Pesawat jet eksekutif Dassault Falcon 900LX ini mirip dengan model yang digunakan oleh Neymar, bintang sepak bola asal Brasil. (TVRI/Grafis/Jovi Arnanda) Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews – Rio de Janeiro, Brasil
Pesawat jarak jauh yang digunakan Neymar menggabungkan kinerja tinggi, kemampuan untuk menyeberangi samudra tanpa mengisi bahan bakar, dan struktur yang dirancang untuk rutinitas atlet elite.
Nama penyerang sayap milik klub Santos FC, Neymar, tengah ramai diperbincangkan dalam beberapa pekan terakhir menyusul upaya kerasnya untuk bisa kembali memperkuat Tim Nasional Sepak Bola Brasil yang akan turun di Piala Dunia 2026.
Pelatih Timnas Brasil Carlo Ancelotti sepertinya masih bimbang karena kondisi fisik Neymar yang dirasa belum 100 persen. Terakhir, awal bulan April ini, sang pemain sudah melakukan perawatan platelet-rich plasma (PRP) pada lutut kirinya untuk mempercepat penyembuhan jaringan, mengurangi nyeri, dan meremajakan kulit.
Pun begitu, selain upaya kerasnya untuk kembali memperkuat Canarinha, sebagai bintang sepak bola dunia Neymar juga memiliki daya tarik di luar lapangan. Salah satunya adalah pesawat jet terbaru yang biasa dipakainya melakukan perjalanan jarak jauh.
Pesawat baru milik mantan penyerang FC Barcelona, Paris Saint-Germain (PSG), dan Al Hilal itu telah menarik perhatian dalam beberapa hari terakhir karena fitur-fiturnya yang memungkinkan perjalanan antarbenua tanpa perlu berhenti untuk mengisi bahan bakar.
Salah satu keistimewaan pesawat terbaru Neymar, yakni Dassault Falcon 900LX, adalah kemampuan terbang nonstop sejauh hingga 4.750 mil laut atau sekitar 8.800 kilometer.
Kemampuan pesawat ini memungkinkan penggunanya melakukan penerbangan tanpa berhenti antarbenua, seperti antara Amerika Selatan, Eropa, dan Timur Tengah, yang mempersingkat waktu perjalanan dan meningkatkan fleksibilitas jadwal sang pemain.
Dengan kemampuan terbangnya, Dassault Falcon 900LX mampu menghubungkan kota-kota besar seperti London (Inggris) ke Seattle (Amerika Serikat) atau Chicago (Amerika Serikat) ke Jenewa (Swis) tanpa perlu berhenti untuk mengisi bahan bakar.
Karena itu, tidak heran jika pesawat buatan Dassault Aviation asal Prancis ini dikenal sebagai jet berperforma tinggi untuk penerbangan eksekutif.
Pesawat ini dapat mencapai kecepatan maksimal mendekati 1.000 km/jam (tepatnya mach 0,87) dan menonjol karena konfigurasi tiga mesin Honeywell TFE731-60 yang dipakai—jumlah yang kurang umum di segmen ini—dikenal akan performanya yang tinggi dan daya tahan sangat baik.
Dassault Falcon 900LX mampu mengakses bandara dengan landasan pendek dan bandara di dataran tinggi maupun suhu tinggi karena unggul dari sisi kelincahan. Konsumsi bahan bakar pesawat ini diklaim sepertiga lebih hemat dibanding para kompetitornya.
Dengan berbagai teknologi dan fasilitas kabinnya, Dassault Falcon 900LX menawarkan margin keselamatan operasional yang lebih besar dan memungkinkan rute yang lebih langsung melintasi hamparan laut yang luas.
Di pasaran, harga unit baru Dassault Falcon 900LX berkisar antara 40 juta dolar Amerika hingga 45 juta dolar Amerika (sekitar Rp693 miliar sampai Rp779,5 miliar dengan kurs saat ini), dan dapat bervariasi tergantung pada konfigurasi dan tahun pembuatannya.
Jangkauan dan Kinerja Membentuk Logistik Perjalanan
Kemampuan untuk mengoperasikan penerbangan jarak jauh tanpa transit memang menjadi salah satu keunggulan utama Dassault Falcon 900LX. Dalam praktiknya, ini mengurangi total waktu perjalanan dan menghilangkan transit, faktor yang relevan bagi atlet dengan komitmen yang sering antara klub, tim nasional, dan sponsor.
Penggunaan pesawat milik perusahaan juga memungkinkan untuk naik pesawat di terminal eksekutif, mengurangi waktu di darat dan meningkatkan prediktabilitas jadwal.
Secara internal, jet dikonfigurasi untuk membawa antara 12 dan 14 penumpang, dengan ruang yang disesuaikan untuk istirahat, pertemuan, dan hiburan.
Kursi yang dapat diubah menjadi tempat tidur, peredam suara, dan koneksi internet di dalam pesawat adalah fitur umum pada jenis pesawat ini, yang dirancang untuk perjalanan panjang dan pemulihan fisik selama penerbangan.
Membeli jet eksekutif sebesar ini tidak hanya melibatkan biaya awal, tetapi juga biaya berulang seperti perawatan, penyimpanan di hanggar, asuransi, dan awak pesawat.
Dalam kasus atlet tingkat tinggi seperti Neymar, investasi ini biasanya dimasukkan ke dalam manajemen aset, mengingat kebutuhan akan mobilitas konstan dan kendali atas jadwal dan rute.
Di luar urusan logistik, pesawat ini juga memenuhi tuntutan privasi dan keamanan. Tokoh publik dengan popularitas tinggi cenderung memilih penerbangan pribadi untuk mengurangi lalu lintas di area umum bandara dan membatasi akses pihak ketiga.
Kustomisasi prosedur naiknya penumpang ke dalam pesawat (boarding) dan pengurangan jumlah awak kabin berkontribusi pada kontrol ini.