TVRINews - Ottawa, Kanada

Kanada baginya adalah perjodohan sempurna karena keramahan warganya yang membuatnya menemukan jati diri.

Kehidupan berbeda yang sama-sama memikat dijalani Jesse Marsch dengan penuh ketekunan. Pertama menjadi nakhoda tim nasional Kanada yang bersiap menghadapi Piala Dunia 2026 di rumah sendiri, lainnya menikmati mentari Italia sebagai petani zaitun dan penggemar berat olahraga bocce. 

Marsch sampai membangun lapangan bocce pribadi di halaman rumahnya agar bisa menyalurkan hobi barunya tersebut secara maksimal. Vila idaman miliknya dahulu merupakan penginapan yang terletak hanya 30 menit dari Menara Pisa, bahkan tempat yang ikonik itu bisa terlihat jelas dari balkon pegunungannya saat cuaca cerah. 

Dua anjing pug kesayangannya setia mengikutinya setiap saat. Marsch bangun pagi-pagi sekali untuk merawat kebun sebelum mengalihkan fokus sepenuhnya untuk menganalisa strategi yang dipakainya untuk meracik skuad Kanada.

Tampaknya Marsch telah menemukan keseimbangan hidup dan kerja yang sempurna di masa tuanya ini. Namun, garis takdir pria berusia 52 tahun ini bisa saja melenceng jauh seandainya peristiwa setelah ia meninggalkan Leeds United pada Februari 2023 berjalan ke arah yang berbeda.

Selepas hengkang dari Elland Road, Marsch sebenarnya hanya terpaut hitungan jam dari kursi pelatih Leicester City. Saat ia sudah berada di fasilitas latihan The Foxes untuk merampungkan segala urusan, sebuah telepon mengejutkan datang dari Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (USSF) yang mengubah segalanya.

Hari itu 8 April 2023, Marsch sedang mengurus dokumen untuk menggantikan posisi Brendan Rodgers yang sudah di tangan. Ia pun harus membuat permohonan maaf yang terburu-buru demi membatalkan komitmen menonton laga kandang Leicester, padahal dirinya baru saja melangkah masuk ke gedung dengan ekspektasi akan mendampingi direktur olahraga ke stadion.

Marsch percaya penuh posisi pelatih Amerika Serikat untuk menggantikan Gregg Berhalter sudah terjamin, itulah alasan kuat yang membuatnya melepas kesempatan di Leicester begitu saja. Akan tetapi, para petinggi USSF tiba-tiba berubah pikiran dengan menunjuk kembali Berhalter, sebelum akhirnya memberikan jabatan tersebut kepada Mauricio Pochettino pada September 2024.

"Saya ditelepon pihak sepak bola Amerika Serikat saat sedang menjalani proses pengambilan sidik jari untuk visa di Leicester. Momen itu benar-benar mengubah seluruh lintasan hidup saya, namun saya percaya segala sesuatu terjadi karena suatu alasan dan saya sangat bahagia dengan posisi saya sekarang," kenang Marsch.

"Segala urusan dengan Leicester sebenarnya sudah disepakati dan orang-orang di sana sangat luar biasa, sehingga saya merasa sangat tidak enak hati karena harus membatalkan komitmen secara mendadak. Dalam kehidupan lain, melatih Leicester pasti akan menjadi pengalaman yang sangat keren, tetapi takdir berkata lain bagi karier saya."

"Pihak Amerika Serikat sempat menyatakan dengan sangat jelas bahwa saya akan menjadi pelatih mereka, namun tak lama kemudian mereka menyatakan hal yang sebaliknya. Saat itu saya merasa hancur dan marah, tetapi sekarang saya justru bersyukur karena bisa berada di tempat yang sangat tepat bagi saya."

Kegagalan menjadi juru formasi Amerika Serikat ternyata tidak sepenuh buruk. Marsch akhirnya menemukan pelabuhan baru dengan datang ke Kanada dan mengaku membuatnya merasa telah menemukan tim, basis penggemar, serta negara yang sejalan dengan jati diri dan prinsip yang diyakininya.

