TVRINews - Los Angeles, Amerika Serikat

Peluang Timnas Amerika Serikat untuk lolos dari fase grup tidak akan mudah, khususnya melihat performa mereka belakangan ini.

Piala Dunia 2026 harusnya menjadi momentum bagi Timnas Amerika Serikat. Setelah 32 tahun silam sejak terakhir kali menjadi tuan rumah pada Piala Dunia 1994, Amerika Serikat kini kembali menjadi tuan rumah pesta sepak bola dunia.

Cukup banyak alasan bagi Timnas Amerika Serikat untuk optimistis. Pertama, The Stars and Stripes di tangan pelatih berpengalaman yaitu Mauricio Pochettino. Timnas Negeri Paman Sam ini juga memiliki sejumlah pemain bintang seperti Christian Pulisic atau Weston McKennie.

Dan, banyak yang menilai bahwa faktor terbesar adalah status mereka sebagai tuan rumah. Tapi, bermain di rumah sendiri kini justru memberikan efek psikologis yang masih menjadi tanda tanya besar. Jika sebelumnya ini menjadi keuntungan, bukan tidak mungkin dalam waktu singkat bisa menjadi tekanan besar.

Itu bisa terjadi jika di awal-awal pertandingan Timnas Amerika Serikat tidak meraih hasil yang diharapkan. Tekanan suporter, pemberitaan pers, dan sejarah masa lalu bisa memengaruhi performa tim.

Ya, untuk tim yang masih berusaha untuk berada di jajaran tim elite sepak bola dunia, mengatasi semua tekanan tersebut bisa menjadi sangat krusial. Bahkan, skenario terburuk dari situasi Timnas Amerika Serikat saat ini adalah mengakhiri fase grup di peringkat ketiga atau keempat.

Di Piala Dunia 2026 ini, Timnas Amerika Serikat berada di Grup D bersama Paraguai, Australia, dan Turki. Di atas kertas, melihat deretan lawan-lawan tersebut, Christian Pulisic dan kawan-kawan memiliki peluang untuk lolos.

Namun, selain peluang tersebut, kegagalan lebih cepat dalam hal ini tersingkir lebih cepat bisa dialami The Stars and Stripes. Bermain di rumah sendiri memang seharusnya membuat mereka mendapatkan dukungan fans yang sangat kuat. Namun, dengan situasi saat ini, mampukah mereka mengatasi tekanan dari kekuatan tiga lawan-lawan mereka di Grup D?

Paraguai datang ke Piala Dunia 2026 ini dengan membawa identitas mereka yang sama, sepak bola dengan kekuatan fisik serta pertahanan mereka yang terorganisasi. Austrlia dikenal sebagai tim yang disiplin dan tidak mudah ditaklukkan.

Sementara itu, Timnas Turki akan membawa skuad yang kaya akan Teknik dari sisi kualitas, serangan mereka juga seringkali sulit diduga. Dari ketiga lawan ini, memang tidak ada satu pun yang favorit di antara yang lain tapi memberikan tantangan yang berbeda, khususnya bagi Timnas Amerika Serikat yang belum konsisten.

Jelang Piala Dunia 2026 yang tinggal dua bulan lagi, Timnas Amerika Serikat memang tidak meyakinkan. Dalam dua laga uji coba terakhir, hasilnya mengecewakan. Mereka kalah 2-5 dari Belgia lalu ditekuk Portugal 0-2. Ironisnya, semua itu terjadi dalam status mereka sebagai tuan rumah.

Performa di dua laga yang kurang meyakinkan itu pula yang membuat sejumlah tokoh sepak bola Amerika Serikat ragu. Ya, mereka melihat ada keyakinan bisa saja pasukan Mauricio Pochettino lolos dari fase grup, namun seberapa besar peluang itu.

Pertandingan pertama Timnas Amerika Serikat adalah menghadapi Paraguai pada 12 Juni 2026. Setelah itu, mereka akan menghadapi Australia, dan pertandingan terakhir mereka menghadapi Timnas Turki.

Tantangan tersebut, menurut Tim Howard saat diskusi dalam podcast Landon Donovan yang juga mantan bintang Timnas Amerika Serikat, Minggu (12/4/2026) lalu.

