TVRINews - Doha, Qatar

Menggantikan Ronaldo dengan penyerang yang lebih muda memang berarti mengorbankan pengalaman dan ketajaman dalam penyelesaian akhir. Namun di sisi lain, hal itu efeketif.

Cristiano Ronaldo harus menerima kenyataan memulai dari bangku cadangan dalam dua laga terakhir Piala Dunia 2022 bersama Portugal, yakni saat melawan Swis dan Maroko. Situasi ini mengejutkan banyak pihak, mengingat statusnya sebagai salah satu pesepak bola terbaik sepanjang masa.

Namun dalam dua pertandingan penting tersebut, Ronaldo tidak mampu mengamankan tempat di susunan pemain inti. Penyerang berusia 37 tahun itu juga mengalami situasi serupa di level klub bersama Manchester United pada musim yang sama, yang akhirnya berujung pada kepergiannya dari Old Trafford pada bulan November.

Kondisi ini membuat Ronaldo harus mencari klub baru hingga akhirnya berlabuh di Al Nassr. Meski demikian, keputusan pelatih Portugal untuk mencadangkannya tentu memiliki alasan kuat.

Dikutip dari FourFourTwo, Ronaldo dicadangkan untuk pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2022 melawan Swis. Alasannya pelatih Fernando Santos mengaku tidak senang dengan reaksi sang penyerang saat ditarik keluar dalam kekalahan fase grup melawan Korea Selatan.

Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) kemudian mengeluarkan bantahan resmi terhadap laporan yang menyebutkan bahwa pemain berjulukan CR7 itu mengancam akan meninggalkan tim nasional setelah kehilangan tempat sebagai starter.

Selain faktor sikap, usia juga menjadi pertimbangan penting. Di usia 37 tahun, Ronaldo tidak lagi memiliki mobilitas seperti pada masa puncaknya. Hal ini menyulitkan tim untuk menerapkan strategi tekanan tinggi ketika ia menjadi ujung tombak. 

Ia juga cenderung membutuhkan waktu pemulihan lebih lama di antara fase serangan, sesuatu yang kurang cocok dengan gaya permainan cepat dalam sepak bola modern.

Situasi ini juga terlihat saat ia masih bermain di Manchester United di bawah asuhan Erik ten Hag. Sang pelatih tersebut lebih memilih pemain yang mampu menjaga intensitas tinggi sepanjang pertandingan.

Menggantikan Ronaldo dengan penyerang yang lebih muda memang berarti mengorbankan pengalaman dan ketajaman dalam penyelesaian akhir. Namun di sisi lain, hal itu memungkinkan seluruh tim bermain dengan tempo lebih cepat dan dinamis.

Keputusan tersebut terbukti efektif saat Portugal menghadapi Swis. Mereka menang telak 6-1, dengan pengganti Ronaldo, Goncalo Ramos, mencetak tiga gol. Sementara itu, Ronaldo yang masuk sebagai pemain pengganti tidak berhasil mencetak gol.

Namun, situasi berbeda terjadi di perempat final melawan Maroko. Portugal justru kesulitan meski Ronaldo masuk pada menit ke-50 saat timnya tertinggal 0-1. Sayangnya, kehadirannya tidak cukup untuk membalikkan keadaan.