Selain itu, Marsch juga menegaskan tidak bermaksud meremehkan Amerika Serikat, namun menilai negara tersebut terlalu besar dengan banyak lingkaran pengaruh serta ego dari pihak-pihak yang ingin berkuasa. Sebaliknya, ia melihat Kanada sebagai negara yang lebih tenang dengan struktur yang lebih sederhana, sehingga muncul keinginan yang lebih kuat dari semua pihak untuk bekerja sama secara nyata.

Lebih lanjut, Marsch menjelaskan tidak merasa perlu bersikap kaku atau tampil seperti sosok bos besar, karena lebih nyaman bekerja dalam sebuah tim sebagai pemimpin sekaligus rekan kerja. Ia menilai profil sepak bola Kanada serta kebutuhan pengembangan olahraga di negara tersebut sangat selaras dengan fase kehidupan yang sedang dijalani saat ini.

Setelah menolak Leicester dan batal melatih Amerika Serikat, Marsch sempat mengambil waktu istirahat selama satu tahun untuk menimbang semua pilihan secara saksama. Ia sebenarnya sempat mendapatkan tawaran menggiurkan untuk melatih klub di Tiongkok maupun Arab Saudi.

Pada Agustus 2023, Kanada kehilangan pelatih John Herdman yang sekarang melatih Timnas Indonesia dan menunjuk asistennya sebagai pelatih interim sembari mencari sosok pengganti yang tepat. Nama Marsch kemudian muncul sebagai kandidat utama dalam proses seleksi yang dipimpin langsung oleh CEO baru Canada Soccer, Kevin Blue.

"Saya sempat berdiskusi singkat dengan pihak Kanada beberapa bulan sebelum bertemu Kevin Blue, namun saat itu saya belum menganggap tawaran tersebut secara serius. Begitu Kevin menjabat, saya mendengar dia ingin berbicara dengan saya dan saya mendengar bahwa dia adalah sosok yang sangat kompeten," ujarnya.

"Saat melakukan panggilan zoom dengannya dari Italia, saya langsung melihat bahwa Kevin memiliki ketajaman bisnis dan visi yang jelas tentang cara membangun sebuah tim. Ia tahu cara menggalang dana dan merekrut orang yang tepat, hal itulah yang membuat saya sadar bahwa proyek ini adalah apa yang selama ini saya cari."

"Jika setelah meninggalkan Leeds Anda berkata saya akan melatih Kanada, saya pasti tidak akan mempercayainya. Namun, pekerjaan ini memenuhi semua kriteria saya: mulai dari kepemimpinan yang baik hingga kumpulan pemain yang mampu memainkan gaya sepak bola agresif."

"Ada faktor 'X' lainnya, yaitu kebanggaan mewakili negara ini karena saya selalu menyukai karakter orang-orang Kanada yang dikenal ramah dan baik hati. Sebagai orang yang berasal dari Wisconsin, sifat orang Kanada sangat beresonansi dengan jati diri saya, sehingga kerja sama ini terasa seperti perjodohan yang sempurna."

Sebelum memantapkan hati, Marsch sempat berkonsultasi dengan mentornya, Ralf Rangnick, serta berdiskusi dengan Gareth Southgate mengenai suka duka melatih sebuah tim nasional. Turnamen kompetitif pertamanya adalah Copa America 2024, di mana ia secara impresif membawa Kanada melaju hingga babak semifinal.

Pada final Nations League 2025, Kanada sukses menumbangkan Amerika Serikat dengan skor 2-1 untuk mengunci posisi ketiga lewat gol kemenangan dari Jonathan David. Banyak yang mengira Marsch merasakan kepuasan ekstra setelah sempat mengaku tidak diperlakukan dengan baik oleh federasi AS, namun ia justru tidak terlalu menikmati momen menghadapi negaranya sendiri.

"Saya tidak suka bermain melawan Amerika Serikat karena perhatian orang-orang akan selalu tertuju pada hubungan pribadi saya dengan federasi mereka daripada jalannya laga. Saya sudah melupakan masa lalu itu dan tetap tulus ingin melihat sepak bola Amerika Serikat meraih kesuksesan di masa depan," tegas Marsch.

Kanada kini menatap partisipasi ketiga mereka di Piala Dunia dan tergabung di Grup B bersama tim kuat Swis, Qatar, serta Bosnia dan Herzegovina. Les Rouges dipersenjatai bintang papan atas seperti Jonathan David dan Alphonso Davies yang merumput di Eropa.

