TVRINews - London, Inggris

Generasi Timnas Inggris seangkatan Gareth Barry dipenuhi pemain kelas dunia macam David Beckham, Steven Gerrard, Frank Lampard, Paul Scholes, Michael Owen, dan Wayne Rooney.

Legenda Timnas Inggris, Gareth Barry, menjadi salah satu pemain yang merasakan langsung besarnya ekspektasi terhadap Timnas Inggris di era yang kerap disebut sebagai “Generasi Emas”. 

Dalam sebuah wawancara eksklusif dikutip dari FourFourTwo, ia mengakui bahwa perjalanan karier internasionalnya bersama The Three Lions tidak selalu berjalan mulus dan bahkan sering diwarnai rasa frustrasi.

Barry mencatatkan 53 penampilan bersama Inggris serta sempat terlibat dalam berbagai fase penting di tim nasional. Generasi seangkatannya yang muncul menjelang Piala Dunia 2002 di Korea selatan-Jepang memang dipenuhi pemain kelas dunia, seperti David Beckham, Steven Gerrard, Frank Lampard, Paul Scholes, dan Michael Owen. 

Kehadiran Wayne Rooney yang bersinar pada Piala Eropa 2004 di Portugal saat masih remaja, makin menegaskan bahwa Timnas Inggris memiliki kualitas individu untuk meraih gelar besar, baik Piala Eropa maupun Piala Dunia.

Namun, kenyataannya jauh dari harapan. Tim bertabur bintang ini gagal tampil sebagai satu kesatuan solid di bawah pelatih sekelas Sven-Goran Eriksson dan Fabio Capello. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa skuad Golden Generation ini kerap dikritik hingga sekarang.

Barry pun mengungkapkan penyesalannya. “Saya adalah salah satu dari banyak pemain Timnas Inggris di era itu yang menyesal karena tidak memenangkan apa pun,” ujarnya. Ia kemudian menjelaskan bagaimana kariernya bersama Inggris berjalan tidak konsisten. 

“Seluruh karier saya di Tim Nasional Inggris sedikit tersendat,” kata Barry, yang melakukan debut bersama The Three Lions di bawah pelatih Kevin Keegan menjelang Piala Eropa 2000 di Belgia-Belanda. 

“Melakukan debut pada usia 19 tahun tetapi hanya memiliki delapan caps saat memasuki pertengahan usia 20-an adalah hal yang juga membuat saya frustrasi,” ia menambahkan.

Pada awal karier internasionalnya, Barry bahkan tidak mendapatkan kesempatan bermain di turnamen besar dan posisinya di lapangan sering dipindah-pindahkan. 

Ia pernah dimainkan di berbagai peran, dari sayap kanan hingga bek kiri. Sedangkan posisi aslinya yang membuatnya nyaman adalah sebagai gelandang bertahan.

“Saya pikir itu juga mencerminkan situasi saya klub Aston Villa saat itu, menjadi pemain yang serbabisa dan bermain di berbagai posisi," pria yang kini berusia 45 tahun itu menuturkan. 

"Tetapi saya tidak boleh menyesali semuanya, karena saya juga sudah menjalani perjalanan yang hebat dan pada akhirnya berhasil mencatatkan lebih dari 50 caps untuk Timnas Inggris,” Barry menegaskan.

Meski tidak masuk dalam skuad Piala Dunia 2002 di Korea Selatan-Jepang dan 2006 di Jerman serta Piala Eropa 2004 di Portugal, Barry tetap menjadi bagian dari tim yang gagal lolos ke Piala Eropa 2008 di Austria-Swis. 

Ia akhirnya merasakan tampil di turnamen besar pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, meski perjalanan Inggris harus berakhir lebih cepat setelah dikalahkan Jerman 1-4 pada babak 16 besar.

Pengalaman Barry menggambarkan satu dekade penuh kekecewaan bagi sepak bola Inggris, ketika deretan pemain berbakat tidak mampu mengubah potensi besar menjadi trofi juara.