Klinsmann (VfB Stuttgart)
  • Karl-Heinz Riedle (Werder Bremen)
  • Frank Mill (Borussia Dortmund)

Voller dan Klinsmann menjadi salah satu duet penyerang paling berbahaya di dunia. Saling pengertian dan kemampuan penyelesaian akhir keduanya terbukti menjadi penentu keberhasilan Jerman Barat memenangi laga-laga penting.

Semangat Tim dan Kepemimpinan

Apa yang disiapkan sejak awal dari tim ini adalah kesatuan. Seluruh pemain memiliki tujuan yang sama, menebus kekalahan pada 1986 dan mengembalikan harga diri dan kebanggaan Jerman. 

Sebagai kapten pemenang Piala Dunia 1974, Franz Beckenbauer jelas tahu dan paham benar bagaimana cara menginspirasi keyakinan untuk menang. 

Matthaus memimpin di depan, baik sebagai kapten maupun gelandang pencetak gol. Profesionalismenya mampu mengangkat performa tim. Setiap pemain, baik starting XI maupun yang berada di bangku cadangan, bermain untuk tujuan dan alasan yang sama. 

Pendekatan Taktik

Sistem taktik Jerman Barat saat itu adalah menggabungkan pengorganisasian pertahanan dengan transisi cepat. Beckenbauer kerap memakai formasi 3-5-2 yang bisa berganti dengan cepat menjadi 5-3-2 ketika bertahan. 

Rapinya organisasi pertahanan dan kecepatan transisi ini memungkinkan bagi kedua wing-back seperti Reuter (kanan) dan Brehme (kiri) untuk mendukung serangan namun tetap mempertahankan pendekatan keseimbangan.

Lini tengah mengontrol penguasaan bola, sementara kemampuan Matthaus berlari ke depan mematahkan garis permainan lawan. Saat menyerang, pergerakan dari Klinsmann dan Voller yang piawai mencari posisi terbukti mampu menciptakan ancaman yang konstan. Keseimbangan antara pertahanan dan serangan ini merupakan contoh sempurna efisiensi dalam sepak bola. 

Performa di Fase Grup

Berada di Grup D bersama dengan Yugoslavia, Kolombia, dan Uni Emirat Arab (UEA), Jerman Barat mampu membuat awalan yang kuat.

Die Mannschaft membuka turnamen dengan memukul Yugoslavia, 4-1, dan Matthaus membuat brace. Permainan timnas Jerman Barat yang begitu cair mengundang decak kagum para penggemar dan analis. 

Kemenangan 5-1 atas UEA menunjukkan betapa dominannya serangan Jerman Barat. Kolombia berhasil menahan permainan efektif Jerman Barat dengan skor 1-1 di laga terakhir grup. Namun, itu sudah cukup bagi Die Mannschaft untuk menguasai grup. 

Brilian di Babak Gugur

Di babak 16 besar, Jerman Barat menghadapi musuh bebuyutan mereka, Belanda, yang menciptakan pertandingan keras. Insiden antara Voller dan Frank Rijkaard memang meningkatkan tensi laga. Namun, gol dari Klinsmann berhasil membuat Jerman Barat menang, 2-1.

Di perempat final melawan Cekoslowakia menjadi laga berat. Satu gol dari Matthaus lewat titik penalti memastikan Jerman Barat melaju. Semifinal melawan Inggris menjadi salah satu pertandingan paling dramatis dalam sejarah Piala Dunia.

Setelah imbang 1-1, pertandingan dilanjutkan adu penalti. Jerman Barat harus menahan napas sebelum memastikan kemenangan 4-3 dalam adu penalti. Pembawaan menenangkan dari Beckenbauer di sisi lapangan dan kekuatan mental tim, menjadi pembeda di laga itu.

Final Melawan Argentina

Pertandingan final Piala Dunia 1990 di Stadio Olimpico, Roma, Italia, pada 8 Juli 1990 merupakan laga ulangan final 1986. Namun kali ini Jerman Barat melakukan persiapan lebih baik. 

Argentina yang masih dipimpin Diego Maradona, bermain lebih bertahan seraya berharap anak-anak asuhan Beckenbauer frustrasi. Kesabaran Jerman Barat akhirnya terbayar. Pada menit ke-85, Brehme menyelesaikan tugas penalti dengan baik menyusul pelanggaran yang diterima Voller.

Skor 1-0 untuk Jerman Barat bertahan sampai wasit asal Meksiko, Edgardo Codesal, meniup peluit tanda berakhirnya laga final. Jerman Barat pun merebut gelar Piala Dunia ketiganya (setelah 1954 dan 1974). Kemenangan itu melambangkan disiplin, ketahanan, dan kebanggaan nasional.

Dampak dan Warisan

Kemenangan di Piala Dunia tahun 1990 memiliki makna emosional yang mendalam. Pasalnya, kesuksesan itu terjadi hanya beberapa bulan sebelum reunifikasi Jerman, menjadikannya kemenangan terakhir bangsa itu memakai nama Jerman Barat. 

Kemenangan tim nasional Jerman Barat di Piala Dunia 1990 tersebut melambangkan persatuan dan pembaruan nasional.

Beckenbauer menjadi orang pertama yang memenangi Piala Dunia baik sebagai kapten maupun manajer. Matthaus memenangi penghargaan Pemain Terbaik Dunia FIFA pada tahun 1991, sebagai pengakuan atas kepemimpinannya yang luar biasa. 

Kesuksesan tim ini memengaruhi generasi demi generasi. Disiplin taktis, kerja sama tim, dan profesionalisme menetapkan standar baru bagi sepak bola Jerman.

Pemain Kunci dan Perannya 

Matthaus adalah jantung dari turnamen ini. Penampilannya menginspirasi rekan setim dan penggemar. Lima golnya, termasuk lari menakjubkan dari lini tengah, mendefinisikan gaya permainan Jerman Barat. 

Ketenangan Brehme di bawah tekanan, terutama penalti penentu kemenangannya, menunjukkan keandalan Jerman. Kemitraan Voller dan Klinsmann melambangkan sepak bola menyerang modern. 

Guido Buchwald, yang dikenal karena penjagaannya terhadap Maradona di final, menjadi pahlawan karena penampilannya yang defensif.

Pengaruh pada Sepak Bola Jerman Modern

Skuad Piala Dunia Jerman Barat 1990 meletakkan dasar bagi generasi mendatang. Profesionalisme mereka memengaruhi gelombang bintang berikutnya, dari era Michael Ballack hingga Philipp Lahm.

Kemenangan Jerman pada Piala Dunia 2014 di Brasil menggemakan banyak prinsip tim 1990—organisasi, kekuatan mental, dan identitas kolektif.