Sergej Barbarez, pelatih Timnas Bosnia dan Herzegovina sejak 19 April 2024. Menariknya, saat ditunjuk Barbarez tidak memiliki pengalaman melatih klub atau timnas mana pun, baik level junior maupun senior. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina
Sergey Barbarez memulai revolusi Timnas Bosnia dan Herzegovina dengan pendekatan berbeda. Ia membangun tim berbasis generasi baru dan diaspora.
Banyak yang menyebut penunjukan Sergej Barbarez pada 19 April 2024 adalah langkah nekat. Tanpa rekam jejak melatih di level klub maupun tim nasional mana pun, Barbarez memikul beban berat memimpin skuad Bosnia dan Herzegovina yang sedang hancur secara mental dan prestasi.
Namun, kurang dari dua tahun kemudian, keputusan itu kini terlihat berbeda, Bosnia dan Herzegovina berhasil kembali ke panggung dunia dengan lolos ke Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, sebuah pencapaian yang mengakhiri penantian panjang sejak lolos pada Piala Dunia 2014 di Brasil.
Puncak dari "era baru" ini terjadi pada malam dramatis 31 Maret 2026 di Stadion Bilino Polje, Zenica. Dalam laga final play-off kualifikasi Piala Dunia 2026, Bosnia dan Herzegovina tidak gentar menghadapi raksasa Italia.
Kemenangan adu penalti 4-1 (skor laga 1-1) tidak hanya menyingkirkan Italia, tapi juga memastikan Bosnia dan Herzegovina lolos ke Piala Dunia kedua mereka sepanjang sejarah.
Keberhasilan itu tidak datang secara instan. Ia berakar dari fase awal yang penuh keraguan, termasuk laga debut Barbarez melawan Inggris di Saint James Park dalam laga uji coba. Saat itu Bosnia dan Herzegovina memang kalah 0-3, tapi hasil bukanlah fokus utama Barbarez.
Sang pelatih justru menanam fondasi yang lebih dalam, yakni membangun kembali identitas, kebanggaan, dan hubungan emosional antara Timnas Bosnia dan Herzegovina dengan pendukungnya.
Selama lebih dari 40 hari pertama menjabat, Barbarez tampil di berbagai media Bosnia dan Herzegovina tanpa henti. Ia tidak menolak wawancara dan selalu menjawab semua pertanyaan dengan terbuka. Baginya, pekerjaan terpenting di awal bukan sekadar taktik atau hasil pertandingan.
“Tentu saja hasil itu penting, tapi saat ini kami ingin memanfaatkan pertandingan-pertandingan uji coba berkualitas seperti melawan Inggris. Ini untuk mengubah cara pandang terhadap tim nasional," ujar Barbarez dikutip dari The Guardian.
"Kami ingin tim ini kembali sukses dan dihormati, tetapi lebih dari itu, kami ingin kembali dicintai. Timnas Bosnia dan Herzegovina selama beberapa tahun sebelumnya telah kehilangan arti dan daya tariknya bagi pemain maupun penggemar," ia menambahkan.
"Bermain untuk tim nasional sudah kehilangan status istimewanya. Kami ingin para pemain kembali merasa bangga dan bersemangat membela negara. Itu langkah pertama,” kata pelatih berusia 54 tahun itu.
Ucapan itu kini terasa seperti cetak biru dari kebangkitan Bosnia. Sebelum era Barbarez, tim ini mengalami penurunan drastis. Dari peringkat ke-13 dunia pada 2013 hingga terlempar jauh dari papan atas, mereka gagal lolos ke turnamen besar sejak tampil di Piala Dunia 2014.
Ketidakstabilan federasi di bawah Vico Zeljkovic dengan pergantian pelatih yang cepat, makin memperburuk situasi. Di luar lapangan, konflik politik dan isu internal juga menambah tekanan. Sepak bola Bosnia saat itu berada dalam atmosfer yang tidak sehat.
Revolusi Barbarez Libatkan Pemain Diaspora
Barbarez memulai revolusi dengan pendekatan berbeda. Ia membangun tim berbasis generasi baru dan diaspora. Kapten veteran Edin Dzeko tetap menjadi simbol kontinuitas, sementara pemain muda seperti Anel Ahmedhodzic, Benjamin Tahirovic, dan Denis Huseinbasic menjadi fondasi masa depan.
Sebagian besar pemain, terutama diaspora, bahkan tidak berkembang di liga domestik Bosnia dan Herzegovina. Namun, bagi Barbarez, hal itu bukan masalah. Identitas nasional, menurutnya, tidak ditentukan oleh tempat bermain, melainkan oleh rasa memiliki.
“Kami punya rencana, kami punya ide, dan tim saya percaya akan hal itu. Bermain melawan tim-tim terbaik Eropa bukan masalah, justru tantangan yang sempurna bagi kami, bagi tim ini, bagi para pemain muda,” Barbarez menuturkan.
Perjalanan Barbarez selama kualifikasi Piala Dunia 2026 menunjukkan konsistensi yang jarang terlihat dalam satu dekade terakhir. Timnya mencatat enam kali menang, tiga seri, dan hanya sekali kalah.
Pencapaian terbesar skuad berjulukan Zmajevi (Para Naga) itu adalah menyingkirkan Wales di semifinal play-off melalui adu penalti (26 Maret 2026) dan menumbangkan tim favorit Italia di final.
Mengenai pola permainan, Barbarez menerapkan pola fleksibel antara 4-2-3-1 dan 4-4-2, bergantung pada kebutuhan transisi cepat yang menjadi senjata mematikan Bosnia.
Kini, dengan tiket Piala Dunia 2026 di tangan dan jadwal Grup B melawan Kanada, Swis, dan Qatar yang menanti di depan mata, misi Barbarez untuk membuat Bosnia dan Herzegovina dicintai lagi telah tercapai.
Ia bukan lagi sekadar mantan kapten legendaris, melainkan juga pelatih yang membangun kembali harapan Bosnia dan Herzegovina dari keputusasaan.
Biodata
Nama: Sergej Barbarez
Kelahiran: Mostar, Bosnia dan Herzegovina, 17 September 1971 (54 tahun)
Karier Bermain:
- Velez Mostar (1989–1991)
- Hannover 96 (1992–1993)
- Union Berlin (1993–1996)
- Hansa Rostock (1996–1998)
- Borussia Dortmund (1998–2000)
- Hamburger SV (2000–2006)
- Bayer Leverkusen (2006–2008)
- Timnas Bosnia-Herzegovina (1998–2006)
Karier sebagai Pelatih:
- Bosnia dan Herzegovina (2024-sekarang)
Prestasi sebagai Pemain:
Hamburger SV
- DFB-Ligapokal (2003)
- Piala Intertoto (2005)
Individual
- Pemain Terbaik Bosnia (2001, 2002, 2003)
- Top-scorer Bundesliga (2000/2001)
Prestasi sebagai Pelatih:
- Membawa Timnas Bosnia dan Herzegovina Lolos ke Piala Dunia 2026