Format baru Piala Dunia 2026 dengan 32 dari 48 tim akan melaju ke babak gugur, staf pelatih Kanada merasa sangat percaya diri untuk melangkah lebih jauh. Hanya saja, Marsch yang selalu ambisius menetapkan target yang jauh lebih tinggi daripada sekadar lolos dari fase grup.

"Kami ingin menjuarai grup ini. Bagi negara yang belum pernah meraih satu poin pun di sejarah Piala Dunia, ini mungkin terdengar gila, tetapi kami berekspektasi untuk menjadi agresor saat bermain di rumah sendiri."

"Target ini tetap sama sejak sebelum pengundian dilakukan, karena dengan menjuarai grup, kami bisa terus bertanding di wilayah Kanada tanpa harus berpindah. Jika kami hanya menempati posisi kedua atau ketiga, maka kami harus terbang ke Amerika Serikat untuk melakoni laga babak gugur."

Marsch mengaku menempati grup tersebut tidak mudah dan sempat berkelakar Amerika Serikat mendapatkan grup yang jauh lebih ringan dibandingkan grupnya. Ia sangat menghormati pelatih Swis, Murat Yakin, serta mewaspadai Qatar yang kini ditangani oleh sosok kelas dunia Julen Lopetegui.

Dikenal ramah karena gaya manajemennya yang mudah bergaul dan terlibat langsung, kemampuan Marsch mulai diasah Bob Bradley di tim nasional Amerika Serikat. Ia juga pernah bermain di bawah asuhan Bradley di Princeton dan menganggap sosok asal Amerika Serikat itu sebagai mentor pertamanya.

Marsch adalah bagian dari staf Bradley di Piala Dunia 2010, Afrika Selatan ketika Amerika Serikat bermain imbang 1-1 dengan Inggris, dan kemudian secara sensasional memenangkan grup mereka berkat gol Landon Donovan di menit-menit terakhir melawan Aljazair. Kekalahan tipis 2-1 di babak perpanjangan waktu melawan Gana terjadi di babak 16 besar.

"Saya bisa melihat melalui kecerdasannya, idenya tentang sepak bola dan bagaimana dia mendorong daya saing, bahwa dia berbeda. Dan, sungguh, saya ingin masuk Princeton hanya agar bisa bermain untuk Bob Bradley, yang merupakan pernyataan, mengingat apa yang diwakili Princeton. Dia adalah pengaruh besar pertama dalam hidup saya."

Setelah Piala Dunia 2010, Marsch mulai menapaki karier kepelatihannya dengan menangani Montreal Impact sebelum bergabung dalam jaringan Red Bull. Ia lebih dulu dipercaya sebagai pelatih New York Red Bulls, dengan sukses mempersembahkan gelar Supporters’ Shield pada 2015 dan 2018.

Perjalanan kariernya kemudian berlanjut ke Eropa dengan menangani Red Bull Salzburg dan RB Leipzig. Bersama Salzburg, Marsch tampil impresif untuk meraih gelar ganda, Liga Austria dan Piala Austria secara beruntun pada musim 2019/20 dan 2020/21. Ia juga mencicipi atmosfer kompetisi elite Eropa, Liga Champions yang menjadi pengalaman penting dalam perjalanan kepelatihannya.

Marsch kemudian tiba di Elland Road pada Februari 2022, hanya dua bulan setelah meninggalkan Leipzig. Ia menggantikan Marcelo Bielsa yang dipecat, saat Leeds hanya berjarak dua poin dari zona degradasi.

Akhirnya Marsch menyelamatkan Leeds dari degradasi pada hari terakhir musim 2021/22 berkat kemenangan 2-1 yang tak terlupakan di Brentford. Gol kemenangan Jack Harrison di waktu tambahan memastikan Leeds selamat dan mengirim Burnley terdegradasi dengan cara yang dramatis.

Kini, Marsch menukangi Kanada yang belum pernah mendapatkan poin selama berpartisipasi di Piala Dunia. Kenyataan tersebut yang coba diperbaikinya saat turnamen bergengsi empat tahunan tersebut mulai berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli mendatang.