Jens Castrop, berharap bisa bantu keragaman di dalam tim Korsel. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Monchengladbach, Jerman
Jens Castrop bicara soal menjadi pemain blasteran kelahiran luar negeri pertama di Timnas Korea Selatan.
Jens Castrop menghadirkan sensasi khusus baru di Timnas Korea Selatan tahun lalu. Sang pemain berusia 22 tahun itu memilih memperkuat timnas senior Korsel setelah bertahun-tahun bermain di timnas kelompok umur Jerman antara U-16 sampai U-21.
Keputusan setelah spekulasi selama bertahun-tahun itu dipastikan dengan izin FIFA pada 11 Agustus 2025. Jens Castrop, berayah Jerman dan beribu Korea, lalu membuat debut di Korsel pada 6 September. Ia masuk sebagai pengganti dalam uji coba Taegeuk Warriors melawan Amerika Serikat di New Jersey.
Jens Castrop pun menjadi pemain blasteran kedua di Timnas Korea setelah Jang Dae-il pada akhir 1990-an. Namun, Castrop yang lahir di Dusseldorf menjadi pemain kelahiran luar negeri pertama di Korea.
Pemain yang bisa menempati posisi gelandang atau bek kanan ini menarik perhatian Asosiasi Sepak Bola Korea pada 2023. Saat itu, Korsel ditangani Jurgen Klinsmann. Penerus pelatih asal Jerman itu, Hong Myung-bo, meneruskan pembicaraan soal kemungkinan Castrop memperkuat Taegeuk Warriors. Saat itu, eks binaan akademi Fortuna Dusseldorf dan Koln itu bermain di divisi 2 Bundesliga memperkuat Nurnberg.
Kepindahannya ke Borussia Monchengladbach pada musim panas 2025 memberikan debut di divisi teratas Bundesliga buat Jens Castrop. Sang pemain akhirnya memutuskan untuk berganti paspor dan memberi tahu Hong Myung-bo mengenai kesiapannya membela Korsel.
Hingga kini, Jens Castrop sudah membukukan 5 kap di Korsel. Kansnya untuk tampil di Piala Dunia 2026 tampak cukup besar.
Berikut ini petikan wawancara Jens Castrop dengan situs FIFA. Castrop menuangkan pendapatnya mengenai pengalaman di Jerman dan makna menjadi orang Korea.
Pelatih Borussia Monchengladbach, Eugen Polanski, memiliki reputasi sebagai pelatih yang menggemari pengembangan. Apa rasanya bekerja bersamanya?
Itu hanya salah satu dari banyak kelebihan dirinya. Ia memberikan kami kepercayaan diri, memberi tahu kekuatan-kekuatan kami, dan percaya kepada kami. Bagaimana pemain-pemain muda bisa sangat berkembang, ialah dengan membiarkan mereka bermain, membuat kesalahan, dan tidak memberikan hukuman. Bagi pemain-pemain muda, hal-hal itu merupakan berkah.
Berdasarkan pengalaman Anda di Jerman sejauh ini, apa satu karakteristik unik yang membawa Anda ke Timnas Korea Selatan?
Lesatan maju progresif. Saya rasa gaya saya agak berbeda dibandingkan kebanyakan gelandang atau bek sayap. Saya dapat menggiring bola ke depan dan membuat serangan, tapi juga bertahan dan membantu tim menjaga ada lima pemain di belakang. Saya dilatih untuk memainkan banyak posisi, melalui penyesuaian dengan beragam kualitas individual. Itulah mengapa saya nyaman dengan dribel. Saya rasa stamina saya bagus dan saya punya kecepatan tinggi. Jadi, bila ada ruang, saya tahu lawan akan sulit mengejar saya. Kalau ada ruang di depan, saya akan menyerang.
Apakah peran Anda di lapangan berubah di bawah arahan pelatih Korea, Hong Myung-bo?
Tergantung lawannya. Tergantung pada apakah kami memainkan empat atau lima pemain di belakang. Ia berbicara dengan pemain secara pribadi soal apa yang perlu dicermati, dan itu penting dalam permainan saat ini. Hong membuatnya mudah bagi saya di timnas. Kami berbincang enak sebelum semuanya diumumkan (tentang keputusan bermain untuk Korea). Itu adalah panggilan pertama saya dan ia membuatnya senyaman mungkin bagi saya. Saya sangat bersyukur karenanya.
Siapa rekan setim di Timnas Korea yang paling membantu Anda saat pertama kali masuk kamp pada September?
Saya bisa bilang seluruh isi tim. Setiap pemain membantu saya dan ramah terhadap saya. Saya rasa seluruh tim bisa berbicara dengan bahasa Inggris yang bagus. Beberapa juga bisa ngomong bahasa Jerman. Sonny dan (Lee) Jae-sung fasih bahasa Inggris dan Jerman. Saya berhasrat banget belajar bahasa Korea saat ini. Saya belajar selama sejam, empat atau lima kali setiap minggu. Saya pikir panggilan berikutnya akan lebih mudah buat saya.
Kehadiran Anda dalam sepak bola Korea dapat mematahkan batasan-batasan dan membantu menormalkan keragaman budaya di Korea. Apa makna menjadi orang Korea bagi Anda?
Saat bertumbuh besar, saya selalu tahu bahwa saya bukan orang Jerman biasa seperti anak-anak lain di dalam kelas. Saya selalu tahu bahwa setidaknya saya setengah Korea. Itu berada dalam karakter diri yang saya lihat setiap hari saat mengatasi situasi-situasi tertentu. Saya sedikit berbeda dibandingkan dengan anak-anak Jerman tulen. Saya selalu tahu saya anak Korea. Seperti yang Anda katakan tentang mematahkan batasan untuk Korea yang lebih beragam, itu berlebihan, tapi saya akan melakukan yang terbaik untuk mendukungnya. Saya adalah seorang Korea yang ingin membantu tim dan memperlihatkan bahwa adalah mungkin untuk berganti negara dan menjadi bagian dari Timnas Korea.
Akan seperti apa maknanya bagi Anda membela Korea di Piala Dunia?
Akan berarti sangat besar, saya bahkan tak mau membicarakannya [tertawa]. Saya mencoba santai sehingga dapat menampilkan permainan terbaik. Saya mencintai setiap orang yang mendukung saya, terutama orang-orang Korea yang merasakan situasi serupa dengan saya. Saya akan memberikan yang terbaik untuk bisa menyajikan permainan terbaik di sini, di Monchengladbach, dan semoga di laga-laga Timnas Korea berikutnya.