"Mereka akan melewati fase grup dengan mudah. Namun, sepak bola terus berkembang dan negara-negara yang dulunya dianggap lemah kini memiliki potensi mencapai semifinal. Maroko contohnya," kata Tim Howard, kiper Timnas Amerika 2002-2017.

Karena itu, menurut Tim Howard, seharusnya jangan terlalu percaya diri. "Karena Paraguai adalah lawan yang tangguh, mereka sangat mengandalkan fisik. Australia bisa menjadi kejutan seperti di Piala Dunia 2022. Turki memiliki pemain-pemain bintang di skuad mereka," kata pria yang kini berusia 47 tahun tersebut dan telah tampil dalam 121 laga untuk The Stars and Stripes.

Dengan demikian pula, Tim Howard tidak mau terlalu muluk dalam memprediksi langkah Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 2026 ini. Setidaknya, mencapai perempat final di Piala Dunia 2026 ini menjadi pencapaian terbaik dari situasi Timnas Amerika Serikat saat ini. Terakhir kali Amerika Serikat berhasil ke perempat final adalah di Piala Dunia 2002, langkah mereka terhenti setelah kalah dari Jerman.

Tapi, kemungkinan terburuk dengan performa pasukan Mauricio Pochettino adalah terhenti di fase grup. Jika itu yang terjadi, tentu saja menjadi pencapaian yang buruk, apalagi dengan mempertimbangkan bahwa mereka berstatus sebagai tuan rumah.

Bintang Timnas Amerika Serikat, Christian Pulisic.

Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi



Kemungkinan Tantangan di Fase Grup

Ancaman terbesar bagi Amerika Serikat adalah awal yang lambat di laga pertama. Ini bisa menciptakan tekanan bagi pasukan Mauricio Pochettino. Jika mereka tertinggal lebih dulu di laga lawan Paraguai, yang akan terjadi adalah mereka akan bermain berorientasi kepada hasil yang membuat mereka tidak tampil lebih tenang.

Kekhawatiran lain dari Timnas Amerika Serikat saat ini adalah kondisi pertahanan yang tidak stabil. Menghadapi tim seperti Turki, kelengahan bisa berakibat fatal. Pertahanan juga menjadi perhatian dalam menghadapi kekuatan fisik yang akan diperlihatkan Paraguai serta kekuatan bola-bola mati Timnas Australia, dalam hal ini bola-bola tendangan sudut.

Meski Australia di atas kertas boleh jadi di bawah Paraguai atau Turki, namun Socceroos memiliki cara untuk mencetak gol. Seperti ketika mengalahkan Timnas Indonesia, 20 Maret 2025 lalu, satu gol Lewis Miller di menit ke-61 tercipta setelah memanfaatkan sepak pojok.

Gol Jackson Irvine ke gawang Indonesia juga diciptakan dengan tandukan memanfaatkan tendangan sudut. Atau gol Kye Rowles yang juga mencetak gol dari tendangan sudut dalam kemenangan 2-0 atas Lebanon.

Jika Amerika Serikat gagal mengontrol penguasaan bola dan tempo permainan, pertandingan bisa mengarah kepada duel kondisi fisik yang menguntungkan lawan seperti Paraguay dan Australia. Dalam situasi seperti itu, skuad Amerika Serikat berisiko kehilangan identitas permainannya, menjadi tim yang hanya reaktif ketimbang lebih dulu melakukan tekanan atau proaktif.

Christian Pulisic Masih Paceklik Gol

Persoalan tersebut juga ditambah dengan performa Christian Pulisic yang justru semakin menurun. Idealnya, Christian Pulisic dapat memberikan pesan lewat performa terbaiknya bersama AC Milan. Namun, bintang 27 tahun ini justru mengalami paceklik gol.

Dalam laga akhir pekan ini, AC Milan kalah telak dari Udinese dalam lanjutan Liga Italia 2025-2026. I Rossoneri kalah 0-3. Dalam laga tersebut, Christian Pulisic tampil dalam 73 menit, namun untukk kesekian kalinya dia bermain di bawah performa terbaiknya.

Dengan laga tersebut, berarti pula Christian Pulisic memperpanjang kebuntuannya dalam mencetak gol bersama AC Milan menjadi total 14 pertandingan Liga Italia secara beruntun. Ini tentu bukan situasi yang ideal untuk menatap Piala Dunia 2026 yang tinggal dua bulan lagi.